5 classic research presentation mistakes

Sebuah pengingat bagi para periset šŸ™‚

The Thesis Whisperer

PresentationsĀ  for a faculty or disciplinary audience are subtly different to those you give at a conference, but not talked about as frequently. These ā€˜internalā€™ presentations are important because they tell your colleagues what kind of researcher you are; it helps you socially and academically to perform well to your peers.

This topic occurred to me as I sat in on a couple of examinations (vivas), completion seminars and a confirmation or two in recent weeks. I have sat through literally hundreds of assessment presentations if you count my years in purgatoryarchitecture school. So hereā€™s my top five classic research presentation mistakes, but Iā€™m going to stick with the verbal problems here because there are many great presentations about graphics, such as ā€˜how not to suck at powerpointā€™ and ā€˜how to make you presentation boringā€™.

1) TMI

Too much information (TMI) is the most common mistake Iā€¦

View original post 876 more words

Posted in Uncategorized

Sewa Tanah, Sewa Tempat Usaha *ajakan berinvestasi di kawasan aglomerasi?*

sewa rumahtempat usahatempat usahajual tanahSebelum membaca artikel ini, lagi saya sarankan cobalah membaca salah satu, dua, atau tiga dari beberapa tipe iklan yang sudah tak asing lagi coba saja cari informasi mengenaiĀ jual tanah ,tempat usaha, sewa rumah, serta beberapa lainnya seperti “disewakan apartemen Bali”, “apartemen murah di bali”, dan sejenisnya. Perkembangan dinamis ini menjadi bagian dari roda ekonomi khas perkotaan yang terus melebar. Jika takjub dengan harganya, mungkin tidaklah seberapa. Hal yang harus dihadapi adalah disaat logika kebutuhan dan persediaan itu berhadapan, itulah yang selalu menjadi bahan pemikiran. Namun iseng begini ternyata membawa pengetahuan baru. Tak ada salahnya mengamati jenis- jenis properti ini untuk pertimbangan kita tahu kondisi suatu kota, meramalkan masa depan kita jika berumah tangga (jika sudah punya jodoh *eh), dan mungkin pahala karena ikut promosikan situs. Tapi tak apalah, situs ditaruh agar kita sama- sama bisa menunjuk hal yang riil dan tidak ngawang.

Andaikan saya ingin menyewa tanah untuk usaha, dengan mengetahui informasi- informasi tersebut, hal mendasar untuk dilakukan adalah kroscek kebenaran dan validitas produk. Jika memang membutuhkan, penting untuk mempelajari situs dengan cermat dan membandingkan lokasi. Semoga saja situs seperti memberikan kita “daya jelajah” yang baik tentang memilih dan memilah properti. Catatan yang pasti, janganlah menumpuk properti atau akan merosot nilainya karena harus banyak merawat. Ingatlah pada orang- orang di luar sana yang masih membuthkan ruang untuk rumahnya. In short, again the main message is learning to be wise. Human is an economical craft.Ā 

 

Jual Tanah dan Jual Rumah! *sebuah kejutan aglomerasi perkotaan*

jual rumah jakartajual rumahBanyak cara diakukan dalam menghadapi masalah “kelangkaan” kesediaan lahan. Sebut saja misalnya yang terjadi di kawasan JABODETABEK. Beberapa riset properti menunjukkan makin melambungnya harga properti sejalan dengan meroketnya harga tanah dan kebutuhan masyarakat akan properti. Definisi properti semakin hari semakin manjadi pergulatan diantara istilah- istilah lainnya yang juga kian tersosialisasi dengan sendirinya. Misalnya jika ingin jual rumah dan mungkin juga penyedia jual beli setipe ini (perlu kajian lagi) menawarkan harga khas daerah aglomerasi. Fasilitas yang ditawarkan tentunya juga tidak main- main seperti ruang, lingkungan strategis, tampilan taman, dll. Esensi rumah menjadi hal yang ramai dibicarakan mengingat jamak dimaknai bahwa semakin melambungnya harga adalah logis adanya. Sebagai orang yang terus juga mengamati perkembangan kota Jogja, fenomena yang sama mungkin saja akan terjadi mengingatĀ jual rumah jakarta dan promo setipe memberikan kita gambaran kondisi perkotaan dewasa ini. Jika Jogja pernah diguncang dengan ide soal orang menjual rumah plus sekalian mendapat istri, kelak kita akan menemui suasana aglomerasi akan menimbulkan ide- ide “logis” lainnya tentang “kelangkaan” ruang. Agaknya patut direnungkan bahwa harga mahal pada properti juga lebih pada “kelangkaan’ akses masyarakat pada jenis properti itu sehinga muncul prestige tersendiri dalam memaknai perkembangannya.

Contoh lain jika kita ingin ke Bali, hal berbeda ditemukan. Bukan jual rumah yang populer disana namun properti kelas wow lainnya yaitu villa atau sewa hotel. Misalnya cukuplah googling via penyedia jasa travel atau situs resmi lainnya. Ini adalah contoh situs rumah123.com dan sejenisnya. (Haha ini kok seperti iklan lama- lama, tapi marilah pelajari saja). Contoh riil yang tak terbantahkan kemudian yang perlu diantisipasi. Jika rumah dijual itu masih logis, tapi jika suatu wilayah memiliki berbagai jenis properti dengan pemilik yang itu- itu saja kelasnya, ada penumpukan properti dan kemudian ruang yang tersedia harus bagaimana? Buy wisely, learn wisely, use space wisely too. It is a homework!

*) silahkan coba pelajari dan saya nanti responnya

Belajar Menjadi Orang

Hah? Memangnya kita bukan orang? Kok belajar menjadi orang?

Bukan begitu. Kita ini sudah orang, tapi apakah hati nurani kita juga sudah semestinya hati nurani orang? Saya belajar tentang bagaimana manusia menghadapi silaunya dunia dan terkadang lupa bahwa ada khasanah yang lebih penting dari sekedar materi, khasanah tentang bagaimana menjadi sebenar- benarnya “orang”.

Ketika ada sebagain orang menghabiskan makannanya, kita juga bisa mendapati ada sebagian orang merasakan kelaparan sejati. Pesannya sederhana, mengetuk hati nurani. Misalnya juga bagaimana kita bertoleransi, mengecilkan volume saat sedang asyik nonton film di gadget sendiri. Dan salah satu yang juga mengena adalah

“Jangan biarkan amarahmu terlihat di ruang publik. Temukan tempat lain untuk kamu bisa berdebat dengan seseorang tanpa perlu membuat yang lain merasa tidak nyaman.”

Sumber: Bisa juga cek ya di http://Hello-green-world.sharethisstory.net/id-331112-2346?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign=

Pantangan Backpacker

Untitled1Well, dunia backpacking ternyata menjadi dunia yang mengasyikkan sampai kapanpun. Dunia semakin terasa “mudah” karena akses teknologi informasi yang ada. Pengetahuan baru, kuliner baru, tantangan baru, kawan baru, siapa yang tidak ingin itu semua. Saya belum mencapai Eropa dan Amerika, tapi ada banyak tips yang bisa dipelajari terlebih dahulu. Ini link- link yang semoga bermanfaat buat kamu yang muda saatnya hadapi dunia!

1. http://Hello-green-world.sharethisstory.net/id-331112-2352?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign=

2. http://www.hostelworld.com/blog/what-nobody-tells-you-about-backpacking-in-europe-/158638

Hoho, ternyata kebiasaan tidak menyentuh lawan jenis juga terjadi di India, jangan memberikan tip saat menggunakan jasa restoran atau taksi di Jepang, tidak melingkarkan telunjuk dan jempol untuk bilang OK saat di Turki. What a fun world we have. So unique!

Jadi kapan mau keliling dunia? Sekarang harus dimulai!

Download E-Book Gratis dari Mizan

jokowiAda sesuatu yang menarik ketika kita bergumul dengan bacaan, buku, dan hal inspiratif lainnya. Tawaran- tawaran positif selalulah datang dan menjadi penyejuk keingintahuan kita terhadap sesuatu. Salah satu link yang saya dapatkan berhubung saya memang gemar membaca bacaan terbitan Mizan adalah amatan serta catatan politik. Mumpung gratis, lahap aja nih hehe:

http://www.mizanstore.com/selamat-datang-jokowi#.VZN3MFIU1n5

Semoga bermanfaat ya!Ini saya cantumkan juga link e-book gratis soal sholat :

http://www.mizanstore.com/detailebook/1-Buat-Apa-Shalat

PS: Ini bukan propaganda politik, hanya sekedar sharing sebagai bagian menjadi warga negara yang aktif

Mendefinisikan Ulang Properti (?)

Dalam konteks tata ruang, properti menjadi semacam peyorasi tersendiri ketika orang membayangkan bahwa properti adalah bagian dari bangunan dengan nilai investasi tinggi dan kesan wah mewah. Padahal properti memiliki definisi sederhana mengarah pada penyediaan bangunan atau hunian tertentu untuk tujuan tertentu.

Apa yang salah? Kecenderungan eksploitasi lahan tanpa batas? Bisa jadi. Penisbian bahwa banyak orang di luar sana yang masih membutuhkan tempat tinggal dan belum tersentuh secara signifikan? Maybe. Lalu seperti apakah properti yang diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan dan perkembangan sebenarnya? Indonesia dihadapkan pada tantangan bagaimana mengatur lahan yang semakin sempit terutama di perkotaan dengan kebutuhan properti dalam arti yang sesungguhnya untuk mengakomodasi mereka yang memerlukan. Alih- alih pertumbuhan ekonomi yang fantastis, properti yang dibangun dengan tidak berimbang dan cenderung investatif (untuk keperluan jual beli semata) justru akan menjadi boomerang pertumbuhan kota. “Meletusnya” balon- balon kredit macet sektor ini pada beberapa tahun silam di penjuru Amerika, UK, dan Asia kiranya menjadi perhatian lebih. Jadi, perlukah kita mendefinisikan ulang properti?

 

 

 

Sebuah Catatan Manusia

Manusia itu apa yang dia makan. Tetapi sekarang juga ada satu hal: Manusia itu apa yang dia bicarakan. Semua berasal dari lisan. Terkadang atau bahkan seringkali beban diri sendiri berasal dari perkataan. Harus ada perkembangan terbaik bagi ilmu pengetahuan. Jika kau tak bisa tinggalkan warisan, tinggalkanlah ilmu pengetahuan.

Manusia juga bisa berkembang dari renungan. Karena renungan tidak sekedar berupa pikiran tentang gagasan- gagasan. Tetapi lebih dari itu, ia tumbuh menjadi rangkaian- rangkaian penting mengenai penjernihan. Penjernihan hati. Tidak semua hal bisa. Berfokuslah pada apa- apa yang kamu bisa lakukan dan berkaryalah seperti kamu meninggal esok hari. Memang, Tuhan masih selalu berbelas asih memberimu waktu sehingga kau berpikir untuk menunda- nunda segala sesuatu. Tetapi bukankah bertindak yang terbaik itu lebih baik? Tuhan selalu bisa melakukan apa- apa sendiri, tetapi kita tidak. Eksekusilah ide dengan sesegera mungkin karena kau perlu menghimpun tenaga. Yang terkasih telah dinanti dan menanti, berharaplah kelak kau dapat memeluknya erat. Hidup memang terlampau singkat! Dan tampaknya tidak mudah menciptakan ā€œshortcutā€

Magelang, 14 Agustus 2013 jam 19:15 @depan rumah

Embrio Hijau

Pemuda lahir dari embrio hijau yang tiap saat dapat tumbuh. Entah di tanah gersang. Entah di tanah subur layaknya Indonesia. Kita tidak akan pernah lupa apa yang akan ditinggalkan oleh embrio hijau ini bagi nusanya kelak.
Jika embrio muda ini bergerak ke Timur, niscaya akan selalu membawa angina perubahan selaksa budaya yang lebih dekat jantungnya dengan negeri ini. Jika embrio ini bergerak ke Barat, niscaya perubahan juga akan terjadi, hanya hempasan angina yang dibawanya akan sanggup meruntuhkan tulangnya. Ia akan mungkin rapuh, tapi juga mungkin semakin kuat. Banyak nutrisi peradaban pagi dapat terserap.
Embrio hijau bukanlah embrio bayi. Ia akan dan pasti tumbuh menikmati bunga- bunga yang mekar. Ia akan tumbuh menghirup udara nan sejuk dengan rekahan mentari pagi. Suatu saat kita tak akan percaya bahwa embrio itu akan menjadi manusia hebat yang menyegarkan hiruk pikuk dunia. Kesegaran di tengah timpangnya social oleh perebutan tanah, air, dan udara. Embrio nusantara yang mendunia.
Hebat kiranya Engkau ciptakan bumi yang cantik ini. Bumi yang lengkap dengan cabang- cabang rimbunnya pepohonan. Bumi yang lengkap dengan akar- akar menghujam kuat banyak kayu berkualitas wahid. Ini benar- benar surge. Surga dunia. Mana hal yang tak bias kau dapat jika kaki kau injakkan pada gundukan- gundukan pasir putih di pantai yang masih perawan. Siulan burung senja masih sibuk mengintip gelap. Ada lagi yang harus kau catat, hijaunya bukit membawa jati diri embrionya itu bangga untuk pamerkan gunung- gunung tersembunyi.
Kita punya drama, tapi kita juga punya cerita yang selalu ada dalam tiap jengkal. Puisi negeri yang mengagumkan tiada terperi. Inilah hal yang embrio hijau itu akan selalu upayakan. Nama negeri itu Indonesia. Keagungan tiada tara. Tak seperti banyaknya kulit putih di belahan Utara sana. Embrio hijau adalah pemuda bersemangat yang selalu sedia menangkap matahari terbit. Calon yang selalu menangkap energi transisi dari matahari terbenam. Hidup seperti menganyam. Hidup membentuk buaian. Hidup membentuk polosan. Dan hidup membentuk senandung dalam banyaknya eksodus pemikiran, dari Timur ke Barat dan dari Barat ke Timur. Kita tidak akan pernah tahu kemana embrio hijau itu akan tumbuh dan menjadi berharga. Tapi kiranya nutrisi sang embrio cukup tangguh hadapi rintangan.
Tunggulah waktu 17 hingga 20 tahun. Wujud embrio itu akan segera kita dapat. Mungkin tegas, mungkin keras, mungkin lembut manghadapi perbedaan. Lautan tempatnya tumbuh menciptakan ketegasan itu. Sementara gunung- gunung menciptakan sentuhan angina lembut yang membuai namun kokoh bertahan. Hijau tetaplah menjadi jiwa aslinya. Embrio hijau yang selalu tumbuh. Embrio yang tidak akan pernah lupa warna dasarnya. Embrio yang tidak akan pernah lupa nyanyian alam yang juga jadikan ia selalu menabuh gendering cinta damai. Gendang bukan perang yang giat menyerukan dunia tanpa permusuhan.
Hijau selalu ciptakan putih- putih kesejukan. Tak mudah untuk selalu memupuk dunia yang asri tanpa debat sana- sini. Sejuknya alam hanya tersedia kelak jika ia menciptakan embrio baru. Embrio yang kian tumbuh, akan semakin lambat dan menua. ā€œLife is so flat, but life can be so meaningfulā€.. Embrio hanya tahu bagaimana rasanya menciptakan dunia terus berjajar dengan hasrat berkarya. Tidak ada jeda untuk karya. Jeda hanyalah bagian dari istirahat sesaat. Sesaat adalah waktu istirahat yang tak boleh bangkrut.

Yogyakarta, 24 Februari 2015

What the best education systems are doing right

ideas.ted.com

See all articles in the series

In South Korea and Finland, itā€™s not about finding the ā€œrightā€ school.

Fifty years ago, both South Korea and Finland had terrible education systems. Finland was at risk of becoming the economic stepchild of Europe. South Korea was ravaged by civil war. Yet over the past half century, both South Korea and Finland have turned their schools aroundĀ ā€” and now both countries are hailedĀ internationally for their extremely high educational outcomes. What can other countriesĀ learn from these two successful, butĀ diametrically opposed, educational models? Hereā€™s an overview of what South Korea and Finland are doing right.

The Korean model: Grit and hard, hard, hard work.

For millennia, in some parts of Asia, the only way to climb the socioeconomic ladder and find secure work was to take an examination ā€” in which the proctor was a proxy for the emperor, says Marc Tucker, president and CEO of the National Center onā€¦

View original post 1,392 more words

Posted in Uncategorized