Jual Tanah dan Jual Rumah! *sebuah kejutan aglomerasi perkotaan*

jual rumah jakartajual rumahBanyak cara diakukan dalam menghadapi masalah “kelangkaan” kesediaan lahan. Sebut saja misalnya yang terjadi di kawasan JABODETABEK. Beberapa riset properti menunjukkan makin melambungnya harga properti sejalan dengan meroketnya harga tanah dan kebutuhan masyarakat akan properti. Definisi properti semakin hari semakin manjadi pergulatan diantara istilah- istilah lainnya yang juga kian tersosialisasi dengan sendirinya. Misalnya jika ingin jual rumah dan mungkin juga penyedia jual beli setipe ini (perlu kajian lagi) menawarkan harga khas daerah aglomerasi. Fasilitas yang ditawarkan tentunya juga tidak main- main seperti ruang, lingkungan strategis, tampilan taman, dll. Esensi rumah menjadi hal yang ramai dibicarakan mengingat jamak dimaknai bahwa semakin melambungnya harga adalah logis adanya. Sebagai orang yang terus juga mengamati perkembangan kota Jogja, fenomena yang sama mungkin saja akan terjadi mengingat jual rumah jakarta dan promo setipe memberikan kita gambaran kondisi perkotaan dewasa ini. Jika Jogja pernah diguncang dengan ide soal orang menjual rumah plus sekalian mendapat istri, kelak kita akan menemui suasana aglomerasi akan menimbulkan ide- ide “logis” lainnya tentang “kelangkaan” ruang. Agaknya patut direnungkan bahwa harga mahal pada properti juga lebih pada “kelangkaan’ akses masyarakat pada jenis properti itu sehinga muncul prestige tersendiri dalam memaknai perkembangannya.

Contoh lain jika kita ingin ke Bali, hal berbeda ditemukan. Bukan jual rumah yang populer disana namun properti kelas wow lainnya yaitu villa atau sewa hotel. Misalnya cukuplah googling via penyedia jasa travel atau situs resmi lainnya. Ini adalah contoh situs rumah123.com dan sejenisnya. (Haha ini kok seperti iklan lama- lama, tapi marilah pelajari saja). Contoh riil yang tak terbantahkan kemudian yang perlu diantisipasi. Jika rumah dijual itu masih logis, tapi jika suatu wilayah memiliki berbagai jenis properti dengan pemilik yang itu- itu saja kelasnya, ada penumpukan properti dan kemudian ruang yang tersedia harus bagaimana? Buy wisely, learn wisely, use space wisely too. It is a homework!

*) silahkan coba pelajari dan saya nanti responnya

Belajar Menjadi Orang

Hah? Memangnya kita bukan orang? Kok belajar menjadi orang?

Bukan begitu. Kita ini sudah orang, tapi apakah hati nurani kita juga sudah semestinya hati nurani orang? Saya belajar tentang bagaimana manusia menghadapi silaunya dunia dan terkadang lupa bahwa ada khasanah yang lebih penting dari sekedar materi, khasanah tentang bagaimana menjadi sebenar- benarnya “orang”.

Ketika ada sebagain orang menghabiskan makannanya, kita juga bisa mendapati ada sebagian orang merasakan kelaparan sejati. Pesannya sederhana, mengetuk hati nurani. Misalnya juga bagaimana kita bertoleransi, mengecilkan volume saat sedang asyik nonton film di gadget sendiri. Dan salah satu yang juga mengena adalah

“Jangan biarkan amarahmu terlihat di ruang publik. Temukan tempat lain untuk kamu bisa berdebat dengan seseorang tanpa perlu membuat yang lain merasa tidak nyaman.”

Sumber: Bisa juga cek ya di http://Hello-green-world.sharethisstory.net/id-331112-2346?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign=

Pantangan Backpacker

Untitled1Well, dunia backpacking ternyata menjadi dunia yang mengasyikkan sampai kapanpun. Dunia semakin terasa “mudah” karena akses teknologi informasi yang ada. Pengetahuan baru, kuliner baru, tantangan baru, kawan baru, siapa yang tidak ingin itu semua. Saya belum mencapai Eropa dan Amerika, tapi ada banyak tips yang bisa dipelajari terlebih dahulu. Ini link- link yang semoga bermanfaat buat kamu yang muda saatnya hadapi dunia!

1. http://Hello-green-world.sharethisstory.net/id-331112-2352?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign=

2. http://www.hostelworld.com/blog/what-nobody-tells-you-about-backpacking-in-europe-/158638

Hoho, ternyata kebiasaan tidak menyentuh lawan jenis juga terjadi di India, jangan memberikan tip saat menggunakan jasa restoran atau taksi di Jepang, tidak melingkarkan telunjuk dan jempol untuk bilang OK saat di Turki. What a fun world we have. So unique!

Jadi kapan mau keliling dunia? Sekarang harus dimulai!

Download E-Book Gratis dari Mizan

jokowiAda sesuatu yang menarik ketika kita bergumul dengan bacaan, buku, dan hal inspiratif lainnya. Tawaran- tawaran positif selalulah datang dan menjadi penyejuk keingintahuan kita terhadap sesuatu. Salah satu link yang saya dapatkan berhubung saya memang gemar membaca bacaan terbitan Mizan adalah amatan serta catatan politik. Mumpung gratis, lahap aja nih hehe:

http://www.mizanstore.com/selamat-datang-jokowi#.VZN3MFIU1n5

Semoga bermanfaat ya!Ini saya cantumkan juga link e-book gratis soal sholat :

http://www.mizanstore.com/detailebook/1-Buat-Apa-Shalat

PS: Ini bukan propaganda politik, hanya sekedar sharing sebagai bagian menjadi warga negara yang aktif

Mendefinisikan Ulang Properti (?)

Dalam konteks tata ruang, properti menjadi semacam peyorasi tersendiri ketika orang membayangkan bahwa properti adalah bagian dari bangunan dengan nilai investasi tinggi dan kesan wah mewah. Padahal properti memiliki definisi sederhana mengarah pada penyediaan bangunan atau hunian tertentu untuk tujuan tertentu.

Apa yang salah? Kecenderungan eksploitasi lahan tanpa batas? Bisa jadi. Penisbian bahwa banyak orang di luar sana yang masih membutuhkan tempat tinggal dan belum tersentuh secara signifikan? Maybe. Lalu seperti apakah properti yang diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan dan perkembangan sebenarnya? Indonesia dihadapkan pada tantangan bagaimana mengatur lahan yang semakin sempit terutama di perkotaan dengan kebutuhan properti dalam arti yang sesungguhnya untuk mengakomodasi mereka yang memerlukan. Alih- alih pertumbuhan ekonomi yang fantastis, properti yang dibangun dengan tidak berimbang dan cenderung investatif (untuk keperluan jual beli semata) justru akan menjadi boomerang pertumbuhan kota. “Meletusnya” balon- balon kredit macet sektor ini pada beberapa tahun silam di penjuru Amerika, UK, dan Asia kiranya menjadi perhatian lebih. Jadi, perlukah kita mendefinisikan ulang properti?

 

 

 

Sebuah Catatan Manusia

Manusia itu apa yang dia makan. Tetapi sekarang juga ada satu hal: Manusia itu apa yang dia bicarakan. Semua berasal dari lisan. Terkadang atau bahkan seringkali beban diri sendiri berasal dari perkataan. Harus ada perkembangan terbaik bagi ilmu pengetahuan. Jika kau tak bisa tinggalkan warisan, tinggalkanlah ilmu pengetahuan.

Manusia juga bisa berkembang dari renungan. Karena renungan tidak sekedar berupa pikiran tentang gagasan- gagasan. Tetapi lebih dari itu, ia tumbuh menjadi rangkaian- rangkaian penting mengenai penjernihan. Penjernihan hati. Tidak semua hal bisa. Berfokuslah pada apa- apa yang kamu bisa lakukan dan berkaryalah seperti kamu meninggal esok hari. Memang, Tuhan masih selalu berbelas asih memberimu waktu sehingga kau berpikir untuk menunda- nunda segala sesuatu. Tetapi bukankah bertindak yang terbaik itu lebih baik? Tuhan selalu bisa melakukan apa- apa sendiri, tetapi kita tidak. Eksekusilah ide dengan sesegera mungkin karena kau perlu menghimpun tenaga. Yang terkasih telah dinanti dan menanti, berharaplah kelak kau dapat memeluknya erat. Hidup memang terlampau singkat! Dan tampaknya tidak mudah menciptakan “shortcut”

Magelang, 14 Agustus 2013 jam 19:15 @depan rumah

Embrio Hijau

Pemuda lahir dari embrio hijau yang tiap saat dapat tumbuh. Entah di tanah gersang. Entah di tanah subur layaknya Indonesia. Kita tidak akan pernah lupa apa yang akan ditinggalkan oleh embrio hijau ini bagi nusanya kelak.
Jika embrio muda ini bergerak ke Timur, niscaya akan selalu membawa angina perubahan selaksa budaya yang lebih dekat jantungnya dengan negeri ini. Jika embrio ini bergerak ke Barat, niscaya perubahan juga akan terjadi, hanya hempasan angina yang dibawanya akan sanggup meruntuhkan tulangnya. Ia akan mungkin rapuh, tapi juga mungkin semakin kuat. Banyak nutrisi peradaban pagi dapat terserap.
Embrio hijau bukanlah embrio bayi. Ia akan dan pasti tumbuh menikmati bunga- bunga yang mekar. Ia akan tumbuh menghirup udara nan sejuk dengan rekahan mentari pagi. Suatu saat kita tak akan percaya bahwa embrio itu akan menjadi manusia hebat yang menyegarkan hiruk pikuk dunia. Kesegaran di tengah timpangnya social oleh perebutan tanah, air, dan udara. Embrio nusantara yang mendunia.
Hebat kiranya Engkau ciptakan bumi yang cantik ini. Bumi yang lengkap dengan cabang- cabang rimbunnya pepohonan. Bumi yang lengkap dengan akar- akar menghujam kuat banyak kayu berkualitas wahid. Ini benar- benar surge. Surga dunia. Mana hal yang tak bias kau dapat jika kaki kau injakkan pada gundukan- gundukan pasir putih di pantai yang masih perawan. Siulan burung senja masih sibuk mengintip gelap. Ada lagi yang harus kau catat, hijaunya bukit membawa jati diri embrionya itu bangga untuk pamerkan gunung- gunung tersembunyi.
Kita punya drama, tapi kita juga punya cerita yang selalu ada dalam tiap jengkal. Puisi negeri yang mengagumkan tiada terperi. Inilah hal yang embrio hijau itu akan selalu upayakan. Nama negeri itu Indonesia. Keagungan tiada tara. Tak seperti banyaknya kulit putih di belahan Utara sana. Embrio hijau adalah pemuda bersemangat yang selalu sedia menangkap matahari terbit. Calon yang selalu menangkap energi transisi dari matahari terbenam. Hidup seperti menganyam. Hidup membentuk buaian. Hidup membentuk polosan. Dan hidup membentuk senandung dalam banyaknya eksodus pemikiran, dari Timur ke Barat dan dari Barat ke Timur. Kita tidak akan pernah tahu kemana embrio hijau itu akan tumbuh dan menjadi berharga. Tapi kiranya nutrisi sang embrio cukup tangguh hadapi rintangan.
Tunggulah waktu 17 hingga 20 tahun. Wujud embrio itu akan segera kita dapat. Mungkin tegas, mungkin keras, mungkin lembut manghadapi perbedaan. Lautan tempatnya tumbuh menciptakan ketegasan itu. Sementara gunung- gunung menciptakan sentuhan angina lembut yang membuai namun kokoh bertahan. Hijau tetaplah menjadi jiwa aslinya. Embrio hijau yang selalu tumbuh. Embrio yang tidak akan pernah lupa warna dasarnya. Embrio yang tidak akan pernah lupa nyanyian alam yang juga jadikan ia selalu menabuh gendering cinta damai. Gendang bukan perang yang giat menyerukan dunia tanpa permusuhan.
Hijau selalu ciptakan putih- putih kesejukan. Tak mudah untuk selalu memupuk dunia yang asri tanpa debat sana- sini. Sejuknya alam hanya tersedia kelak jika ia menciptakan embrio baru. Embrio yang kian tumbuh, akan semakin lambat dan menua. “Life is so flat, but life can be so meaningful”.. Embrio hanya tahu bagaimana rasanya menciptakan dunia terus berjajar dengan hasrat berkarya. Tidak ada jeda untuk karya. Jeda hanyalah bagian dari istirahat sesaat. Sesaat adalah waktu istirahat yang tak boleh bangkrut.

Yogyakarta, 24 Februari 2015

What the best education systems are doing right

ideas.ted.com

See all articles in the series

In South Korea and Finland, it’s not about finding the “right” school.

Fifty years ago, both South Korea and Finland had terrible education systems. Finland was at risk of becoming the economic stepchild of Europe. South Korea was ravaged by civil war. Yet over the past half century, both South Korea and Finland have turned their schools around — and now both countries are hailed internationally for their extremely high educational outcomes. What can other countries learn from these two successful, but diametrically opposed, educational models? Here’s an overview of what South Korea and Finland are doing right.

The Korean model: Grit and hard, hard, hard work.

For millennia, in some parts of Asia, the only way to climb the socioeconomic ladder and find secure work was to take an examination — in which the proctor was a proxy for the emperor, says Marc Tucker, president and CEO of the National Center on…

View original post 1,392 more words

Posted in Uncategorized

MEMANDANG SWEDIA DARI INDONESIA

MEMANDANG SWEDIA DARI INDONESIA

ok

Sejak kapan saya tertarik dengan kawasan Scandinavia? Sejak dulu entah kapan. Lupa juga. Tetapi mungkin sejak kecil. Sejak saya mengenal peta dan bertanya dalam hati, Scandinavia itu kecil sekali. Ya kecil sekali. Bahkan kalah luas dengan Indonesia. Tapi semakin dewasa saya semakin sadar bahwa kawasan ini bukanlah kawasan main- main. Sangat diperhitungkan dunia.

Perencanaan wilayah dan kota kian membuaka wawasan saya tentang penjelajahan baru kawasan Scandinavia secara lebih tajam. Dan akhir- akhir ini sudah sekitar dua bulan berjibaku dengan pekerjaan proyeksi implementasi panel surya bersama kawan- kawan lintas ilmu. Tidak ada motivasi lain selain memberikan contoh praktis bahwa seorang perencana wilayah dan kota harus bisa menaklukkan tantangan masa depan.

Pada awal pengerjaan proyek ini saya berpikir bahwa harus muncul hipotesis besar mengapa Negara dengan minim sinar matahari berani menggelorakan mimpi memasang panel surya sebagai bagian dalam kehidupan kotanya. Mengapa? Ini seperti upaya bunuh diri di siang bolong. Semua orang tahu bahwa itu hampir mustahil dilakukan. Dengan suhu minus yang dominan, summer yang mungkin tak bias dibilang summer, tetapi winter hampir bisa dikatakan setiap hari, apa bisa mereka taklukkan ambisinya? Ternyata kawasan Scandinavia termasuk kawasan yang tingkat pembangunannya jempolan. Keluar sebagai pemegang label Negara paling berkelanjutan di tahun 2010, membuat Swedia menjadi salah satu pelopor pengembangan kota- kota cerdas dengan pengembangan teknologi energinya. Tampaknya pajak besar tidak menyulitkan upaya mereka menerapkan energi terkini. Jika Belanda bisa menerapkan jalan pertama berbasis panel surya di dunia, maka Swedia ingin menjadi negara yang paling banyak menggunakan panel surya. Setidaknya di kawasan Scandinavia.

Apa yang seharusnya Indonesia pandang dari “negara kecil” ini? Sudah di pojok Utara, miskin SDA, tapi mengapa SDM begitu semangat. Ada benarnya jika semakin terdesak orang, semakin kreatif dia. Negara- Negara dekat kutub begini kalau tak kreatif bias mati kutu menghadapi perkembangan global. Ini persis dengan logika bahwa alam tak bias ditaklukkan tapi dapat diakali, sekedar dapat dijinakkan pun tak bisa. Swedia melakukannya. Ekspor terbesar dari Swedia tak lain adalah teknologi. Swedia juga terkenal dengan ekspor senjata berteknologi terkini.

Adalah sebuah kebetulan luar biasa ketika professor saya menunjuk saya menjadi bagian dalam tim beliau untuk menjadi coordinator kegiatan studio kolaborasi antara Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM dengan Curtin University (Perth, West Australia) Desember 2014 lalu. Salah satu peserta ternyata Swedia asli sejak kecil walau dia seorang keturunan Timur Tengah tulen. Menguasai 5 bahasa internasional, tentu salah satunya Swedish. Banyak kisah riil dia ceritakan mengapa dia pergi berkelana studi ke Australia. Tak tahan dengan iklim Swedia katanya. Saya yakin itu hanya salah satu alas an saja karena kawan saya ini tipe petualang yang senang mencari tantangan. Dari dialah proyek sana dan tim juga terbantu. Selain karena tidak semua informasi publik di Swedia yang dipublikasikan dalam Bahasa Inggris, tetapi juga mengerti secara langsung dari warga sana. Pandangan kawan saya ini menyatakn bahwa pemerintah Swedia sangat ambisius pada proyek- proyek jangka panjang. Sesuatu yang berkaitan dengan manusia dan alam sangat dijaga kelestariannya. Bagi mereka, sulit untuk mengatasi suatu masalah di kemudian hari. Lebih baik mencegah daripada mengatasi, begitu kurang lebih.

Tulisan ini saya buat karena saya penasaran dengan hasil akhir proyek kami ini. Semoga bisa bernilai guna. Jika banyak kawan yang tak percaya atau malu- malu untuk mencoba tantangan global, saya merasa beruntung bahwa saya bekerja dengan tim yang kondusif. Ini bagian yang ingin saya bagi dengan kawan- kawan pembaca juga. Lebih baik gagal setelah mencoba daripada tidak sama sekali. Kegagalan salah satu kompetisi perencanaan ruang di wilayah Eropa lain tahun 2013-2014 membuat saya semakin terpacu untuk tampil lebih baik. Orang luar bisa dibilang hanya bermodal semangat tanpa henti dan cuek terhadap opini yang merendahkan. Indonesia bisa belajar dari hal tersebut. Proses proyek ini juga bisa jadi pembelajaran bahwa inilah sebenarnya salah satu cara kita melihat dunia luar.

Pekerjaan ini semakin membuat jarak Indonesia dan Swedia Nampak dekat. Setidaknya dalam spirit. Ada beberapa kosakata yang akhirnya masuk dalam ingatan. Betapa Swedia itu jauh di mata namun dekat di hati. Semoga kelak bisa menginjakkan kaki kesana. Some said that Sweden is a true fairytale country. With solar energy (?). I guess 🙂

Semangat berdedikasi! Ebi, Doni, Agung, Adam, Megan

Thanks a lot for Qase in Australia. We hope the best result for this project, mate!

Gambar: telegraph.co.uk

TATA RUANG ISLAMI KETINGGALAN ZAMAN?

*)Artikel dimuat pada Republika Online (ROL), 2014
ok

TATA RUANG ISLAMI KETINGGALAN ZAMAN?

oleh:
Emmy YuniartiRusadi

Sejarah mencatat bahwa Islam memiliki kontribusi besar terhadap tatanan dunia dan peradaban. Islam melahirkan pencerahan di Eropa sehingga dikenallah trigonometri, aljabar, astronomi, serta pengenalan angka nol. Lambat laun, Islam mempengaruhi tataruang suatu peradaban. Unsur pusat pemerintahan, pusat peribadatan, dan pusat ekonomi. Di Indonesia, tataruang Islami belum menjadi hal yang dikembangkan lebih masif. Islam masih dipandang sebagai ritual saja, tanpa sadar bahwa Islam sebenarnya adalah fitrah kehidupan. Sudah merasuk dalam setiap sendi kehidupan. Cara pikir Islam untuk menata ruang saat ini dapat ditelusuri melalui penggalian sejarah kota- kota Islam dan membandingkannya dengan kota- kota kini yang memiliki nuansa Islami.

Untuk contoh kota- kota lama adalah di Eropa dimana Islam pernah menjadi pusat kebudayaan selama 7 abad lebih di Spanyol. Turki adalah salah satu kota yang di desain secara Islami dengan mengilhami penghayatan yang memotivasi tentang adanya surga. Sumber air dipikirkan dengan seksama karena air adalah sumber utama kehidupan. Vegetasi dan air berkombinasi menjadi gambaran indah manusia tentang surga. Dimana mengalir sungai- sungai yang menyejukkan. Agaknya, ide Ebenezer Howard adalah duplikasi wahana surgawi itu di London. Howard memang bukanlah seorang muslim, tetapi keindahan dan kesegaran kehidupan kota jelas ingin dia dapatkan melalui konsep tersebut. Keindahan alam tanpa merusak inilah yang ingin dia kenalkan kepada London saat itu. Howard kemudian menjadi tokoh dalam sejarah perencanaan kota skala dunia. Padahal sejarah adalah sebuah rantai yang saling bersambung, saling berhubungan.

Ciri mengenai adanya pusat ibadah yang dekat dengan pusat kerajaan atau pemerintahan menghantarkan tipologi tataruang di Eropa yang khas. Belanda misalnya, memberikan patokan khas dimana pusat pemerintahan, pusat ibadah (kapel, gereja, atauloji), dan pasar berada saling berdekatan. Di dekat 3 bangunan tersebut biasanya terdapat alun- alun. Islam telah menciptakan patron ini jauh sebelum Eropa mengenal pemetaan. Adalah fakta sejarah bahwa kartografer Barat mengubah arah Utara dan Selatan dalam penggambarannya, terbalik dengan para ilmuwan Islam yang awalnya buat. Ilmuwan Islam memetakan dengana rah Utara kearah bawah dan Selatan kearah atas. Dan padat ahun 830an Masehi Muhammad Ibnu Musa Al- Khawarizmi pun menciptakan globe pertama di dunia. Globe kelak amat berperan untuk menentukan posisi suatu lokasi di mukabumi. Tata ruang kemudian berkembang karena pengetahuan akan lokasi bertambah.

Tata ruang sekarang berubah. Ruang menjadi sumber daya ekonomi secara berlebihan. Benar adanya bahwa manusia berpotensi merusak alam dan kurang bisa memegang amanah menjadi khalifah yang baik. Salah satunya pada bagaimana menata ruang. Ruang harusnya dapat menjadikan penghuninya tentram, dan bukan sebaliknya. Pada awalnya manusia membentuk ruang, kemudian ruang membentuk manusia. Hal tersebut berarti bahwa pada awalnya manusia berkreasi dengan mengelola ruang untuk kebutuhannya. Manusia terutama menciptakan bangunan dan infrastruktur penunjang. Setelahnya, manusia menuai hasil apakah ruang yang dihasilkan akan berkelanjutan apa tidak. Ruang yang baik adalah ruang yang dikelola tanpa eksploitasi berlebihan (over exploitated). Ruang dalam pandangan Islam bukanlah komoditas tanpa batas. Kini ruang yang terbatas dijual dengan harga meroket dan menjadi ilusi- ilusi ekonomi ketika ruang yang khusunya bangunan blok dibangun hanya untuk investasi, tidak ditinggali, hanya untuk alasan jual beli.

Bandingkandenganparahnyajumlahpenduduk “homeless” yang perlu ruang untuk tempat hunian. Jika ingin menilik lebih jauh, Indonesia belum dapat mengendalikan penggunaan ruang dengan baik, terutama manajemen lahan yang masih dikuasai pasar. Harga tidak stabil dan cenderung diciptakan oleh pasar. Kendali pemerintah tak kuat. Menengok dari negeri sebelah, Singapura, yang mampu mengendalikan harga dan tahu persis penggunaannya untuk apa saja. Manusia menjadi terlalu rakus. Melupakan kesederhanaan dimana azas cukup berubah menjadi azas boros. Berlebih- lebihan. Sejatinya rumah dengan fasilitas tertentu cukup, masih ingin fasilitas super wah hanya untuk sementara. Lupakah kita bahwa kaum yang boros itu adalah kawan syetan?