Sebuah Surat untuk Orang Tua

Sebuah Surat untuk Orang Tua

emmy little

Sebagai anak, berterimakasih kepada orang tua adalah kewajiban. Hal itu pula yang saya rasakan. Tidak ada sedikitpun terbersit untuk melawan hal- hal baik dari orang tua yang mengajarkan hal positif. Jika pun mereka melabeli kita dengan label “khusus”seperti anak kaku, anak kurang bisa sosialisasi, anak kurang adaptif atau apapun, terimalah. Jika sudah berusaha untuk menjelaskan duduk sejatinya diri kita. Kejadian kecil yang selalu menyulut emosi orang tua selalu lahir dari kesalahpahaman mereka mengetahui situasi dan kondisi. Kita tumbuh sangat cepat dari perkiraan mereka dan kita juga yang menghadapi dimensi berbeda dengan mereka. Berbeda zaman, berbeda informasi, serta teknologi tetapi bukan berarti kita mengerti semua esensi hidup. Tidak, kita hanya mengetahui permukaannya saja sehingga kitalah anak muda yang harus tahu diri belajar.

Tipikal anak macam- macam. Seperti saya misalnya. Saya tipikal pekerja keras yang tidak suka disuruh. Saya lebih senang mendengarkan sekali instruksi dan konsisten menjalankannya bahkan walau diri ini capai sekalipun karena merasa itu panggilan hati. Saya juga mengalami “labeling” dimana ketika itu saya berusaha menjelaskan bahwa saya bukanlah orang yang dilabeli itu. Tetapi justru situasi menjadi seperti perdebatan tak kunjung usai. Jadi diam adalah solusi. Tetapi saya merasa sudah saatnya saya menjelaskan bahwa saya memang berbeda. Saya tidak bisa memendam kesalahan terlalu lama. Kebenaran memang sudah sunatullahnya diungkap. Proses ini justru mengajarkan saya juga untuk jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Berani mengambil sikap sekalipun itu bukan sikap populer.

Suatu saat saya dilabeli anak yang kurang bisa menerima kritik orang lain. Saya bilang bukan itu maksud saya. Orang tua menceritakan kegetrannya berjuang saat masih muda. Saat harus merelakan sebagian usia mereka untuk memulai bekerja di usia yang masih dini. Saya menjawabnya dengan mengatakan bahwa saya sudah menyimpannya dan menjadikannya semangat jadi tidak perlu diulang terus karena bagi saya seperti menciptakan kemunduran dan rasa trenyuh mendalam. Saya tidak suka terlalu lama bersedih. Saya dilabeli susulan dengan cengeng karena gampang sedih. Saya berusaha menjelaskan bukan demikian, seharusnya mereka bersyukur bahwa anak yang sedang berdiskusi ini adalah anak yang punya empati tinggi. Tetapi pada akhirnya saya merasakan sakitnya dilabeli bertubi- tubi. Perkataan adalah doa. Saya tidak ingin memasukkan sama sekali label- label yang saya rasa tidak membangun atau label yang destruktif dalam pembentukan perilaku. Saya selalu ingat, jangan katakan anak nakal pada anak yang susah diatur, tapi katakan apa yang seharusnya dilakukan. Detik itu saya putuskan untuk merenung dan berdiam diri di masjid di dekat rumah. Hanya dzikir, QS At Taubah, dan Yaasiin yang menemani saya. Saat ada orang lain bertanya kenapa kok nangis, saya jawaban saya flu. Saya sedang pilek hahaha. Saya yang harus mengalah sebagai anak muda. Jika pun orang tua kurang tepat, maafkan dan mulai dengan semangat baru. Setiap generasi punya kelemahan. Kelemahan anak muda ada pada pengaturan emosi. Kelemahan orang tua adalah ingin selalu diakui. Jadikan ini sebuah refleksi.

Pagi hari saya selalu membereskan pekerjaan rumah. Apapun yang terjadi saya selalu bertekad untuk membereskan rumah selengkap- lengkapnya walaupun disaat waktu yang amat sempit. Orang tua saya baik, jika terlihat itu merepotkan maka dibantulah untuk tidak mengerjakannya. Tapi saya tidak mau. Saya sudah dewasa dan sejak kecil itu melekat erat. Saya mau jadi orang bertanggung jawab tanpa disuruh. Saya sadar diri. Terjadilah diskusi soal wisuda. Orang tua berpndapat saya terlalu kaku tidak mau membawa telepon genggam saat wisuda berlangsung dan menjadikan mereka bingung saat acara usai. Padahal sebenarnya sederhana saja, cukup kalem dan tunggu di titik pintu yang sudah kita sepakati di awal. Tidak apa- apa, kelak ketika saya sudah tua juga pasti akan mengeluhkan hal yang sama. Pikiran orang tua sudah terisi berbagai hal yang jauh lebih kompleks. Namun kali ini label itu dating lagi. Orang tua menilai mahasiswa lain saja bisa kok pakai telepon genggam di saat acara, kok saya tidak mau. Saya sangat menghargai aturan. Tertulis tidak diperkenankan membawa telepon genggam apalagi dalam keadaan hidup karena pasti akan mengurangi kesakralan, konsentrasi, serta kemungkinan kebutuhan komunikasi dalam gedung yang sudah diatur sedemikian rupa. Tidak lucu jika pengamanan komunikasi gedung yang dipadati 2000 orang (mungkin lebih) bocor hanya karena kesalahan peraturan teknologi. Jadilah saya makan sambil mendapatkan label itu lagi. Adapun tulisan ini akhirnya lahir sebagai bentuk refleksi diri tentang cara kreatif menjelaskan sesuatu hal prinsipil dalam diri kita kepada orang tua bahwa mengajaknya ke dalam pikiran kita yang berniat dalam kemajuan dan membiasakan diri menjalankan peraturan sebaik- baiknya adalah baik. Biarkan orang tua saya membaca ini dan juga melakukan refleksi diri. Sesungguhnya saya tidak bermaksud membantah atau apapun itu. Saya hanya tipikal anak yang tidak betah lama- lama memendam hal yang perlu dikoreksi. Saya merasa sekescil apapun dalam pembentukan karakter saya akan berimbas pada masa depan saya. Saya jadi turut belajar tentang apa yang harus saya lakukan kepada anak saya kelak. Pesan orang tua selalu saya jalankan. Ada nada minor dan mayor (baca: marah) tetapi esensi pesan mereka adalah kasih sayang. Maklumilah ketidakpahaman yang mereka mungkin miliki. Saya hanya ingin bahwa saya tidak dilabeli sebagai pembantah atau apapun itu. Ini adalah cara saya mendiskusikan sesuatu dengan transparan kepada orang tua. Saya percaya ada bagian yang bisa ditiru ataupun tidak, tetapi saran saya, jangan jadi anak pendiam yang sekedar menurut. Kita harus tahu kita melakukan apa. Dan orang tua saya memberikan ruang ini. Mereka selalu member humor, marah, dan hal lain yang terkadang bikin salah tingkah agar kita tidak asal bertingkah polah. Hiduphanya sekali, jadilah terbaik yang kita bisa.

Jika kita merasa berbeda dengan orang kebanyakan, renungkanlah terlebih dahulu dengan diri sendiri. Diri sendiri adalah sebenar- benarnya pemberi semangat dan motivator paling ulung yang pernah ada. Sesuatu terjadi pasti juga karena andil perilaku kita. Tetaplah santun, tetaplah cintai orang tua kita apapun adanya. Sikap tegas saya memang terbentuk karena saya ingin kehidupan saya ke dean lebih baik. Saya tidak suka bermain waktu. Saya memang “terlambat” (setidaknya dari target awal saya) saat saya menyelesaikan studi lanjut saya, namun saya sadar bahwa investasi terbesar yang saya lakukan dengan beasiswa rakyat adalah saya berguna untuk rakyat. Jadi setiap inchi perilaku saya dirumah adalah apa yang memengaruhi saya di lapangan. Sehingga saya pun tidak ingin salah paham terjadi di dalam rumah. Sekiranya tulisan ini bisa menjadi pelajaran dan motivasi bahwa kita juga harus promosi diri (promosi tidak hanya untuk ujian doctoral saja loh hehehe) bahwa modal kepercayaan yang orang tua tanamkan akan kitagunakan sebaik- baiknya. Jika kita terlihat “kurang sosialisasi” saat di rumah mungkin orang tua sedang melihat kita dalam fase “ingin sebentar menimati istirahat dan suasana rumah” atau “saya sedang dalam misi pengerjaan suatu tugas yang tidak bisa mengambil banyak waktu bermain”. Tampaknya peristiwa yang saya alami ini hanya kumpulan dari berbagai tekanan yang sedang kami rasakan. Satu hal yang saya percaya, tekanan kehidupan itulah yang kelak kita syukuri untuk dikatakan bahwa kita pernah punya waktu merasakan. Kita punya waktu lebihcepat dari orang kebanyakan untuk menyelesaikan. Selamat dating di zaman kreatif dimana komunikasi dengan orang tua pun harus lebih kreatif. Semangat berkarya! Jangan putus asa!

NB: Saya memnta orang tua saya “mengoreksi tugas saya ini”, dan ketika membaca surat ini orang tua hanya bisa tersenyum.Saya berhasil “menyindir” mereka dengan cara “gila” saya. Indahnya saling bermaaf- maafan walau ini bukan hari lebaran. Dalam hati saya berbisik, wah bekerja juga cara kreatif ini ya hehehe 🙂

–Emmy Y.R , Ahad, 30 Agustus 2015–

Advertisements

5 classic research presentation mistakes

Sebuah pengingat bagi para periset 🙂

The Thesis Whisperer

Presentations  for a faculty or disciplinary audience are subtly different to those you give at a conference, but not talked about as frequently. These ‘internal’ presentations are important because they tell your colleagues what kind of researcher you are; it helps you socially and academically to perform well to your peers.

This topic occurred to me as I sat in on a couple of examinations (vivas), completion seminars and a confirmation or two in recent weeks. I have sat through literally hundreds of assessment presentations if you count my years in purgatoryarchitecture school. So here’s my top five classic research presentation mistakes, but I’m going to stick with the verbal problems here because there are many great presentations about graphics, such as ‘how not to suck at powerpoint’ and ‘how to make you presentation boring’.

1) TMI

Too much information (TMI) is the most common mistake I…

View original post 876 more words

Posted in Uncategorized

Sewa Tanah, Sewa Tempat Usaha *ajakan berinvestasi di kawasan aglomerasi?*

sewa rumahtempat usahatempat usahajual tanahSebelum membaca artikel ini, lagi saya sarankan cobalah membaca salah satu, dua, atau tiga dari beberapa tipe iklan yang sudah tak asing lagi coba saja cari informasi mengenai jual tanah ,tempat usaha, sewa rumah, serta beberapa lainnya seperti “disewakan apartemen Bali”, “apartemen murah di bali”, dan sejenisnya. Perkembangan dinamis ini menjadi bagian dari roda ekonomi khas perkotaan yang terus melebar. Jika takjub dengan harganya, mungkin tidaklah seberapa. Hal yang harus dihadapi adalah disaat logika kebutuhan dan persediaan itu berhadapan, itulah yang selalu menjadi bahan pemikiran. Namun iseng begini ternyata membawa pengetahuan baru. Tak ada salahnya mengamati jenis- jenis properti ini untuk pertimbangan kita tahu kondisi suatu kota, meramalkan masa depan kita jika berumah tangga (jika sudah punya jodoh *eh), dan mungkin pahala karena ikut promosikan situs. Tapi tak apalah, situs ditaruh agar kita sama- sama bisa menunjuk hal yang riil dan tidak ngawang.

Andaikan saya ingin menyewa tanah untuk usaha, dengan mengetahui informasi- informasi tersebut, hal mendasar untuk dilakukan adalah kroscek kebenaran dan validitas produk. Jika memang membutuhkan, penting untuk mempelajari situs dengan cermat dan membandingkan lokasi. Semoga saja situs seperti memberikan kita “daya jelajah” yang baik tentang memilih dan memilah properti. Catatan yang pasti, janganlah menumpuk properti atau akan merosot nilainya karena harus banyak merawat. Ingatlah pada orang- orang di luar sana yang masih membuthkan ruang untuk rumahnya. In short, again the main message is learning to be wise. Human is an economical craft. 

 

Jual Tanah dan Jual Rumah! *sebuah kejutan aglomerasi perkotaan*

jual rumah jakartajual rumahBanyak cara diakukan dalam menghadapi masalah “kelangkaan” kesediaan lahan. Sebut saja misalnya yang terjadi di kawasan JABODETABEK. Beberapa riset properti menunjukkan makin melambungnya harga properti sejalan dengan meroketnya harga tanah dan kebutuhan masyarakat akan properti. Definisi properti semakin hari semakin manjadi pergulatan diantara istilah- istilah lainnya yang juga kian tersosialisasi dengan sendirinya. Misalnya jika ingin jual rumah dan mungkin juga penyedia jual beli setipe ini (perlu kajian lagi) menawarkan harga khas daerah aglomerasi. Fasilitas yang ditawarkan tentunya juga tidak main- main seperti ruang, lingkungan strategis, tampilan taman, dll. Esensi rumah menjadi hal yang ramai dibicarakan mengingat jamak dimaknai bahwa semakin melambungnya harga adalah logis adanya. Sebagai orang yang terus juga mengamati perkembangan kota Jogja, fenomena yang sama mungkin saja akan terjadi mengingat jual rumah jakarta dan promo setipe memberikan kita gambaran kondisi perkotaan dewasa ini. Jika Jogja pernah diguncang dengan ide soal orang menjual rumah plus sekalian mendapat istri, kelak kita akan menemui suasana aglomerasi akan menimbulkan ide- ide “logis” lainnya tentang “kelangkaan” ruang. Agaknya patut direnungkan bahwa harga mahal pada properti juga lebih pada “kelangkaan’ akses masyarakat pada jenis properti itu sehinga muncul prestige tersendiri dalam memaknai perkembangannya.

Contoh lain jika kita ingin ke Bali, hal berbeda ditemukan. Bukan jual rumah yang populer disana namun properti kelas wow lainnya yaitu villa atau sewa hotel. Misalnya cukuplah googling via penyedia jasa travel atau situs resmi lainnya. Ini adalah contoh situs rumah123.com dan sejenisnya. (Haha ini kok seperti iklan lama- lama, tapi marilah pelajari saja). Contoh riil yang tak terbantahkan kemudian yang perlu diantisipasi. Jika rumah dijual itu masih logis, tapi jika suatu wilayah memiliki berbagai jenis properti dengan pemilik yang itu- itu saja kelasnya, ada penumpukan properti dan kemudian ruang yang tersedia harus bagaimana? Buy wisely, learn wisely, use space wisely too. It is a homework!

*) silahkan coba pelajari dan saya nanti responnya

Belajar Menjadi Orang

Hah? Memangnya kita bukan orang? Kok belajar menjadi orang?

Bukan begitu. Kita ini sudah orang, tapi apakah hati nurani kita juga sudah semestinya hati nurani orang? Saya belajar tentang bagaimana manusia menghadapi silaunya dunia dan terkadang lupa bahwa ada khasanah yang lebih penting dari sekedar materi, khasanah tentang bagaimana menjadi sebenar- benarnya “orang”.

Ketika ada sebagain orang menghabiskan makannanya, kita juga bisa mendapati ada sebagian orang merasakan kelaparan sejati. Pesannya sederhana, mengetuk hati nurani. Misalnya juga bagaimana kita bertoleransi, mengecilkan volume saat sedang asyik nonton film di gadget sendiri. Dan salah satu yang juga mengena adalah

“Jangan biarkan amarahmu terlihat di ruang publik. Temukan tempat lain untuk kamu bisa berdebat dengan seseorang tanpa perlu membuat yang lain merasa tidak nyaman.”

Sumber: Bisa juga cek ya di http://Hello-green-world.sharethisstory.net/id-331112-2346?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign=

Pantangan Backpacker

Untitled1Well, dunia backpacking ternyata menjadi dunia yang mengasyikkan sampai kapanpun. Dunia semakin terasa “mudah” karena akses teknologi informasi yang ada. Pengetahuan baru, kuliner baru, tantangan baru, kawan baru, siapa yang tidak ingin itu semua. Saya belum mencapai Eropa dan Amerika, tapi ada banyak tips yang bisa dipelajari terlebih dahulu. Ini link- link yang semoga bermanfaat buat kamu yang muda saatnya hadapi dunia!

1. http://Hello-green-world.sharethisstory.net/id-331112-2352?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign=

2. http://www.hostelworld.com/blog/what-nobody-tells-you-about-backpacking-in-europe-/158638

Hoho, ternyata kebiasaan tidak menyentuh lawan jenis juga terjadi di India, jangan memberikan tip saat menggunakan jasa restoran atau taksi di Jepang, tidak melingkarkan telunjuk dan jempol untuk bilang OK saat di Turki. What a fun world we have. So unique!

Jadi kapan mau keliling dunia? Sekarang harus dimulai!

Download E-Book Gratis dari Mizan

jokowiAda sesuatu yang menarik ketika kita bergumul dengan bacaan, buku, dan hal inspiratif lainnya. Tawaran- tawaran positif selalulah datang dan menjadi penyejuk keingintahuan kita terhadap sesuatu. Salah satu link yang saya dapatkan berhubung saya memang gemar membaca bacaan terbitan Mizan adalah amatan serta catatan politik. Mumpung gratis, lahap aja nih hehe:

http://www.mizanstore.com/selamat-datang-jokowi#.VZN3MFIU1n5

Semoga bermanfaat ya!Ini saya cantumkan juga link e-book gratis soal sholat :

http://www.mizanstore.com/detailebook/1-Buat-Apa-Shalat

PS: Ini bukan propaganda politik, hanya sekedar sharing sebagai bagian menjadi warga negara yang aktif

Mendefinisikan Ulang Properti (?)

Dalam konteks tata ruang, properti menjadi semacam peyorasi tersendiri ketika orang membayangkan bahwa properti adalah bagian dari bangunan dengan nilai investasi tinggi dan kesan wah mewah. Padahal properti memiliki definisi sederhana mengarah pada penyediaan bangunan atau hunian tertentu untuk tujuan tertentu.

Apa yang salah? Kecenderungan eksploitasi lahan tanpa batas? Bisa jadi. Penisbian bahwa banyak orang di luar sana yang masih membutuhkan tempat tinggal dan belum tersentuh secara signifikan? Maybe. Lalu seperti apakah properti yang diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan dan perkembangan sebenarnya? Indonesia dihadapkan pada tantangan bagaimana mengatur lahan yang semakin sempit terutama di perkotaan dengan kebutuhan properti dalam arti yang sesungguhnya untuk mengakomodasi mereka yang memerlukan. Alih- alih pertumbuhan ekonomi yang fantastis, properti yang dibangun dengan tidak berimbang dan cenderung investatif (untuk keperluan jual beli semata) justru akan menjadi boomerang pertumbuhan kota. “Meletusnya” balon- balon kredit macet sektor ini pada beberapa tahun silam di penjuru Amerika, UK, dan Asia kiranya menjadi perhatian lebih. Jadi, perlukah kita mendefinisikan ulang properti?

 

 

 

Sebuah Catatan Manusia

Manusia itu apa yang dia makan. Tetapi sekarang juga ada satu hal: Manusia itu apa yang dia bicarakan. Semua berasal dari lisan. Terkadang atau bahkan seringkali beban diri sendiri berasal dari perkataan. Harus ada perkembangan terbaik bagi ilmu pengetahuan. Jika kau tak bisa tinggalkan warisan, tinggalkanlah ilmu pengetahuan.

Manusia juga bisa berkembang dari renungan. Karena renungan tidak sekedar berupa pikiran tentang gagasan- gagasan. Tetapi lebih dari itu, ia tumbuh menjadi rangkaian- rangkaian penting mengenai penjernihan. Penjernihan hati. Tidak semua hal bisa. Berfokuslah pada apa- apa yang kamu bisa lakukan dan berkaryalah seperti kamu meninggal esok hari. Memang, Tuhan masih selalu berbelas asih memberimu waktu sehingga kau berpikir untuk menunda- nunda segala sesuatu. Tetapi bukankah bertindak yang terbaik itu lebih baik? Tuhan selalu bisa melakukan apa- apa sendiri, tetapi kita tidak. Eksekusilah ide dengan sesegera mungkin karena kau perlu menghimpun tenaga. Yang terkasih telah dinanti dan menanti, berharaplah kelak kau dapat memeluknya erat. Hidup memang terlampau singkat! Dan tampaknya tidak mudah menciptakan “shortcut”

Magelang, 14 Agustus 2013 jam 19:15 @depan rumah

Embrio Hijau

Pemuda lahir dari embrio hijau yang tiap saat dapat tumbuh. Entah di tanah gersang. Entah di tanah subur layaknya Indonesia. Kita tidak akan pernah lupa apa yang akan ditinggalkan oleh embrio hijau ini bagi nusanya kelak.
Jika embrio muda ini bergerak ke Timur, niscaya akan selalu membawa angina perubahan selaksa budaya yang lebih dekat jantungnya dengan negeri ini. Jika embrio ini bergerak ke Barat, niscaya perubahan juga akan terjadi, hanya hempasan angina yang dibawanya akan sanggup meruntuhkan tulangnya. Ia akan mungkin rapuh, tapi juga mungkin semakin kuat. Banyak nutrisi peradaban pagi dapat terserap.
Embrio hijau bukanlah embrio bayi. Ia akan dan pasti tumbuh menikmati bunga- bunga yang mekar. Ia akan tumbuh menghirup udara nan sejuk dengan rekahan mentari pagi. Suatu saat kita tak akan percaya bahwa embrio itu akan menjadi manusia hebat yang menyegarkan hiruk pikuk dunia. Kesegaran di tengah timpangnya social oleh perebutan tanah, air, dan udara. Embrio nusantara yang mendunia.
Hebat kiranya Engkau ciptakan bumi yang cantik ini. Bumi yang lengkap dengan cabang- cabang rimbunnya pepohonan. Bumi yang lengkap dengan akar- akar menghujam kuat banyak kayu berkualitas wahid. Ini benar- benar surge. Surga dunia. Mana hal yang tak bias kau dapat jika kaki kau injakkan pada gundukan- gundukan pasir putih di pantai yang masih perawan. Siulan burung senja masih sibuk mengintip gelap. Ada lagi yang harus kau catat, hijaunya bukit membawa jati diri embrionya itu bangga untuk pamerkan gunung- gunung tersembunyi.
Kita punya drama, tapi kita juga punya cerita yang selalu ada dalam tiap jengkal. Puisi negeri yang mengagumkan tiada terperi. Inilah hal yang embrio hijau itu akan selalu upayakan. Nama negeri itu Indonesia. Keagungan tiada tara. Tak seperti banyaknya kulit putih di belahan Utara sana. Embrio hijau adalah pemuda bersemangat yang selalu sedia menangkap matahari terbit. Calon yang selalu menangkap energi transisi dari matahari terbenam. Hidup seperti menganyam. Hidup membentuk buaian. Hidup membentuk polosan. Dan hidup membentuk senandung dalam banyaknya eksodus pemikiran, dari Timur ke Barat dan dari Barat ke Timur. Kita tidak akan pernah tahu kemana embrio hijau itu akan tumbuh dan menjadi berharga. Tapi kiranya nutrisi sang embrio cukup tangguh hadapi rintangan.
Tunggulah waktu 17 hingga 20 tahun. Wujud embrio itu akan segera kita dapat. Mungkin tegas, mungkin keras, mungkin lembut manghadapi perbedaan. Lautan tempatnya tumbuh menciptakan ketegasan itu. Sementara gunung- gunung menciptakan sentuhan angina lembut yang membuai namun kokoh bertahan. Hijau tetaplah menjadi jiwa aslinya. Embrio hijau yang selalu tumbuh. Embrio yang tidak akan pernah lupa warna dasarnya. Embrio yang tidak akan pernah lupa nyanyian alam yang juga jadikan ia selalu menabuh gendering cinta damai. Gendang bukan perang yang giat menyerukan dunia tanpa permusuhan.
Hijau selalu ciptakan putih- putih kesejukan. Tak mudah untuk selalu memupuk dunia yang asri tanpa debat sana- sini. Sejuknya alam hanya tersedia kelak jika ia menciptakan embrio baru. Embrio yang kian tumbuh, akan semakin lambat dan menua. “Life is so flat, but life can be so meaningful”.. Embrio hanya tahu bagaimana rasanya menciptakan dunia terus berjajar dengan hasrat berkarya. Tidak ada jeda untuk karya. Jeda hanyalah bagian dari istirahat sesaat. Sesaat adalah waktu istirahat yang tak boleh bangkrut.

Yogyakarta, 24 Februari 2015