Remah-Remah Kisah

Hidup memang hanyalah perjalanan, pasti ada perhentian. Dalam hidup, banyak selentingan kanan dan kiri yang mungkin mengganggu pikiran kita. Apapun namanya, gangguan adalah gangguan. Dan hal itu sebuah keniscayaan. Akan selalu ada. Akan selalu muncul ke permukaan.

Saya coba menyimak apa-apa yang terjadi belakangan ini. Entah dari skala pribadi hingga bangsa, rasa-rasanya kita selalu butuh satu langkah agak menjauhi masalah sementara waktu, sedemikian rupa, untuk mengamati masalah dari sudut pandang lain yang lebih lebar. Terlalu jenuh dalam pusaran tidak akan membuat orang cepat keluar dari kotak pandora, justru.

Sama halnya ketika kegagalan demi kegagalan menghinggapi kita tanpa pernah kita mengundangnya. Tetapi  bersahabat dengan kegagalan juga bagian dari seni kehidupan. Itu semacam tes kelayakan. Apakah dengan kegagalan manusia lantas jera berusaha atau justru berani mendobrak keterpurukan. Apapun skalanya, pribadi hingga bangsa, sama saja.

Berbagai kisah selalu menuangkan rasa manis, asam, bahkan pahit dalam hidup. Tapi temannya masih berceceran untuk direnungkan. Tidak akan lekang waktu bahkan seringkali mengendap dalam ingatan. Susah dilupakan sebagai tolak ukur pelajaran.

Menyimak diri kita juga secara tidak langsung menyimak bagaimana Tuhan “bekerja” begitu “rumit” menurut ukuran kita dengan segala kompleksitas dan ragam kehidupan yang ada. Semakin ilmu dikuasai manusia, harusnya semakin tunduk ia tahu bahwa kisah-kisahnya hanya akan tertelan liang lahat. Mungkin bersama ulat. Namun remahnya masih menyisakan amalan. Dari kesadaran itulah Mustinya remah-remah tiap kisah yang manusia torehkan kelak bernilai pasca ia “ditelan bumi”. Berkelanjutan sampai waktu tak terbatas. Diserap manfaatnya dan diabadikan dalam karya-karya manusia selanjutnya.

Merenung adalah jembatan kita mengais dan ” menjumputi” remah-remah itu. Apakah kita akan meninggalkan remah yang renyah? Ataukah justru dienyahkan oleh manusia lainnya?

Kisah selalu membawa petuah.

EYR

2 Agustus 2017

Advertisements