Remah-Remah Kisah

Hidup memang hanyalah perjalanan, pasti ada perhentian. Dalam hidup, banyak selentingan kanan dan kiri yang mungkin mengganggu pikiran kita. Apapun namanya, gangguan adalah gangguan. Dan hal itu sebuah keniscayaan. Akan selalu ada. Akan selalu muncul ke permukaan.

Saya coba menyimak apa-apa yang terjadi belakangan ini. Entah dari skala pribadi hingga bangsa, rasa-rasanya kita selalu butuh satu langkah agak menjauhi masalah sementara waktu, sedemikian rupa, untuk mengamati masalah dari sudut pandang lain yang lebih lebar. Terlalu jenuh dalam pusaran tidak akan membuat orang cepat keluar dari kotak pandora, justru.

Sama halnya ketika kegagalan demi kegagalan menghinggapi kita tanpa pernah kita mengundangnya. Tetapi  bersahabat dengan kegagalan juga bagian dari seni kehidupan. Itu semacam tes kelayakan. Apakah dengan kegagalan manusia lantas jera berusaha atau justru berani mendobrak keterpurukan. Apapun skalanya, pribadi hingga bangsa, sama saja.

Berbagai kisah selalu menuangkan rasa manis, asam, bahkan pahit dalam hidup. Tapi temannya masih berceceran untuk direnungkan. Tidak akan lekang waktu bahkan seringkali mengendap dalam ingatan. Susah dilupakan sebagai tolak ukur pelajaran.

Menyimak diri kita juga secara tidak langsung menyimak bagaimana Tuhan “bekerja” begitu “rumit” menurut ukuran kita dengan segala kompleksitas dan ragam kehidupan yang ada. Semakin ilmu dikuasai manusia, harusnya semakin tunduk ia tahu bahwa kisah-kisahnya hanya akan tertelan liang lahat. Mungkin bersama ulat. Namun remahnya masih menyisakan amalan. Dari kesadaran itulah Mustinya remah-remah tiap kisah yang manusia torehkan kelak bernilai pasca ia “ditelan bumi”. Berkelanjutan sampai waktu tak terbatas. Diserap manfaatnya dan diabadikan dalam karya-karya manusia selanjutnya.

Merenung adalah jembatan kita mengais dan ” menjumputi” remah-remah itu. Apakah kita akan meninggalkan remah yang renyah? Ataukah justru dienyahkan oleh manusia lainnya?

Kisah selalu membawa petuah.

EYR

2 Agustus 2017

Menjaga Api Perjuangan

MENJAGA API PERJUANGAN

Oleh:

Emmy Yuniarti Rusadi

“Berjalanlah hingga lututmu lelah. Berjalanlah menuntut ilmu kemanapun kamu.”

ok

Begitulah sebuah “mantra sakti” yang membuatku tak merasakan sakit dalam menempuh segala uji. Kakiku pernah sobek karena terlalu bersemangat berjalan kaki pada jarak 1 kilometer jalan pintas. Aku bernah berjuang menawar harga ongkos travel malam untuk kembali ke rumah dengan harga Rp7.000,00 saat sang supir bersikeras memintaku Rp15.000,00. Hanya uang itu yang tersisa sebagai uang saku harianku. Terpaksa harus duduk paling akhir dan sekenanya dalam mobil travel menuju ke Magelang itu. Mimpi kesuksesan jauh lebih membuatku berani. Aku harus sampai di rumah segera. Aku pernah terlambat 20 menit ujian karena lamanya menanti bus jalur 5 yang hanya memiliki jumlah armada terbatas dan terbagi menjadi dua jurusan. Waktu 45 menit menantinya tak akan pernah pudar dalam ingatan walaupun kini bus itu sudah tak lagi dapat ditemui. Semacam saksi hidup “punahnya” armada itu.

Menjaga sesuatu agar tak padam. Menjaga nyala semangat agar tak lekang oleh waktu. Tak menyerah oleh hambatan dan ujian. Menjaga api semangat agar dapat mati sebagai orang yang bermanfaat. Terimakasih Allah swt atas kesempatan lahir di dunia ini.

“Memangnya kamu g bisa pakai motor, Emmy?”. Suatu saat pertanyaan ini meluncur padaku, sederhana kujawab , ‘Tidak, sepertinya aku sudah lupa cara menggunakannya.” Terdengar konyol, tetapi itulah kebiasaan yang muncul karena seringnya berjalan kaki dan berkendaraan umum. Motor satu- satunya adalah motor tua tahun 98-an miliki Bapak yang beliau tak mau ganti karena telah banyak berjasa antar- jemput anak- anaknya ke bangku sekolah. Lagipula dengan berjalan kaki dan berkendaraan umum aku lebih mantap menjawab masalah kota, masalah transportasi, atau menjadi pendengar “radio rakyat” secara langsung setiap hari karena bersinggungan langsung dengan masyarakat transportasi. Sebuah panggilan moral untuk juga menebus perjuangan di masa muda agar dapat merasakan kado kejayaan di masa senja.

Aku mulai lupa pada bagaimana rasanya sakit demam. Alhamdulillah aku jarang menggunakan fasilitas medis kampus karena kebiasaan jalan kaki ini. Kebiasaan ini pula yang mendorongku memperhitungkan waktu sekecil- kecilnya. Dan tampak aneh. “Oke, kita bertemu jam 09.10 ya.” atau “Bagaimana kalau kita diskusi jam 15.20 saja?”. Coba perhatikan waktunya, bukan kelipatan lazim 30 menit atau 15 menit, atau malah 60 menit. Salah satu kebiasaan alias habits yang selalu melekat hingga kini. Kelakarku sederhana juga “ Warga Eropa yang maju jarang pakai kendaraan pribadi, jadi jadwalnya pun aneh- aneh. Persiapan yuk ke Eropa. Hahaha”. Spontan semua kawanku bervariasi mengernyitkan dahi atau malah mengamini. Kini semua tampak jelas hasilnya setelah hampir 6 tahun aku berada di dunia kampus.

Menjaga kebiasaan positif memang terlihat menyakitkan di awal, tetapi manis buahnya. Banyak hikmah didapat. Jika tidak sejak dulu belajar naik bus umum, mungkin aku sudah cepat kebingungan jika berada pada daerah yang tak mudah diakses. Tak ada ide naik kendaraan apa. Atau tak berani memulai menulari orang lain cara untuk mengatur waktu perjalanan. Ternyata hidup menyajikan berjuta hikmah dan pelajaran. Ternyata dari hal kecil yang berulang- ulang itulah jiwa kepemimpinan muncul secara natural. Bagaimana aku merasakan perjuangan 15 menit menanti, 30 menit, dan 60 menit, bahkan jika tanpa jam pun dapat menebak jumlah waktu. Adalah sebuah kebenaran bahwa modal Tuhan dalam hidup ini yang tak bias digantikan adalah waktu.

Terimakasih pada waktu yang selalu membisikkan hari untuk menemaniku. Terimakasih pada semua pihak yang telah membaca gerakku hingga kini. Pengalaman ini akan selalu kutularkan pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Nyala api kecil dapat menjadi besar. Berjalan kaki mengajarkanku perihnya perjuangan namun manis buahnya kelak. Rasa- rasanya optimisme itu selalu terbangun. Nyala semangat itu selalu ada. Apapun yang terbaik untuk bangsa tercinta.

Foto: huffingtonpost

Tata Kota untuk Pemuda

TATA KOTA UNTUK PEMUDA

oleh

Emmy Yuniarti Rusadi

Indonesia akan kebanjiran pemuda sebagai bonus demografi di tahun 2020. Padahal di tahun 2015 saja diprediksi jumlah pemuda yang berusia 16- 30 tahun adalah 62, 24 juta jiwa. Jika dahulu definisi pemuda adalah penduduk dengan usia 15- 35 tahun kini berganti menjadi 16- 30 tahun berdasarkan UU No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan. Jika pada tahun 2009 terdapat 62, 77 juta pemuda, itu berarti perbedaan yang terjadi dalam rentang tahun 2009 hingga 2015 (6 tahun) adalah 0, 53 juta jiwa atau 530.000 jiwa bertambah. Maka diprediksi jumlah pemuda pada tahun 2030 diprediksi sekitar 1.148.333,33 tambahan jiwa. Tambahan jiwa ini akan membuat tahun 2030 adalah tahunnya pemuda Indonesia dengan total pemuda Indonesia menjadi 63 juta lebih.

Ruang yang diperlukan setidaknya hingga tahun 2025 atau 2030 adalah ruang yang baik untuk pertumbuhan putra- putri bangsa ini. Menyediakan ruang publik yang cukup dimana oksigen bukanlah hal yang “mahal”, menciptakan cukup taman bermain yang bisa mempercantik pertumbuhan daerah, jangan bangun lagi ruang- ruang tertutup yang menggunakan AC dengan beban energi dan kesehatan udara yang patut dipertanyakan dalam jangka panjang apakah sehat. Ruang harus mennjadi tempat bermain dan belajar yang terbaik untuk mempersiapkan pertarungan pemuda-pemudi ini kelak bagi bangsanya. Bagaimana bisa otak mereka segar jika tempat bermain saja susah didapatkan. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi atlet yang handal jika luas lapangan berlatih semakin sulit ditemui karena orang menganggapnya tak bernilai. Tak bisa menghasilkan “materai” alias kontrak karya. Sampai kapan kita harus menanti hak hidup mereka dikebiri? Oleh orang- orang dewasa yang saat ini memikirkan masa depan justru tidak sungguh-sungguh memikirkan apa itu masa depan. Hal pemuda Indonesia tahun 2030 akan pemenuhan ruang yang sehat dan segar untuk pertumbuhan mereka bahkan sudah dimusnahkan sebelum pemuda lahir. Menyedihkan! Tampaknya tak berlebihan jika nantinya komunitas dan aktifis menjadi tulang punggung pembangunan yang memperjuangkan ini, lebih cepat daripada swasta atau pemerintah.

Kota Yogyakarta dan Kesadaran Tata Ruang

KOTA YOGYAKARTA DAN KESADARAN TATA RUANG

oleh

Emmy Yuniarti Rusadi

 peta rencana pola ruang diy

(gambar:Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diunduh 2011)

Telah menginjak usia 257 tahun bagi kelahiran Kota Yogyakarta merupakan usia yang tidak muda lagi semenjak kepindahan Sultan Hamengku Buwono I dari Pesanggarahan Ambarketawang ke Kraton yang baru pada 7 Oktober 1756. Dengan usia tersebut pengembangan kota sudah banyak belajar dari sejarah dan perkembangan zaman. Pada tahun 2009 Ikatan Ahli Perenacana (IAP) di Indonesia merilis hasil riset Most Liveable City Index pada 12 kota besar di Indonesia, salah satunya adalah Yogyakarta. Yogyakarta memperoleh city index tertinggi 65, 34. Terdapat tujuh indikator penilaian meliputi aspek fisik, aspek lingkungan, aspek ekonomi, aspek transportasi, aspek fasilitas, aspek infrastruktur-utilitas, dan aspek sosial.

Kota Kyoto di Jepang merupakan Sister City atau kembaran dari Yogyakarta. Kota ini juga berusia kurang lebih sama dengan Kyoto yang berdiri pada tahun 1889 dengan kepadatan penduduk pada tahun 2008 sejumlah 1.464.990 jiwa. Kota ini menjadi pusat bisnis dan pariwisata persis seperti Yogyakarta dan sama- sama mernjadi kota pelajar. Hanya saja hal yang membedakan ada pada segi tata ruang dimana Kyoto lebih berpola grid atau kotak- kotak catur dengan system jalan lurus, sementara Yogyakarta tersusun atas banyak kampong dengan pola jalan yang ada mengikuti perumahan atau penggunaan lahan lainnya. Hanya beberapa kawasan yang berkembang dengan desain kota yang teratur seperti Kotagedhe, Malioboro, dan kawasan keraton yang itupun masih dperdebatkan hingga kini upaya pelestarian dan pengaturannya. Dengan kepadatan penduduk tersebut Kyoto mampu memiliki basis transportasi yang baik. Integrasi antar moda transportasi terencana apik dan terurus dengan professional. Ini adalah satu persaingan kota yang menarik.

Yogyakarta semestinya bisa berpacu dengan roda waktu dan terus berbenah diri. Pemasukan Yogyakarta dari pajak restoran dan pajak- pajak lain terkait pariwisata bisa jadi penopang sendi ekonomi yang baik. Sementara itu pendidikan di Yogyakarta termasuk masuk dalam jajaran prestisius di tingkat nasional, jadi logikanya adalah makin banyaknya orang berpendidikan yang dapat menyumbang pundi- pundi pembangunan melalui pajak penghasilan ataupun sumbangsih kreatifitas. Namun potensi- potensi ini tampak belum bersinergi ketika upaya- upaya pengelolaan lahan masih mengalami banyak hambatan pada kepemmilikan, ganti rugi, rencana tata kota yang terus didiskusikan sementara publik acuh tak acuh, atau belum mengertinya public terhadap pentingnya tata ruang Yogyakarta. Ini bisa menjadi peluang jika gesit bertindak, misalnya menciptakan brand image bagus bahwa Yogyakarta adalah kota angkringan. Dunia berlomba- lomba menjadikan street vendor (pedagang kaki lima) buatan dengan kafe- kafe di sepanjang trotoar untuk menggalakkan budaya jalan kaki dengan lebih semarak, sementara Yogyakarta sudah memilikinya bahkan menjadi ciri khas khusus. Yogyakarta juga memiliki ciri khas urban yang tidak dimiliki Kyoto atau kota lain seusianya di dunia yaitu buaday ramah tamah. Transportasi tradisional kita masih berjajar banyak dan menjadi hal eksotis ditengah hiruk pikuk modernisasi global. Banyak hal yang bisa ‘dijual” asalkan kota ini mampu lebioh menata diri dan tentu saja menata ruang.

Yogyakarta tidak sendiri. Ia tumbuh seumuran dengan kota lain di dunia. Jika Kyoto merupakan kota kembar Yogyakarta yang notabene juga disandingkan dengan kota kembar seperti Boston (USA), Paris (Perancis), Cologne (Jerman), Firenze (Italia), Xi’an (RRC), Zagreb (Kroasia), dan Guadalajara (Meksiko), maka berbanggalah kita yang hidup dari nafas Yogyakarta. Nafas dunia yang patut dijadikan inspirasi bahwa kita tinggal di kota yang terus akan dibaca dunia. Berbenah diri itu sangatlah penting, tidak lain dimulai dari semangat membenahi tata ruang. Jika tata ruang telah menjadi edukasi yang baik di mata publik, tata kelola ekonomi dan seluruh sektor apalagi transportasi adalah keniscayaan. Selamat ulang tahun Yogyakarta, masa depanmu ditentukan oleh langkah terdepan saat ini.

Think About Planners’ Habits by Emmy Yuniarti Rusadi

Remembering  Wednesday, November 30, 2011 at 11:42 am

I was thinking many times before write it down. But yes, I can not avoid that pro and contra will be there. It is my sadness seeing the habits of the planners, young planners right now. I see the way in saving the place clean is not enough. For example, the littering habits. Trash the rubbish just in the table in the studio. It is a big warning actually.

As I know, planers are like artist, everybody will make them as good sample. Habits are the most important. How we can create a city to be better if we can’t control the simplest habits.

It doesn’t mean that planners are not having good attitude. There are remain many people who care with the cleanness, don’t worry. In this short note, I just want to make a “sticky note” that if majority people look great, the whole sample will be. So, don’t wait. Look around, waste the rubbish on the right place, the bin 🙂

Have a nice place, enjoy the clean place, Planers 🙂

Viva!

Selalu Ada Cerita Tentang KKN UGM

Menurut saya, mahasiswa UGM jangan menjadikan KKN sebagai beban dalam studinya. Buatlah pikiran selalu memaknainya positif karena banyak hal dapat diceritakan setelah kelulusan dan toga teraih. KKN saat saya tempuh juga merupakan ujian karena saya ketinggalan satu kesempatan beasiswa yang saya daftar karena akses internet saya dapati sangat tidak bersahabat hari itu. Atau ketika waktu-waktu deadline revisi proposal penelitian skripsi juga harus masuk dalam pusaran otak saya hehehe. Tetapi mendapati teman-teman yang bervariasi karakternya menjadi “batu lompatan” tersendiri membangun diri, terutama soal ketangguhan mental dan emosi. Pada walnya mungkin kita akan dibenturkan dengan perbedaan pendapat dan keinginan, tetapi itu adalah kenikmatan tersendiri. Tidak terhitung berapa hal yang dapat diambil hikmahnya selain jalinan silaturahmi yang kuat. Banyak terimakasih yang saya sampaikan pada segenap tim KKN. Dosen pembimbing dan dosen pembimbing lapangan tim KKN yang turut menyukseskan perkembangan belajar kami melalui KKN. Kuliah Kerja Nyata. Ada momen tidak terlupa ketika tim berkesempatan bekerjasama dengan teman-teman Korea Selatan yang sangat ingin tahu mengenai Gunung Kidul dan kawasan pantainya. Kawasan bukit gampingnya dll. Terimakasih juga karena karya-karya yang dihasilkan. Salah satunya dapat disimak hasil tulisan rekan Herlin Pancasilawati mengenai maket tim kami berikut:

http://www.archiplan.ugm.ac.id/?p=916

Tahukah kalian, bahwa sampai kapanpu, memori itu akan sangat melekat. Sukses untuk semuannya. Sukses membawa nama Indonesia ke mata dunia.

#memoar kecil setelah “bergelut tawa” dengan rekan-rekan yang juga wisuda kemarin 21 Mei, 2013. Bravo guys