Hakikat IPK: Sebuah Refleksi (Lagi)

JZw85iPg6n

Bulan- bulan ke depan akan menjadi bulan menakjubkan karena bulan dimana mahasiswa UGM akan melalui setidaknya dua kali periode wisuda. pascasarjana pada Januari 2016 dan sarjana pada Februari 2016. Tampaknya, statistik IPK akan menjadi sorotan utama. Lagi- lagi saya tergelitik untuk menuangkan tulisan tentang hal ini. Tidak jemu rasanya saya turut membuat pesan bagi diri sendiri dan kawan- kawan pembaca. Rasanya ada saja yang selalu keliru dimaknai soal IPK ini.

Dalam pengamatan dan penyelidikan akadmeik saya selama ini menempuh sarjana dan pascasarjana, IPK haruslah mencerminkan tingkat intelektualitas seseorang. Hanya saja, IPK juga memiliki sifat temporer dimana pengetahuan yang dinilai boleh jadi menurun ketika ia lulus. Masalahnya, jika IPK tinggi,ekspektasi orang pastilah ia memiliki kualitas tak diragukan dalam studinya. Itu sudah hal tentu betul, namun tidak selamanya betul. Mengapa? karena masa ini kita dihadapkan pada tuntutan zaman dimana IPK bukanlah mata uang sempurna. Banyak sudah kisah mereka yang IPK-nya berjaya namun secara emosional dan karir tidak menunjukkan prestasi signifikan. Orang cenderung menyepelekan pengalaman dalam memasuki dunia kerja. Atau alih-alih konsentrasi pada studinya, pengalaman penunjang hidup dilupakan. Taruhlah misalnya bagaimana pengalaman seseorang dalam berkomunikasi, mengatur tim, menghadapi konflik, mengatasi tekanan, setia terhadap target, menghadapi kegagalan, dan hal sejenis tidak diajarkan dalam kurikulum secara langsung. Kemampuan lulusan yang diharapkan ke depan bukanlah lulusan yang pandai “menerima”, tetapi pandai “mencari” atau “menciptakan” ilmu. Agaknya, kita akan menemukan fenomena yang mungkin juga saya hadapi (berdasarkan pengamatan setidaknya 5 tahun ini) bahwa banyak kawan- kawan saya ber-IPK tinggi namun menghadapi kebingungan luar biasa mengisi hidup dan karir.

Lalu bagaimana caranya? kalau metode “ceramah” seperti “ayo berorganisasi”, “ayo ikutlah komunitas”, sudah jenuh rasanya. Tetapi apa daya, itulah realita.Ikutlah. Para pemenang di negeri juga harus mengalami susah payah dengan riset yang tidak dibuat sekedar syarat kelulusan. Aada nyawa dalam risetnya yang menarik orang untuk menjadikannya figur. Jika riset dibuat dengan ketakutan IPK rendah maka ini adalah sumber kekeliruan yang besar. Perguruan tinggi tidak dibentuk untuk menumpuk lembaran kertas riset itu, tetapi menjadikan kita sebagai aktor- aktor inovasi. Ketakutan kita pada IPK rendah dapat berujung pada pemilihan topik riset yang ┬ámudah ditebak (kemudian banyak orang mempertanyakan apa sebenarnya dampak risetnya?) atau jawaban penelitian yang sudah ada (kemudian si pembuat sendiri berpikir apa gunanya meriset? karena meriset haikatnya untuk menyelidiki suatu gejala kemudian menemukan jawaban, bukan jawaban yang dideskripsikan dalam karya riset). Sayang sekali.

Disinilah sekarang kita harus merenung, apa makna studi kita? apakah puas hanya pada selembar ijazah dengan IPK lebih dari 3,5 itu? ataukah kita sedari awal dapat terus menyebarkan inspirasi untuk membantu orang agar bisa ber-IPK tinggi namun jagoan dalam hidup. Saya lebih memilih yang terakhir ini. Anda?