SEDERHANAKAN PILIHAN, PERINDAH PENCAPAIAN

Bicara tentang sederhana, bisa jadi hal relatif. Tetapi jika sejak hidup kita ditempa untuk berpikir karena memang terlahir sederhana tentu ini lain cerita. Namun yang jelas, sederhana itu anggun.

Ada banyak kalimat manis dapat diciptakan, tapi tidak kesederhanaan. Ia adalah sesuatu yang butuh tempaan. Semakin berkilau diri kita, semakin lah baik jika dapat sederhana. Apakah ini soal pakaian? Gaya hidup? Sederhana bisa tentang apapun juga. Termasuk cara pikir. Boleh dan memang menyederhanakan pilihan akan membuat otak tidak banyak menghabiskan banyak waktu untuk memilih, namun pastikan pencapaiannya besar. Dalam artian, lakukanlah hal terbaik dalam hidup kita menggunakan energi terbaik kita.

Bagaimana jika kita gagal? Sederhana saja, boleh jadi usaha kita kurang baik.

Bagaimana jika kita ditipu? Sederhana saja, penipu tidak lebih baik dari kita.

Bagaimana jika kita tak tampak cantik atau ganteng? Sederhana saja, ini jaman super modern, ukuran cantik ganteng tak sekedar wajahmu saja, namun otak dan kebermanfaatan.

Bagaimana jika kita dipecundangi? Sederhana saja, oh berarti pecundang itu tak cukup nyali melakukan hal baik pada kita. Cukup hadapi dan tertawa lah.

Bagaimana jika tidak bisa ini itu? Sederhana saja, yang ini Anda terlalu khawatir! Harus di ctrl + a terus del dari pikiran kita hehehe. Ketakutan hanya ada di dalam pikiran. Tapi beda ya dengan ketakutan karena rasa bersalah.

Bagaimana jika sudah berusaha maksimal, berdoa optimal, apapun juga ada juga kegagalan? Sederhana saja, kita ini manusia. Pengatur takdir ya Yang Maha Esa. Berarti rejeki kita belum disana. Bersyukur lebih utama.

Dan “bagaimana-bagaimana” lainnya dalam hidup kita. Sederhana saja, hidup sering juga bercanda, agar kita dapat sesekali menertawakan diri, bangkit, lalu terus bergerak. Persis seperti mengendarai sepeda. Harus terus diayun, terus dikayuh, agar sampai tujuan.

Tapi ada hal yang tidak dapat sesederhana itu kita hadapi oleh karenanya kita musti hati-hati. Saat ada banyak orang yang tersiksa, terluka, diambil haknya, atau apapun rupa kedholiman manusia. Entah itu pada alam atau manusia. Karena rasa bersalahnya sangat susah obatnya. Bencana atau malapetaka. Tidak ada obatnya di jual di pasaran. Kecuali kembalinya nurani. Nah kan, balik sederhana lagi ternyata. Hehehe. Jadi sudah nemu arti “sederhana” belum?

Advertisements

SMART CITY BUTUH STRATEGI, BISA DIMULAI DARI PEMUDA YANG HOBI BERBAGI

Saat bicara soal kota cerdas, sering terjadi banyak kekeliruan bahwa prinsip ini mengedepankan hanya hardware, software, atau high-tec lainnya. Padahal, sebetulnya rangkaian teknologi tersebut adalah bagian dari tools untuk membuat suatu kota itu “cerdas”. Komponen kota cerdas juga ada pada manusia, lingkungan, ekonomi, dll. Ada banyak versi soal komponen apa saja yang harus dikaji lebih lanjut. Namun, setidaknya ada hal
“seksi” lainnya bahwa cerdas dimaknai juga sebagai peran yang mengedepankan efektifitas, efisiensi, dan dampak lebih luas daripada ketika kita tidak mengaplikasikan prinsip tersebut. Hal itu adalah tentang bagaimana suatu “bangunan sistem” dirancang saling terintegrasi dalam meningkatkan kualitas masyarakat. Mengingat kehidupan ini sangat antroposentris alias menitikberatkan banyak hal demi kepentingan manusia sebagai prioritas (betapa merusaknya ya manusia jika menciptakan kemajuan tanpa toleransi lain pada alam).

Ada berbagai jenis bentuk penggalangan dana cara kreatif yang dihasilkan oleh komunitas digital kita. Kita bisa kemana saja misalnya dengan crowdfunding kitabisa.com dan bisa juga mengumpulkan donasi via geevv.com sebagai search engine buatan Indonesia. Walau masih ada minus (segala hal pasti punya itu), dampak nyata kedua contoh itu sudah cukup teruji. Saat ini, geevv.com bahkan sudah mengumpulkan lebih dari 123 Milyar donasi untuk masyarakat. Kok bisa? Inovasi sembari mengabdi pada negeri. Satu kali klik dan search berharga Rp10 jadi semakin sering klik dan search, makin banyak dong donasinya. Makin banyak dong orang yang akan terbantu. Saya coba lihat perkembangan geevv.com beberapa bulan terakhir dan ini gagasan “sederhana” yang tereksekusi dengan baik. Apa susahnya klik dan search? Sembari juga belajar kedalaman “engine” ini menyajikan info yang kita cari. Saya berharap geevv.com bisa juga memfilter konten-konten negatif seperti pornografi mengingat makin banyaknya populasi pemuda Indonesia. Saya beruntung terus berada dalam kajian dan lingkungan teknologi seperti ini. Tidak wajar jika UNMGCY , salah satu lembaga PBB untuk anak-anak dan pemuda amat getol menyimak isu kepemudaan di Indonesia. Jejaring dan hubungan erat antara “otak dan hati” khas Indonesia sangat terwakilkan dari dua penemuan bermanfaat itu.

Kelak, saya yakin, anak saya (dan anak siapa saja ke depan tentunya) bisa menjadikan contoh demikian sebagai pelecut berkarya lagi dan terus. Cerdas boleh, tapi hati jangan cadas! Perlembut dengan terus berinovasi sekaligus berbagi.

Tahun 2017 hampir habis. Karya ke depan harus berjalan. Tanpa batas habis. Karena kota cerdas, hanya dapat dicapai dari warganya yang berdayaguna.

Selamat menyambut awal tahun baru dengan strategi kemajuan baru. Yuk!

Kontemplasi lain bisa disimak di http://www.mie2gination.wordpress.com

DEMAM FAHRI : SEBENARNYA KITA BELAJAR APA?

Jika Skotlandia dan kisah “kesempurnaan” Fahri sedang menjadi buah bibir saat ini, mungkin ada hal yang terlupa bahwa sosok Fahri bukan tidak mungkin melewati tempaan yang sedemikian rupa hingga ia bisa “hidup” sebagai sosok yang begitu cerdas, cukup kuat iman, namun mengapa justru nampak bimbang saat dihadapkan pada percintaan. Adaptasi film dari novel pasti memiliki “gap”. Jelas. Namun bukan itu yang jadi soal, pemuda yang menyimak kisah Fahri dan segala “kerumitan penemuan cintanya” terhadap manusia butuh dicerna. Kondisi ideal itu belum tentu benar-benar dapat diwujudkan dalam konteks dunia nyata. Lantas muncul begitu saja tren-tren membabi-buta soal memilih wanita sebagai pendamping hidup dengan “mudah”.

Film berperan sebagai inspirasi dan edukasi, tapi jangan lupa ada unsur hiburan di dalamnya. Menelan mentah-mentah indahnya ” poligami”, indahnya “memilih banyak wanita” bukanlah pesan utama dari film yang juga memiliki unsur edukasi reliji ini. Saya yakin Abang El penulisnya ingin mengedepankan bagaimana seorang pria mapan, berakal baik, beragama baik, mampu menyibak persoalan-persoalan manusia dengan bijak. Dan bukan “kemudahan” menjatuhkan cinta kepada seseorang.

Sayangnya banyak review yang menjurus tentang bagaimana hal-hal yang mungkin lebih remeh temeh seputar kegantengan kecantikan, dan atribut-atribut kasat mata lainnya. Ada baiknya review lebih diarahkan ke bagaimana nilai, level edukasi karya, serta dampaknya bagi masyarakat.

Semoga demam Fahri tidak semata tentang bagaimana seseorang “memohon” cinta seseorang lainnya, namun bagaimana keindahan beragama itu tampil senyata-nyatanya.
Ngomong-ngomong, yang punya nama Fahri banyak sih 😉

APAKAH TANGAN SAYA BERMINYAK?

 

Saya akui saya masih awam tentang ilmu perbatinan ya. Jadi jika ada IPK yang dibutuhkan untuk mengukur kemampuan saya dalam bidang ini, bisa jadi nilai saya C. Namun soal etika, boleh jadi kita bisa belajar bersama-sama.

Dalam banyak bidang, pemuda kita sudah banyak mengalami kemajuan. Akses informasi dan masuk ke jaringan tingkat global pun sangat mungkin dicapai walau jelas itu membutuhkan kerja keras (baca kerja cerdas) untuk mencapainya. Hanya saja mungkin ada beberapa pergeseran nilai yang dari dulu belum berubah bahwa boleh jadi bangsa lain yang lebih tinggi (badannya dan mungkin teknologinya) dirasa jauh lebih layak untuk disalami terlebih dahulu ketimbang ketika bertemu dengan sesama orang Indonesia berkulit coklat, baju biasa saja, tetapi wisdom boleh jadi luar biasa.

Dalam beberapa kali forum internasional yang saya pernah terlibat dan turut serta entah itu sebagai pembicara, panitia, atau observer, ada satu perilaku yang selalu memiliki pola sama.
1. Ketika pemuda gila foto
2. Ketika pemuda gila wibawa

Belum mengenal siapa yang ia hadapi, cukup “say hi”, langsung jepret lalu ” upload” dan merasa dirinya “cukup”. Dalam perjumpaan dengan delegasi sesama bangsa pun, tidak jarang tangan saya (yang saya rasa tak berminyak ini) luput dari jabat tangan sesama pemuda Indonesia karena mereka sibuk menyalami bule atau siapapun mereka yang biasanya dianggap lebih baik (biasanya white skinned people). Saya berpikir, oh mungkin tangan saya terlalu lembab ya untuk disalami. Sudah saya coba untuk tidak memakai tisu karena lumayan lebih ramah lingkungan toh.

Kejadian serupa membuat saya berpikir apakah benar orang-orang Indonesia itu rendah? Kurang kece untuk ” tebar wibawa”? Atau bagaimana. Ternyata penyelaman memaknai hal ini membutuhkan waktu sedikitnya 5 tahun bagi saya. Saya hampir yakin bahwa ada yang keliru dengan cara pandang kita memandang bangsa kita sendiri. Inferior. Padahal pola pikir inlander macam itu harusnya sudah usang karena kita sudah jadi bangsa merdeka dari tangan sendiri sejak 1945. Nenek moyang kita juga bukan pengecut atau penjajah. Malah petarung sejati, pelaut handal, pemuka spiritual hebat, dan apalagi? Banyak kan. Apakah karena kita belum memiliki Hollywood sehingga kita perlu takut dan merasa rendah sehingga lupa bangsa sendiri?

Apa efeknya jika perilaku seperti ini dibiarkan? Berlalu begitu saja?
Sebagai gambaran umum, forum internasional biasanya merumuskan juga beberapa hal penting tentang pembangunan. Pentingnya voting oleh delegasi menentukan harga diri, nasib, serta masa depan lainnya baik dari negara itu ataupun secara umum lembaga internasional. Siapa yang dikenalnya akan mempengaruhi kemana arah keputusan itu dibawa. Jika isu-isu global yang boleh jadi tak harus disetujui karena tidak relevan dengan kondisi bangsa dan negara kita, ya tak perlu disetujui. Namun karena sikap-sikap inferior itu sering terjadi pola ketidaktegasan atau sekedar ikut bangsa yang dianggap besar. Menganggap bahwa bangsa besar selalu dapat menjadi panutan. Memang ada banyak hal yang dapat jadi teladan, tetapi ada pula yang tidak. Itu mengapa menghormati orang dari bangsa sendiri akan memberikan adaptasi batin dan pikiran kita untuk menyelami permasalah bangsa dengan lebih bijak. Tidak sekedar mengekor hal “keren” atau sekedar tren global. Kalau negara kita tidak bisa sepakat dengan LGBTQ sebagaimana negara lain, berarti ada alasan mengapa itu terjadi. Kita tidak dapat memaksakan hal di luar negeri sekalipun itu sedang tren untuk dipakai di negara kita. Kalau pernikahan sesama jenis adalah lumrah di Amerika (atau Eropa) yang baru-baru saja juga disahkan bisa diterima disana, ya jangan mentah-mentah kita anggap itu kebenaran. Bangsa kita bangsa yang menghargai dan menghormati manusia secara esensial, lahir dan batin, dan ingat bahwa sila pertama kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa sehingga norma-norma berjalan atas dasar juga kita ingat bahwa Tuhan melihat segenap perilaku kita. Aturan Tuhan menjadi batu pijak kita. Bukan sekedar rasio atau mau diri saja. Kita patut hormati hukum positif dan norma negara lain, tetapi paling penting hormati juga bangsa ini. Sudah banyak wisdom leluhur kita yang perlu kita jaga, bahkan di usia ini mungkin kita belum bersungguh-sungguh menyelami apa maksudnya.

Kita boleh maju seperti Jepang, kita boleh kuasai pasar seperti Amerika atau China, kita boleh membuat gebrakan berani seperti Turki, juga boleh meniru Australia memproteksi lautnya, kita boleh memukul kesuksesan bangsa lain untuk kemajuan kita. Boleh. Tetapi jangan lupa “salami” orang kita juga terlebih dahulu. “Salami” harga dirinya dengan baik. Kita ingat satu pesan Bung Karno yang masih relevan hingga kini. Bahwa mengantarkan kemerdekaan itu lebih mudah daripada mengisi kemerdekaan, namun dalam mengisi kemerdekaan itu, kerapuhan sendi bangsa bisa terjadi karena sesama saudara saling perang sendiri. Sulit berjabat tangan. Menjadi pengkhianat tanpa terlihat.

Jadi masalah jabat tangan saja kok repot begini sih, Emmy Emmy! Sudah cek tanganmu berminyak apa belum seperti saya? Muka saya mungkin yang berminyak ya. Makanya banyak jerawat. Mungkin saya butuh baca buku Gus Dur juga deh. Gitu aja kok repot!

Kontemplasi lain dapat dibaca di http://www.mie2gination.wordpress.com

SEPERTINYA BUKAN SAYA YANG PENDEK

 

Saya memiliki satu adik laki-laki dan satu adik perempuan. Beda dua tahun dan sembilan tahun. Setiap menengok adik perempuan saya, Ibu saya selalu tanya, ini Emmy atau Emma?
Bukannya apa-apa. Saya berpikir, tinggi badan saya yang stagnan atau adik saya yang tumbuh terlalu tinggi ? Haha

Sama juga mungkin ketika mengetahui adik angkatan yang beda jauh di bawah saya namun daya kreatifitasnya luar biasa. Andai arogansi itu muncul, pastilah saya akan bilang “hei bukan saya yang malas mengikuti perkembangan ya, kamu yang beruntung lahir telat zaman” dan jenis arogansi lainnya.

Nah mungkin sama juga dalam berbangsa. Biasanya semakin sedikit kita “membaca” maka semakin banyak kita “bicara”. Semakin sering melihat orang lain alias ” rumput tetangga” maka semakin mampu melihat detail salah orang lain. Sementara itu, ada debu-debu arogansi berserakan di dalam hati yang belum juga segera “dibersihkan”.

Sejatinya orang lain hanya menyimak permukaan orang lain. Tidak pernah mengamati betul-betul persil hidup seseorang kecuali mungkin ia mengabdikan dirinya sebagai pengamat sejati, pecinta sejati, atau menjadikannya idola. Bahkan fans pun bisa keliru menilai idolanya.

Nah idola abadi kita (khusus untuk Muslim adalah jelas, Nabi Muhammad s.a.w) dan banyak tokoh lintas agama pun mengulas bagaimana kehebatan beliau (ingat beliau tak mau dibilang hebat, yang hebat hanya Allah SWT). Banyak buku di Barat juga tercengang bagaimana sosok itu bisa mencengkeram 2/3 bagian bumi hanya dalam waktu ” singkat”. Selidik boleh selidik kuncinya adalah karena salah satu sifat beliau yang mampu mengonsolidasikan banyak elemen bahkan non muslim sekalipun. Bahwa Islam adalah agama damai. Penuh keberkahan. Tidak sepatutnya mengacungkan telunjuk sekedar untuk merendahkan orang lain namun empat jari lainnya lupa diri.

Dalam membangun negeri, perbedaan adalah keniscayaan. Bantulah mereka yang belum memperoleh hidayah dengan cinta kasih itu. Yuk siram terus mental saling memajukan. Tahu kan bahwa untuk membuat suatu garis lebih pendek bukanlah menghapus beberapa cm garis itu, namun perpanjangan garis Anda dengan prestasi, keanggunan, elegan saja. Nanti ndak seperti saya, udah pendek, ga ngerasa pulak. Haha. Harusnya sih saya cukup akui saja kalau adik saya itu memang jauh lebih tinggi. Mungkin karena lebih baik gizi wkkk.

PELAKOR + PRIA YANG BERSELINGKUH = SAMA-SAMA KELIRU

Ada banyak bentuk pengkhianatan terjadi. Kisah banyak kawan saya cukup banyak menginspirasi bagaimana sebuah pengkhianatan mampu menghadirkan kesenyapan, kelesuan, kesakitan, tanpa batas apalagi jika menyerang orang-orang yang disaat terjadi sedang lemah iman.
Bagaimanapun juga, pengkhianatan dalam suatu hubungan yang dibentuk karena adanya rasa kasih saying amatlah melukai si korban. Tidak ada pembenaran untuk apapun yang disebut dengan pengkhianatan. Dalam satu kali pengkhianatan, pastilah ia dibarengi dengan “kejahatan” lain sehingga karenanya berkhianat memiliki derajat sangat rendah jika dilakukan oleh seseorang.
Pengkhianat biasanya menggabungkan berbagai bentuk “kekerasan” verbal untuk setidaknya membandingkan antara pasangan sah dengan selingkuhannya, pasangan yang berkomitmen dengannya dengan selingkuhannya. Lucunya, orang yang sedang berselingkuh selalu merasa bahwa yang mereka lakukan adalah sah-sah saja karena itu cinta. Hahahaha. Ini namanya gila!
Memang efek besar akan diderita pelakor karena seumur hidupnya akan selalu di cap sebagai perempuan buruk, susah sekali cap ini dihilangkan. Bagaimana dengan pria yang mengajaknya atau mau berselingkuh dengannya? Ya keliru juga! Tapi mengapa selalu tak dibahas? Karena dianggap biasa atau bias gender. Perkaranya, jika yang diobrolkan pihak pria, nampaknya kurang “seksi” diulik. Bukan berarti ini membela pelakor ya hehe. Pelakor tetaplah keliru, hanya saja, ia tidak sendiri. Tidak ada kucing masuk ke rumah jika tidak diijinkan masuk ke dalam. Pembuka pintu itulah yang perlu juga dipersalahkan. Memang ada banyak alasan mengapa perselingkuhan dapat terjadi (Anda harus tahu bahwa setiap korban perselingkuhan masih akan selalu merasa depresi di titik awalnya, kebingungan mencari pegangan dan berusaha menegakkan kepala untuk melihat kenyataan bahwa orang yang ia sayangi atau cintai telah berkhianat!).
Media sedemikian, hebohnya membahas pelakor seakan masalah sosial hanya ini, namun kehilangan kontrol untuk memberikan solusi apa yang dapat dipelajari dari kisah itu. Lama kelamaan anak muda menjadi justru terinspirasi mengetahui hal tersebut menjadi sebuah tren, dan apesnya mengikuti! Peran orang tua mendampingi anaknya dalam memahami isu-isu yang sedang happening atau sedang hits amat berharga.
Salah satu yang unik. Kocaknya, ketika saya di dalam bus umum bersama anak-anak SMA (jaman SMA saya bahkan lebih cupu untuk membahas isu ini), mereka dengan santainya membincangkan nama-nama selebritis yang disebut pelakor! Bahkan mereka fasih menyebut siapa saja selingkuhannya. Jujur saya miris. Mereka dengan asiknya membicarakan istilah pelakor dengan riak tawa seolah itu hanya istilah biasa tanpa makna. Ada lubang tak kasat mata menganga dalam contoh kecil ini. Mereka menganggapnya sebagai guyonan karena itu sedang diperbincangkan banyak sekali netizen dan muncul viral dimana-mana. Saya coba mencairkan situasi (ini sedikit sok kenal sok dekat ceritanya) menanyakan SMA mana mbak-mbak, kelas berapa, saat ini kalua SMA lagi heboh masalah apa. Heboh soal USBN cukup menjadi obat kekhawatiran saya. Oh berarti mereka masih punya perhatian dengan itu. Tetapi rupanya saya dikejutkan lagi dengan cerita kedua.

“Heboh pelakor mbak! Buat hiburan. Stres belajar terus. “ *bulu kuduk mulai berdiri*
“Belajar kan sudah keharusan biar mbak sukses toh. Kok stress. Memang bacaan sekarang nemu dimana?” tanya saya sok kepo
“Weh ya Line, IG, Facebook, banyak mbak. Wah mbak punya IG ga? “ *miris sekaligus bulu kuduk makin berdiri karena selain saya tak punya IG, ternyata filter berita kepada mereka juga minim*
Well, jadi mengapa seorang peneliti seperti saya sok-sok an mencampuri urusan pelakor sih sebenarnya hahaha. Dan karena amat dekat dengan pengembangan pemuda, penting kiranya pemuda masa ini menjadikan banyak kisah itu sebagai pelajaran sehingga bisa dihindari di kemudian hari. Serta bijak menyikapi bacaan di media sosial. Karena saya prihatin! Dan penelitian random saya cukup membuktikan bahwa sisa tragis dari pengkhianatan berlangsung seumur hidup! Bayangkan! Seumur hidup. Apapun levelnya. Mau mereka yang diselingkuhi sewaktu pacaran, partneran, taaruf, hampir menikah, pernikahan baru, apalagi pernikahan lama. Semua pengkhianatan sifatnya sama, hanya menciptakan luka yang bisa meradang kapan saja. Itulah mengapa pengkhianat akan susah sekali mendapat ampun. Menyesal ia seumur hidup. Dan tidak tahu juga apakah akan memperoleh cinta sejati atau tidak. Semoga hanya pintu tobat yang mampu menyembuhkan. Itu pun pasti hukum sebab akibat berjalan terus.
Orang yang disakiti, jika ia mampu mempertebal imannya, akan memaafkan dan menjalani hidupnya dengan terus menjaga semangat menatap masa depan. Walau tentu ia tak akan pernah melupakan sepenuhnya pelajaran dari perselingkuhan atau pengkhianatan apapun jenisnya. Lucunya, banyak pelaku selingkuh (baik itu pelakor dan prianya) tak tahu diri atau semakin ngelunjak. Sadar jika orang baik yang mereka selingkuhi mampu memaafkan, seolah membuat mereka semakin bebas saja. Harusnya tidak demikian. Dimaafkan harusnya semakin tahu diri bahwa ia tak akan pernah mampu mengembalikan gelas kaca yang pecah! Bertanggung jawab penuh tanpa disuruh! Dan meminta maaf tanpa diminta!
Saya jadi tahu betapa nestapa itu ada. Banyak pelakor bangga-bangga dan seenaknya bilang bahwa sesama wanita tak boleh saling menyakiti. Hei! Anda sudah lebih dahulu menyakiti pasangan sah pria yang Anda terima sebagai sleingkuhan Anda!
Logika-logika yang terpaksa dibawa-bawa oleh pelakor dan sialnya, pria yang berselingkuh dengannya akan membelanya. Lupa arah! Lupa daratan!
Oke, kesalahan fiks ada di dua manusia ini. Tidak hanya pelakor.

Lalu apa solusinya dan bagaimana sebenarnya keluar dari masalah ini?

 

1. Tuhan Maha Benar.

Jangan pernah lari dari-Nya saat ujian hadir. Menjadi gentle dan ajarkan kedua orang yang menyakiti Anda itu (pelakor dan pria Anda) bahwa Anda melakukan hal esensial dalam hidup. Tugas Anda memaafkan, ikhlaskan, dan lihat apa yang akan terjadi. Karena Tuhan tidak tidur! Dan itu sungguh-sungguh terbukti. Bahkan sangat cepat hukum sebab akibat itu terjadi.

 

2. Koreksi diri.

Namun jangan menyalahkan apalagi merendahkan diri sendiri. Berselingkuh itu SALAH! Menerima PESELINGKUH saat ia dalam hubungan dengan orang lain juga KELIRU! Jadi angkat kepala Anda karena mahkota Anda hampir jatuh. Menangislah sepuasnya, setelah itu mengaumlah dengan karya lebih baik.

 

3. Fokus pada hal positif.

Anda tidak sendiri. Keluarga, kawan, kenalan, komunitas, selalu ada untuk Anda. Mereka akan ada untuk Anda. Bersibuklah dengan hal positif.
4. Tuhan selalu punya rencana baik.

Tuhan tidak pernah buruk. Manusia hanya butuh mengerti. Mungkin orang yang menyalahi Anda itu memang ditakdirkan tersingkir dari hidup Anda dengan tegas. Nyeri, agar Anda tidak kembali lagi kepada kesalahan atau oenderitaan terlampau lama. Karena Anda berhak mendapat hal yang lebih baik. Jika kasusnya untuk Anda yang belum menikah, berarti orang itu bukanlah terbaik untuk Anda. Jadi jangan tangisi orang yang bahkan tidak menangis untuk Anda!

 

5. Memaafkan bukanlah kekalahan.

Itu keanggunan pribadi. Jika perlu minta maaflah yang paling awal. Karena bisa jadi itu jalan dakwah Anda (apapun agama Anda). Ini akan memberikan kelunakan agar setidaknya dua orang yang menyalahi Anda tetap dapat menjadi manusia di kemudian hari walau tanpa Anda tentunya. Jangan membalas keburukan dengan kebaikan. Derajat Anda jauh lebih baik. Mereka akan kesakitan dengan penyesalan tanpa akhir. Anda justru setelahnya dapat bahagia tanpa akhir. Semoga.

 

6. Hidup selalu seimbang.

Baik dan buruk berdampingan. Tetaplah menjadi baik walaupun Anda dihadang oleh keburukan. Jangan menyesal pernah berbuat baik, setia, tulus, namun jangan bodoh.

7. Ada lagi? Bisa isi sendiri ya hikmahnya.
Semoga tulisan ini bisa menjadi penghibur untuk korban-korban pelakor atau pria yang mau membukakan pintu bagi pelakor (karena mereka berdua keliru, bukan hanya pelakornya) dan menjadi pelajaran agar kejadian serupa tidak terjadi terus menerus. Kedua, semoga ke depan kita generasi muda bisa menjaga atau setidaknya mengedukasi jenis-jenis bacaan yang layak dikonsumsi anak dalam masa pertumbuhan sekolah agar mengerti apakah suatu istilah itu patut atau tidak didiskusikan di usianya. Ketiga, yuk ciptakan berita-berita yang lebih inovatif dan memberikan wawasan baru. Boleh kasus ini diangkat, namun tolong cantumkan juga solusi riil agar keluarga Indonesia hususnya bisa menghindari dan menyikapi hal ini dengan lebih solutif. Keempat, hehe diisi sendiri ya barangkali masih banyak lagi manfaatnya. Semoga.

 

NB:
Tulisan ini juga salah satu bentuk kepedulian saya terhadap kawan-kawan yang telah sudi mempercayai saya dalam hidup mereka. Kisah mereka membuat saya belajar. Bangkitlah! Buatlah garis lebih panjang dengan karya tanpa harus menghapus garis orang lain agar mereka terlihat rendah. Tuhan tidak pernah tidur. You are beautifully born by meaning! Do not be a loser. The cheater indeed the loser! And person who takes care the cheater is so much hard. She takes the hardest job in the world! You do not deserve to get a cheater!

Cantik itu…

Perona pipimu tidak akan berfungsi jika tidak ada senyuman di wajah kamu, wahai wanita cerdas. Bagaimana senyuman itu benar-benar bisa sampai ke hati? Asahlah kecantikan dalam diri. Investasikan otakmu dan batinmu melebihi investasi kosmetik kamu. Coba sederhanakan hidupmu, tapi bukan mimpimu. Mimpimu untuk terus berguna hingga jatah hidup kita berakhir entah kapan.

‘Myyyy, aku g pede nih g pake blush on’

‘Apa sih yang kurang dariku? Emang aku kurang cantik yah?’

Dan berbagai jenis keluhan khas kawan-kawan perempuan saya. Seru, kocak, dan ada pula yang tragis (literally). Dari banyak hal yang mereka curahkan pada saya, saya mengerti bahwa ada satu hal yang dilupakan. Bahwa sejatinya hidup itu harus dijalankan dengan esensi saja, tak perlu mengejar hal non-esensi hanya agar dikira pintar, sholehah, atau apapun juga dalam kadar manusia umumnya. Tampak segar dengan blush on boleh jadi penemuan artifisial paling unik. Buktinya banyak wanita rela merogoh kocek agar wajahnya dikira segar, dikira bersinar, dan dikira berseri. Walaupun hatinya nyeri. Lupa esensi. Bahwa berseri dan nilai hidup ditentukan dari senyuman asli yang berasal dari kesegaran jiwa yang asli.

Bagaimana kesegaran itu tercapai? Being simple. Jadilah sederhana.

Sederhana berarti bahwa perempuan tahu mana yang harus diutamakan dan mana yang tidak. Mana yang penting dan tidak. Mana yang sungguhan dan mana yang artifisial. Sederhana bukan berarti lemah. Bukan pula sekedar apa adanya. Namun sederhana adalah kekuatan mengabaikan hal yang tidak perlu dalam hidup ini karena hal yang tidak perlu itu tidak dibawa mati. Sederhana lebih berbicara melalui kesahajaan. Bingkainya kesabaran. Dan boleh jadi penutupnya kaca jernih yang tahan pecah karena tebal, telah melewati proses pembuatan pedih yang menyakitkan. Kaca yang bisa membuka jendela hidup dengan sejernih-jernihnya. Setiap perempuan itu cantik. Kecantikan sejatinya ada pada senyuman terbaik yang dihasilkan dari proses hidup terbaik. Senyuman bukanlah sekedar bentukan lekuk di sekitar bibir yang fokus diberi gincu, namun senyum yang muncul karena kepuasan batin menjadi insan yang berguna. Punya arti. Punya manfaat. Sudahkah kita terus mengoreksi senyuman kita setiap waktu? Benarkah kita bahagia dengan kerumitan yang kita cipta? Dengan kegaduhan yang kita ciptakan. Coba telaah kembali. Sudah sederhanakah hidup kita? Karena hanya satu yang tak boleh sederhana. Daya guna kita. Syukurilah kecantikan kita dengan terus mempercantik batin kita juga. Pria diciptakan sebagai insan yang saling melengkapi hidup kita menjaga keseimbangan kita, bukan sepenuhnya tempat bergantung perbaikan diri kita. Semakin cerdas diri kita sebagai perempuan, lebih banyak peluang anak dan keluarga kita kelak pun demikian. Kita bisa kan bekerjasama untuk menghapus citra buruk perempuan cerdas itu tak cantik? Atau citra buruk lain seperti perempuan cerdas itu susah diatur?

Kecantikan itu, keindahan itu, jadikanlah satu. Dalam keindahan manfaatmu. Sederhanakanlah hidupmu, namun tinggikanlah kualitasmu. Percantiklah dirimu, namun percantik juga otak dan sikapmu. Nanti, saat kita sudah menua, anak cucu kita akan terus memuji kecantikan kita.

‘Oma, oma cantik deh. Aku mau kayak Oma. Makasih ya Oma udah didik Mama hebat aku. Makasih ya Oma udah sayangin aku juga, cucu beruntung Oma!’

NB: Hahaha, apa enggak melting kalau cucu kita ngomong begini?

 

Wanita: Antara Jodoh dan Bangsa

Oleh:

Emmy Yuniarti Rusadi

Adalah sebuah refleksi diri bagi wanita dimana saja khususnya muslimah jika hendak mendedikasikan hidupnya kepada kepentingan publik apapun itu. Segala pilihan amat membutuhkan kebijaksanaan. Secara pribadi, saya berpendapat bahwa tidak ada ambiguitas pilihan apakah berkarir ataukah hidup sepenuhnya dalam rumah tangga. Kita bisa keduanya. Bagaimana? Dengan komitmen dan kekuatan tekad menjalaninya. Semua kembali kepada arah hidup kita. Bakat tiap wanita beda-beda. Dan sepenuhnya ibu rumah tangga bukanlah suatu aib atau kesalahan walaupun telah menempuh sekolah tinggi, hanya saja pastikan bahwa ambisi, impian, dan keinginannya mengembangkan dirinya tidak terkekang selama amanah full time mom berjalan.

Jika ditanya ingin menjadi wanita seperti apa? Sederhana saja. Saya ingin menjadi ibu terbaik bagi anak saya kelak, bagi keluarga saya kelak, dan bagi generasi saya. Menjadi ibu yang baik sudah barang tentu menjadi istri yang baik. Hanya saja cara saya mungkin berbeda menyesuaikan bakat saya. Mengapa sekolah tinggi? Karena anak saya berhak mendapatkan wawasan terbaik dari orang yang melahirkannya, orang pertama yang mengetahui seluruh detail tubuh dan pikirannya. Orang pertama yang harus menjadi “sejatinya sekolah” bagi anak adalah orang tua, khususnya ibu. Apapun kesibukan itu, pilihlah dan rintislah karier sejak dini. Jadi tidak ada alasan kita harus memilih salah satu karena berkarya dan anak adalah bisa menjadi satu kesatuan sepanjang kita menikmatinya. Tidak ada halangan kini bayi diterima dalam area publik, senator bersidang sambil menggendong anaknya(lihat situasi juga tentunya), sehingga sejatinya batasan bahwa anak adalah penghalang berkarya adalah kepercayaan sejak dalam pikiran yang lama-lama menjadi keyakinan. Berhati-hati berpikir amat menentukan tindakan, termasuk memilah mana hal yang harus diulang-ulang atau mana yang harus dihilangkan. Sebaiknya, hilangkan lah gaya berpikir “limited” karena dengan kepercayaan diri dan konsistensi, orang lama-lama akan menghormati pilihan baik itu.

Teknologi, kondisi literasi, dll dewasa ini jika dimanfaatkan ke arah positif dapat menjadi kekuatan wanita. Di manapun berada. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan melimpahnya informasi, inovasi, kreatifitas bahkan network sekalipun untuk tetap berkiprah sampai akhir hayat. Tiap wanita berperan juga sebagai peran lainnya dalam masyarakat. Saya memilih peran sebagai “engine” pergerakan literasi riset dan komunitas kepemudaan. Anda sebagai wanita bisa berperan yang lainnya. Kekuatan memilih adalah kunci bagi keberlangsungan wanita berkarya. Disaat definisi bekerja tidak lagi harus di kantor, berdasi, dan duduk dalam meeting, wanita selalu punya cara menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Itu mengapa wanita adalah pilar bangsa. Runtuhnya kualitas wanita, runtuh pula kualitas bangsa. Jangan lupa, kecerdasan anak ke depan sangat bergantung dari contohnya. Ibunya. Bagaimana ia menyampaikan pendapat, menyalurkan amarah, dll bahkan di media sosial, akan berimbas luas. The power of emak-emak is so real. Alih-alih merasa tertekan oleh perkembangan zaman dan isu gender, harusnya justru wanita semakin terpacu berkarya selalu karena perhatian dunia kini tertuju pada kita. Gaya kepemimpinan wanita juga sangat khas. Tanpa perlu mengkotak-kotakkan apakah Anda atau saya aktifis feminisme, berkarya adalah suatu keniscayaan. Tanpa perlu ikuti arus perdebatan sengit soal kapan wanita bisa memimpin, ada baiknya berproses terus menaklukkan tantangan-tantangan di depan. Sebagai wanita, kita dianugerahi banyak kata, namun kita juga dianugerahi rasa. Kita harus bisa membedakan apakah suatu wacana mendukung karya atau tidak. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang menurunkan kualitas wanita. Apapun juga. Sejak sekarang. Sejak tulisan ini Anda baca.

Jadi, pembahasan soal jodohnya dimana? Di hati Anda sesaat Anda sadar bahwa wanita penuh karya macam Anda layak bagi pria yang mampu mendukung Anda. Tanpa kotak pandora dan macam-macam alibi. Semoga.

Nb: ini pengingat juga untuk saya.

Remah-Remah Kisah

Hidup memang hanyalah perjalanan, pasti ada perhentian. Dalam hidup, banyak selentingan kanan dan kiri yang mungkin mengganggu pikiran kita. Apapun namanya, gangguan adalah gangguan. Dan hal itu sebuah keniscayaan. Akan selalu ada. Akan selalu muncul ke permukaan.

Saya coba menyimak apa-apa yang terjadi belakangan ini. Entah dari skala pribadi hingga bangsa, rasa-rasanya kita selalu butuh satu langkah agak menjauhi masalah sementara waktu, sedemikian rupa, untuk mengamati masalah dari sudut pandang lain yang lebih lebar. Terlalu jenuh dalam pusaran tidak akan membuat orang cepat keluar dari kotak pandora, justru.

Sama halnya ketika kegagalan demi kegagalan menghinggapi kita tanpa pernah kita mengundangnya. Tetapi  bersahabat dengan kegagalan juga bagian dari seni kehidupan. Itu semacam tes kelayakan. Apakah dengan kegagalan manusia lantas jera berusaha atau justru berani mendobrak keterpurukan. Apapun skalanya, pribadi hingga bangsa, sama saja.

Berbagai kisah selalu menuangkan rasa manis, asam, bahkan pahit dalam hidup. Tapi temannya masih berceceran untuk direnungkan. Tidak akan lekang waktu bahkan seringkali mengendap dalam ingatan. Susah dilupakan sebagai tolak ukur pelajaran.

Menyimak diri kita juga secara tidak langsung menyimak bagaimana Tuhan “bekerja” begitu “rumit” menurut ukuran kita dengan segala kompleksitas dan ragam kehidupan yang ada. Semakin ilmu dikuasai manusia, harusnya semakin tunduk ia tahu bahwa kisah-kisahnya hanya akan tertelan liang lahat. Mungkin bersama ulat. Namun remahnya masih menyisakan amalan. Dari kesadaran itulah Mustinya remah-remah tiap kisah yang manusia torehkan kelak bernilai pasca ia “ditelan bumi”. Berkelanjutan sampai waktu tak terbatas. Diserap manfaatnya dan diabadikan dalam karya-karya manusia selanjutnya.

Merenung adalah jembatan kita mengais dan ” menjumputi” remah-remah itu. Apakah kita akan meninggalkan remah yang renyah? Ataukah justru dienyahkan oleh manusia lainnya?

Kisah selalu membawa petuah.

EYR

2 Agustus 2017

Tips and Trick

Many emails come to my Inbox and ask about the tips and trick to be part of huge event internationally or nationally.

Dear, this what I can state in brief. I am learning that the first step youth did “mistake” was filling the form.

1. Just be genuine. Be yourself. Do not oversell your profile.
2. Typo in many cases could be committee considerations.
3. Do you know the event you apply for exactly or not? And the eligibilities for example minimum and maximum age.
4. Administration requirements such as pasport prior your application and its active dates.

Too make you sure about this in a further thought, I hope this article from my friend in MUNPlanet also can add my statements for you :

https://www.munplanet.com/…/the-science-of-filling-out-the-…

Hope this is useful 🙂

==============================

Banyak email masuk ke Inbox saya tentang tips dan trik menjadi bagian even skala besar pada level internasional dan nasional.

Kawan, ini yang dapat saya bilang secara ringkas ya. Saya pelajari bahwa kesalahan pertama anak muda ada di saat pengisian Formulir.

1. Jadilah jujur dengan kondisi. Jadi diri sendiri.Jangan berlebihan dalam “menjual” profil.
2. Banyak typo juga jadi pertimbangan penting oleh panitia.
3. Apakah sudah dipastikan sebelumnya event apa yang sedang “dilamar” ? Misalnya ketentuan minimum dan maksimum usia.
4. Syarat administrasi misalnya paspor yang masih berlaku sebelum proses aplikasi suatu event.

Agar membuat yakin, semoga artikel tulisan kawan saya di MUNPlanet bisa menambahkan pernyataan saya tersebut ya.

https://www.munplanet.com/…/the-science-of-filling-out-the-…

Semoga bermanfaat