B.R.A.N.K.A.S.T.U.L.I.S

Cantik itu…

Perona pipimu tidak akan berfungsi jika tidak ada senyuman di wajah kamu, wahai wanita cerdas. Bagaimana senyuman itu benar-benar bisa sampai ke hati? Asahlah kecantikan dalam diri. Investasikan otakmu dan batinmu melebihi investasi kosmetik kamu. Coba sederhanakan hidupmu, tapi bukan mimpimu. Mimpimu untuk terus berguna hingga jatah hidup kita berakhir entah kapan.

‘Myyyy, aku g pede nih g pake blush on’

‘Apa sih yang kurang dariku? Emang aku kurang cantik yah?’

Dan berbagai jenis keluhan khas kawan-kawan perempuan saya. Seru, kocak, dan ada pula yang tragis (literally). Dari banyak hal yang mereka curahkan pada saya, saya mengerti bahwa ada satu hal yang dilupakan. Bahwa sejatinya hidup itu harus dijalankan dengan esensi saja, tak perlu mengejar hal non-esensi hanya agar dikira pintar, sholehah, atau apapun juga dalam kadar manusia umumnya. Tampak segar dengan blush on boleh jadi penemuan artifisial paling unik. Buktinya banyak wanita rela merogoh kocek agar wajahnya dikira segar, dikira bersinar, dan dikira berseri. Walaupun hatinya nyeri. Lupa esensi. Bahwa berseri dan nilai hidup ditentukan dari senyuman asli yang berasal dari kesegaran jiwa yang asli.

Bagaimana kesegaran itu tercapai? Being simple. Jadilah sederhana.

Sederhana berarti bahwa perempuan tahu mana yang harus diutamakan dan mana yang tidak. Mana yang penting dan tidak. Mana yang sungguhan dan mana yang artifisial. Sederhana bukan berarti lemah. Bukan pula sekedar apa adanya. Namun sederhana adalah kekuatan mengabaikan hal yang tidak perlu dalam hidup ini karena hal yang tidak perlu itu tidak dibawa mati. Sederhana lebih berbicara melalui kesahajaan. Bingkainya kesabaran. Dan boleh jadi penutupnya kaca jernih yang tahan pecah karena tebal, telah melewati proses pembuatan pedih yang menyakitkan. Kaca yang bisa membuka jendela hidup dengan sejernih-jernihnya. Setiap perempuan itu cantik. Kecantikan sejatinya ada pada senyuman terbaik yang dihasilkan dari proses hidup terbaik. Senyuman bukanlah sekedar bentukan lekuk di sekitar bibir yang fokus diberi gincu, namun senyum yang muncul karena kepuasan batin menjadi insan yang berguna. Punya arti. Punya manfaat. Sudahkah kita terus mengoreksi senyuman kita setiap waktu? Benarkah kita bahagia dengan kerumitan yang kita cipta? Dengan kegaduhan yang kita ciptakan. Coba telaah kembali. Sudah sederhanakah hidup kita? Karena hanya satu yang tak boleh sederhana. Daya guna kita. Syukurilah kecantikan kita dengan terus mempercantik batin kita juga. Pria diciptakan sebagai insan yang saling melengkapi hidup kita menjaga keseimbangan kita, bukan sepenuhnya tempat bergantung perbaikan diri kita. Semakin cerdas diri kita sebagai perempuan, lebih banyak peluang anak dan keluarga kita kelak pun demikian. Kita bisa kan bekerjasama untuk menghapus citra buruk perempuan cerdas itu tak cantik? Atau citra buruk lain seperti perempuan cerdas itu susah diatur?

Kecantikan itu, keindahan itu, jadikanlah satu. Dalam keindahan manfaatmu. Sederhanakanlah hidupmu, namun tinggikanlah kualitasmu. Percantiklah dirimu, namun percantik juga otak dan sikapmu. Nanti, saat kita sudah menua, anak cucu kita akan terus memuji kecantikan kita.

‘Oma, oma cantik deh. Aku mau kayak Oma. Makasih ya Oma udah didik Mama hebat aku. Makasih ya Oma udah sayangin aku juga, cucu beruntung Oma!’

NB: Hahaha, apa enggak melting kalau cucu kita ngomong begini?

 

Advertisements

Wanita: Antara Jodoh dan Bangsa

Oleh:

Emmy Yuniarti Rusadi

Adalah sebuah refleksi diri bagi wanita dimana saja khususnya muslimah jika hendak mendedikasikan hidupnya kepada kepentingan publik apapun itu. Segala pilihan amat membutuhkan kebijaksanaan. Secara pribadi, saya berpendapat bahwa tidak ada ambiguitas pilihan apakah berkarir ataukah hidup sepenuhnya dalam rumah tangga. Kita bisa keduanya. Bagaimana? Dengan komitmen dan kekuatan tekad menjalaninya. Semua kembali kepada arah hidup kita. Bakat tiap wanita beda-beda. Dan sepenuhnya ibu rumah tangga bukanlah suatu aib atau kesalahan walaupun telah menempuh sekolah tinggi, hanya saja pastikan bahwa ambisi, impian, dan keinginannya mengembangkan dirinya tidak terkekang selama amanah full time mom berjalan.

Jika ditanya ingin menjadi wanita seperti apa? Sederhana saja. Saya ingin menjadi ibu terbaik bagi anak saya kelak, bagi keluarga saya kelak, dan bagi generasi saya. Menjadi ibu yang baik sudah barang tentu menjadi istri yang baik. Hanya saja cara saya mungkin berbeda menyesuaikan bakat saya. Mengapa sekolah tinggi? Karena anak saya berhak mendapatkan wawasan terbaik dari orang yang melahirkannya, orang pertama yang mengetahui seluruh detail tubuh dan pikirannya. Orang pertama yang harus menjadi “sejatinya sekolah” bagi anak adalah orang tua, khususnya ibu. Apapun kesibukan itu, pilihlah dan rintislah karier sejak dini. Jadi tidak ada alasan kita harus memilih salah satu karena berkarya dan anak adalah bisa menjadi satu kesatuan sepanjang kita menikmatinya. Tidak ada halangan kini bayi diterima dalam area publik, senator bersidang sambil menggendong anaknya(lihat situasi juga tentunya), sehingga sejatinya batasan bahwa anak adalah penghalang berkarya adalah kepercayaan sejak dalam pikiran yang lama-lama menjadi keyakinan. Berhati-hati berpikir amat menentukan tindakan, termasuk memilah mana hal yang harus diulang-ulang atau mana yang harus dihilangkan. Sebaiknya, hilangkan lah gaya berpikir “limited” karena dengan kepercayaan diri dan konsistensi, orang lama-lama akan menghormati pilihan baik itu.

Teknologi, kondisi literasi, dll dewasa ini jika dimanfaatkan ke arah positif dapat menjadi kekuatan wanita. Di manapun berada. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan melimpahnya informasi, inovasi, kreatifitas bahkan network sekalipun untuk tetap berkiprah sampai akhir hayat. Tiap wanita berperan juga sebagai peran lainnya dalam masyarakat. Saya memilih peran sebagai “engine” pergerakan literasi riset dan komunitas kepemudaan. Anda sebagai wanita bisa berperan yang lainnya. Kekuatan memilih adalah kunci bagi keberlangsungan wanita berkarya. Disaat definisi bekerja tidak lagi harus di kantor, berdasi, dan duduk dalam meeting, wanita selalu punya cara menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Itu mengapa wanita adalah pilar bangsa. Runtuhnya kualitas wanita, runtuh pula kualitas bangsa. Jangan lupa, kecerdasan anak ke depan sangat bergantung dari contohnya. Ibunya. Bagaimana ia menyampaikan pendapat, menyalurkan amarah, dll bahkan di media sosial, akan berimbas luas. The power of emak-emak is so real. Alih-alih merasa tertekan oleh perkembangan zaman dan isu gender, harusnya justru wanita semakin terpacu berkarya selalu karena perhatian dunia kini tertuju pada kita. Gaya kepemimpinan wanita juga sangat khas. Tanpa perlu mengkotak-kotakkan apakah Anda atau saya aktifis feminisme, berkarya adalah suatu keniscayaan. Tanpa perlu ikuti arus perdebatan sengit soal kapan wanita bisa memimpin, ada baiknya berproses terus menaklukkan tantangan-tantangan di depan. Sebagai wanita, kita dianugerahi banyak kata, namun kita juga dianugerahi rasa. Kita harus bisa membedakan apakah suatu wacana mendukung karya atau tidak. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang menurunkan kualitas wanita. Apapun juga. Sejak sekarang. Sejak tulisan ini Anda baca.

Jadi, pembahasan soal jodohnya dimana? Di hati Anda sesaat Anda sadar bahwa wanita penuh karya macam Anda layak bagi pria yang mampu mendukung Anda. Tanpa kotak pandora dan macam-macam alibi. Semoga.

Nb: ini pengingat juga untuk saya.

Remah-Remah Kisah

Hidup memang hanyalah perjalanan, pasti ada perhentian. Dalam hidup, banyak selentingan kanan dan kiri yang mungkin mengganggu pikiran kita. Apapun namanya, gangguan adalah gangguan. Dan hal itu sebuah keniscayaan. Akan selalu ada. Akan selalu muncul ke permukaan.

Saya coba menyimak apa-apa yang terjadi belakangan ini. Entah dari skala pribadi hingga bangsa, rasa-rasanya kita selalu butuh satu langkah agak menjauhi masalah sementara waktu, sedemikian rupa, untuk mengamati masalah dari sudut pandang lain yang lebih lebar. Terlalu jenuh dalam pusaran tidak akan membuat orang cepat keluar dari kotak pandora, justru.

Sama halnya ketika kegagalan demi kegagalan menghinggapi kita tanpa pernah kita mengundangnya. Tetapi  bersahabat dengan kegagalan juga bagian dari seni kehidupan. Itu semacam tes kelayakan. Apakah dengan kegagalan manusia lantas jera berusaha atau justru berani mendobrak keterpurukan. Apapun skalanya, pribadi hingga bangsa, sama saja.

Berbagai kisah selalu menuangkan rasa manis, asam, bahkan pahit dalam hidup. Tapi temannya masih berceceran untuk direnungkan. Tidak akan lekang waktu bahkan seringkali mengendap dalam ingatan. Susah dilupakan sebagai tolak ukur pelajaran.

Menyimak diri kita juga secara tidak langsung menyimak bagaimana Tuhan “bekerja” begitu “rumit” menurut ukuran kita dengan segala kompleksitas dan ragam kehidupan yang ada. Semakin ilmu dikuasai manusia, harusnya semakin tunduk ia tahu bahwa kisah-kisahnya hanya akan tertelan liang lahat. Mungkin bersama ulat. Namun remahnya masih menyisakan amalan. Dari kesadaran itulah Mustinya remah-remah tiap kisah yang manusia torehkan kelak bernilai pasca ia “ditelan bumi”. Berkelanjutan sampai waktu tak terbatas. Diserap manfaatnya dan diabadikan dalam karya-karya manusia selanjutnya.

Merenung adalah jembatan kita mengais dan ” menjumputi” remah-remah itu. Apakah kita akan meninggalkan remah yang renyah? Ataukah justru dienyahkan oleh manusia lainnya?

Kisah selalu membawa petuah.

EYR

2 Agustus 2017

Tips and Trick

Many emails come to my Inbox and ask about the tips and trick to be part of huge event internationally or nationally.

Dear, this what I can state in brief. I am learning that the first step youth did “mistake” was filling the form.

1. Just be genuine. Be yourself. Do not oversell your profile.
2. Typo in many cases could be committee considerations.
3. Do you know the event you apply for exactly or not? And the eligibilities for example minimum and maximum age.
4. Administration requirements such as pasport prior your application and its active dates.

Too make you sure about this in a further thought, I hope this article from my friend in MUNPlanet also can add my statements for you :

https://www.munplanet.com/…/the-science-of-filling-out-the-…

Hope this is useful 🙂

==============================

Banyak email masuk ke Inbox saya tentang tips dan trik menjadi bagian even skala besar pada level internasional dan nasional.

Kawan, ini yang dapat saya bilang secara ringkas ya. Saya pelajari bahwa kesalahan pertama anak muda ada di saat pengisian Formulir.

1. Jadilah jujur dengan kondisi. Jadi diri sendiri.Jangan berlebihan dalam “menjual” profil.
2. Banyak typo juga jadi pertimbangan penting oleh panitia.
3. Apakah sudah dipastikan sebelumnya event apa yang sedang “dilamar” ? Misalnya ketentuan minimum dan maksimum usia.
4. Syarat administrasi misalnya paspor yang masih berlaku sebelum proses aplikasi suatu event.

Agar membuat yakin, semoga artikel tulisan kawan saya di MUNPlanet bisa menambahkan pernyataan saya tersebut ya.

https://www.munplanet.com/…/the-science-of-filling-out-the-…

Semoga bermanfaat

Tamsil Senja

 

DSCN3139.JPG

Dalam setiap jejak kehidupan, manusia selalu memiliki tujuan. Bersyukur jika telah menemukan dengan mantap apa tujuan itu, tetapi tetaplah berusaha memperbaiki diri jika hidup masih saja terasa sunyi tanpa arti. Sesungguhnya arti diri amatlah dekat dengan nadi.

Dalam setiap jejak kehidupan, manusia selalu memiliki pengorbanan. Pengorbanan dapat berupa apa saja, entah itu waktu, perasaan, materi, apapun. Hal yang jelas terjadi adalah manusia selalu berhitung tentang pengorbanan itu sehingga waktunya habis untuk berhitung. Apakah semestinya begitu? Ataukah semestinya sebaliknya? Sebaiknya lepaskan. Tanpa perhitungan. Hiduplah tanpa beban hitung-hitungan amalan. Apalagi kebaikan. Kalkulator kita tidak akan pernah cukup canggih menghimpun semua persil kehidupan.

Dalam setiap jejak kehidupan, selalu ada yang berlalu dan tenggelam seperti senja. Manusia bisa menyesali atau malah mensyukuri. Waktu. Berdamai dengan waktu atau berlomba dengannya. Selalu ada tamsil dari senja.

Dalam setiap jejak kehidupan, senja mengajarkan kita untuk selalu menjadi pribadi terbaik sepanjang hari. Sehingga kita bisa menikmati senja dengan penuh kedamaian dalam pujian-pujian doa yang merayap tiap detik pergantiannya. Dari terang ke gelap. Lalu merayap lagi kembali terang keesokan harinya.

Selalu ada saja tamsil yang senja ajarkan pada kita, manusia. Kita, sudah belajar apa hari ini? untuk senja nanti?

Emmy Y.R

14 September 2016

 

 

Kemampuan Memperbaiki Diri

 Bersyukurnya kita sebagai manusia, dan bukan mesin. Ketika ada kegagalan dalam hidup, manusia masih punya jiwa yang selalu ada untuk mengobati setiap fase itu ke arah lebih baik. Sedikit apapun itu, sekecil apapun itu. Bukan mesin yang ketika rusak harus diganti total. Hanya saja, manusia memiliki kadar perbaikan sendiri-sendiri. Ada hal terpenting soal hidayah yang juga tidak bisa lepas dari proses perbaikan ini. Dalam hal apapun. Seperti misalnya penemuan sederhana desain rumah seperti sarang lebah di Jepang, sangat efisien, kalau si penemu belum mendapat unsur “eureka” nya ya mustahil juga desain itu terwujud. Ide selalu tersebar dimana-mana tetapi apakah mata hati kita dapat menangkapnya atau tidak itu persoalannya.
Lalu bagaimana agar kemampuan diri itu dibarengi dengan mata hati yang siap terhadap ide-ide atau inspirasi-inspirasi ? Adalah selalu berusaha (dan sebagai makhluk reliji, hendaklah juga berdoa). Penting dalam upaya memperbaiki diri itu didasari juga pada keyakinan pada masa depan. Itu mengapa berbaik sangka kepada rencana-rencana Tuhan jauh lebih menenangkan, seberat apapun ujian atau kegagalan yang menempa kehidupan. Tuhan selalu lebih tahu kapan, dimana, dan bagaimana kita bisa naik derajat. Jika kita pernah bermimpi ke benua Amerika, Eropa, manapun sejak lama dan belum terwujud, jangan pernah mati kutu. Bukan suatu kebetulan jika Tuhan berangkatkan kita kesana pada situasi yang sangat pas, sudah punya istri atau suami, untuk menghadiri undangan penghargaan, atau menjadi duta pemuda dibanding misalnya jika kita ngotot tahunya kita “hanya” ikut seminar saja. Bukan membanding-bandingkan, tetapi selalu ada nilai tambah pada perjalanan-perjalanan yang dasarnya adalah Tuhan. Perjalanan dan tujuan yang dilandasi keyakinan kebaikan. Usaha pasti sampai pada tujuan. Kitalah yang selalu dapat memilih caranya lewat mengatur porsi kemampuan. Ngomong-ngomong, kunci kesuksesan sejati bukan pada seberapa prestasi dunia kita raih, tapi untuk apa prestasi dunia itu kita akan kontribusikan? Terlena dan “mabuk” dunia? Kalau iya, tandanya kita harus terus asah kemampuan diri ini untuk jadi lebih ingat mati.
7 September 2016
pengingat ditengah semakin “ketusnya” cendekiawan melongok rakyat
pengingat ditengah terpaan badai keangkuhan manusia yang semakin tajam
pengingat diri agar selalu menjadi pribadi yang ingat mati

Rangkuman Kecil

DSCN3107.JPG

Hari-hari berjalan begitu cepat. Kata orangtua saya, tampaknya baru kemarin saja saya lahir, SD, bertumbuh, lalu tiba-tiba sekarang sudah sebesar ini saja. Rasa cinta membuat mereka melampaui waktu dengan cepat dan terkesima dengan peubahan waktu itu sendiri. Tanpa menghiraukan masalah apa  yang setiap waktu dapat teradi. Mrreka laluui.

Baru kemarinn tampaknya pencalonan walikota Kota Yogyakarta itu dilalui. Bersama tim JOINT (Jogja Independent) yang saya sendiri belum pernah bermimpi dapat menemuinya, ternyata takdir berkata lain. Hingga detik ini. Semua berjalan begitu cepatnya seperti tanpa beban dirasakan. Saya semakin yakin bahwa sesuatu yang kita kerjakan dengan hati akan selalu dapat dijalani dengan baik walaupun tampak sangat sulit bahkan tidak mungkin di awal. Terlampau banyak peristiwa pembelajaran hidup yang saya terima dalam setidaknya Maret hingga Mei ini. Dari peristiwa-peristiwa itulah saya dapat temui bahwa berani mencoba hal untuk kemajuan adalah kewajiban yang harus manusia lakukan demi perubahan yang lebih baik. Banyak alasan untuk kita dapat saja menerima segala sesuatu dengan apa adanya dan menjadikan banyak alasan juga untuk menerah pada keadaan, namun keberanian itulah hal yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Nyali.

Saya juga merangkum bagaimana hentakan perjuangan itu juga bisa kembali ada di titik terbawah dalam hidup. Oh ya, bayangkan saja ketika harus melakukan banyak perjalanan dengan niat kebaikan, namun dihadang dengan banyak sekali hal klise yang kadang saya merasa “harus menyerah secepat mungkin’. No money. No temporary shelter to sleep. No enough safety to speak up. No other choice to choose. Tetapi saya percaya bahwa Allah swt lah yang selalu memiliki ‘sinar’ terbaik. Ia benar-benar tahu seperti apa harus memperlakukan hamba-Nya yang sudah kepayahan bergerak sementara gagasan besar di depan mata. Ia tidaklah diam. Ia lah yang menggerakkan hati banyak dukungan anak muda dari segala penjuru hadir melalui Facebook dan apapun media komunikasi saya dan kawan seperjuangan. Hingga kini, tidak ada sejengkal karyapun yang saya bisa tasbihkan sebagai karya 100% saya. Ada banyak sekali campur tangan Tuhan dalam tiap jengkalnya. Mempertemukan banyak puzzle-puzzle kehidupan, teman, institusi, ide, dan banyak hal lain yang entah saya harus sebut apa lagi. Speechless.

Kini komunitas yang saya bentuk pun semakin bertambah usia. Semakin banyak beban moral yang dipikulnya untuk pemuda. Nanti, 29 September 2016 adalah usianya yang genap 5 tahun. “Balita” pembangunan dan “motor perubahan” yang semoga dapat jadi tumpuan harapan. Disitulah banyak gagasan terwujud. Dimulai dari satu-dua orang yang hadir dalam kegiatan, hingga kini merambahn ke jejaring internasional sekelas PBB. Sungguh diluar dugaaan.

Kadang saya sering “bertengkar” dengan batin dan pikiran saya sendiri tentang pemikiran akankah hal-hal yang saya lakukan ini akan membuat saya kaya? Saya “bertengkar’ dengan hiruk-pikuk perkembangan zaman yang sekarang melihat kesuksesan orang dari berapa dan apa merk apapaun yang dikenakannya. “Uang memang tidak dibawa hingga mati, tapi tanpa uang pusingnya setengah mati”. Salah satu kutipan penting yang cukup menyentil. Hidup dengan proporsional sekiranya adalah jalan damai itu. Biarkan uang lewat dan bermanfaat untuk hal yang lebih hakiki. Saya mempersilakannya, namun tidak akan terlalu menahannya.

Saya mencintai perjalanan, seberapa panjang pun itu. Tetapi saya selalu ingat tempat pemberhentian. Sedikit demi sedikit menciptakan kemajuan adalah perjalanan yang mungkin memiliki pergolakan. Tetapi kemenangan tokoh-tokoh besar dunia untuk menaklukkan rintangan itu, akan selalu menjadi “bara api” bagi siapapun. Termasuk saya.

Siapapun kamu yang ada di pojok kebimbangan, jangan berlama-lama. Dunia menanti kita. Dunia menanti karya kita!

Emmy Yuniarti Rusadi

10 Mei 2016

4 hari menjelang ASEC Seminar and Workshop di Magelang

(Foto: sebuah senja di Nglanggeran, dok.pribadi)

Hakikat IPK: Sebuah Refleksi (Lagi)

JZw85iPg6n

Bulan- bulan ke depan akan menjadi bulan menakjubkan karena bulan dimana mahasiswa UGM akan melalui setidaknya dua kali periode wisuda. pascasarjana pada Januari 2016 dan sarjana pada Februari 2016. Tampaknya, statistik IPK akan menjadi sorotan utama. Lagi- lagi saya tergelitik untuk menuangkan tulisan tentang hal ini. Tidak jemu rasanya saya turut membuat pesan bagi diri sendiri dan kawan- kawan pembaca. Rasanya ada saja yang selalu keliru dimaknai soal IPK ini.

Dalam pengamatan dan penyelidikan akadmeik saya selama ini menempuh sarjana dan pascasarjana, IPK haruslah mencerminkan tingkat intelektualitas seseorang. Hanya saja, IPK juga memiliki sifat temporer dimana pengetahuan yang dinilai boleh jadi menurun ketika ia lulus. Masalahnya, jika IPK tinggi,ekspektasi orang pastilah ia memiliki kualitas tak diragukan dalam studinya. Itu sudah hal tentu betul, namun tidak selamanya betul. Mengapa? karena masa ini kita dihadapkan pada tuntutan zaman dimana IPK bukanlah mata uang sempurna. Banyak sudah kisah mereka yang IPK-nya berjaya namun secara emosional dan karir tidak menunjukkan prestasi signifikan. Orang cenderung menyepelekan pengalaman dalam memasuki dunia kerja. Atau alih-alih konsentrasi pada studinya, pengalaman penunjang hidup dilupakan. Taruhlah misalnya bagaimana pengalaman seseorang dalam berkomunikasi, mengatur tim, menghadapi konflik, mengatasi tekanan, setia terhadap target, menghadapi kegagalan, dan hal sejenis tidak diajarkan dalam kurikulum secara langsung. Kemampuan lulusan yang diharapkan ke depan bukanlah lulusan yang pandai “menerima”, tetapi pandai “mencari” atau “menciptakan” ilmu. Agaknya, kita akan menemukan fenomena yang mungkin juga saya hadapi (berdasarkan pengamatan setidaknya 5 tahun ini) bahwa banyak kawan- kawan saya ber-IPK tinggi namun menghadapi kebingungan luar biasa mengisi hidup dan karir.

Lalu bagaimana caranya? kalau metode “ceramah” seperti “ayo berorganisasi”, “ayo ikutlah komunitas”, sudah jenuh rasanya. Tetapi apa daya, itulah realita.Ikutlah. Para pemenang di negeri juga harus mengalami susah payah dengan riset yang tidak dibuat sekedar syarat kelulusan. Aada nyawa dalam risetnya yang menarik orang untuk menjadikannya figur. Jika riset dibuat dengan ketakutan IPK rendah maka ini adalah sumber kekeliruan yang besar. Perguruan tinggi tidak dibentuk untuk menumpuk lembaran kertas riset itu, tetapi menjadikan kita sebagai aktor- aktor inovasi. Ketakutan kita pada IPK rendah dapat berujung pada pemilihan topik riset yang  mudah ditebak (kemudian banyak orang mempertanyakan apa sebenarnya dampak risetnya?) atau jawaban penelitian yang sudah ada (kemudian si pembuat sendiri berpikir apa gunanya meriset? karena meriset haikatnya untuk menyelidiki suatu gejala kemudian menemukan jawaban, bukan jawaban yang dideskripsikan dalam karya riset). Sayang sekali.

Disinilah sekarang kita harus merenung, apa makna studi kita? apakah puas hanya pada selembar ijazah dengan IPK lebih dari 3,5 itu? ataukah kita sedari awal dapat terus menyebarkan inspirasi untuk membantu orang agar bisa ber-IPK tinggi namun jagoan dalam hidup. Saya lebih memilih yang terakhir ini. Anda?

Academic Spam

Boleh jadi ini bukan hal aneh lagi di era internet. Seringkali kita mendapati beberapa email untuk karya tulis kita dimasukkkan dalam publikasi jurnal atau buku akademik di level internasional. Tampak menggiurkan, tetapi berhati- hatilah. Saya sudah sekurang-kurangnya mendapatkan 10 email dari alamat berbeda dan dengan domain email yang tampak meyakinkan (padahal spam). Berikut salah satu contohnya:

academic spam

Secara visual, amat meyakinkan karena dilengkapi dengan logo bahkan alamat kantor. Tetapi jika diamati, beberapa keganjilan terdapat didalamnya:

  1. Paket gratis dalam publikasi internasional meragukan. Memang beberapa jurnal terbuka menawarkan hal tersebut namun hanya berkala. Gratis dapat menimbulkan keraguan apakah publikasi melewati proses review atau tidak. Jangan- jangan begitu diterbitkan nama kita justru tidak ada. Bisa saja terjadi.
  2. Pencatutan nama. Jika di selidiki pada LAP LAMBERT, maka tidak didapati nama Steven Frazier pada posisi tersebut, dan badan usaha ini tampak seperti firma percetakan dan bukannya pemroses jurnal.
  3. Dapatkah Anda menemukan keganjilan lainnya? mari berbagi dan berhati- hati.

FUNDRAISING:: Support-Click-Donate (Riset Tata Ruang International Conference CITIES )

Riset Tata Ruang International Conference CITIES

Apakah itu CITIES 2015?

CITIES 2015 adalah forum peneliti maupun praktisi internasional yang fokus pada tata ruang sejak 2005. Forum ini telah bekerjasama dengan berbagai pihak dan akan diselenggarakan di ITS (Surabaya) pada 3-4 November 2015. Hasil karya- karya riset akan dipublikasi melalui jurnal internasional yang diindeks oleh Google Scholar, Science Direct, dll di Elsevier (Open Access). Penelitian tim adalah pemodelan tata ruang berkelanjutan di kota Malang dan Jogja dengan perbandingan terhadap kota- kota lain di Jepang dan Taiwan. Kredibilitas inilah yang akan turut membangun citra positif riset tata ruang Indonesia secara internasional. Pembicara utama dalam konferensi internasional ini antara lain:

1. Dr.(h.c.) Tri Rismaharini, Mayor of Surabaya City, Indonesia

Expertise in Urban and Policy Management (Surabaya Smart City)

2. Associate Prof. Sarah Bekessy, RMIT University

Leader – CEED (Center of Excellence for Environmental Decisions)

Expertise in Environmental Modeling

3. Andreas Sevtsuk Ph.D., Singapore University of Technology Design

Leader – CityFormLab, MIT-SUTD

Expertise in Urban and Spatial Analytic

4. Prof. Budisantoso Wirjodirdjo, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Indonesia

Computing and Dynamic Laboratory, Faculty Industry – ITS

Expertise in Dynamic Models

Proyek keikutsertaan ini menjadi bagian penting promosi riset pemuda Indonesia sehingga ke depan diharapkan akan membangkitkan minat riset kita ke level lebih tinggi lagi. Forum ini akan menjadi media berlatih dan bukti bahwa pendanaan bukanlah hambatan bagi pengembangan riset karena masyarakat turut serta dalam menyukseskannya.

Hallo. Inilah tim riset tata ruang yang akan mengikuti forum peneliti Internasional Conference CITIES 2015: Intelligence Planning Towards Smart City . Tahun ini kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Institut Teknologi Sepuluh November dari tanggal 3-4 November, 2015.

Siapakah kami?

Tim ini terdiri atas periset-periset muda yang akan mewakili keberangkatan tim yaitu Emmy Yuniarti Rusadi dan Pebri Nurhayati.

1. Emmy Yuniarti Rusadi

Mahasiswi Pejalan Kaki

Atas: Emmy berjilbab dalam forum riset internasional tahun 2012; Bawah: Emmy bersama rekan periset di Taiwan tahun 2013

Seorang mahasiswa yang setia menggunakan transportasi umum sejak usia sekolah hingga kuliah. Menjadi penglaju dan harus berjuang menngahadapi hari- hari pengamatan transportasi umum, teknologi, dan lingkungan. Emmy adalah mahasiswa akhir program master perencanaan kota dan daerah Universitas Gadjah Mada, sementara Pebri atau Ebi adalah periset dari Fakultas Geografi Universitas Negeri Yogyakarta. Keduanya merupakan aktifis lingkungan dan konsen pada riset tata ruang. Emmy pernah mengikuti APSA tahun 2013 dan memiliki pengalaman bagaimana tantangan mengumpulkan sumber dana dalam keberangkatannya ke Taiwan bersama tim. Tidak jarang uang pribadi dikelluarkan. Beberapa hasil risetnya juga sudah dipublikasikan dalam prosiding, jurnal, serta paparan ilmiah.

2. Pebri Nurhayati

Mahasiswi Pejuang Mimpi

Atas: Ebi saat di Jepang; Bawah: Ebi saat di Istanbul, Turki

Ebi asli Lampung dan berani mendobrak mimpi menjadi kenyataan. Ebi berani mengambil resiko ketidakpastian tantangan riset dan berhasil menyelesaikan studinya dengan gemilang. Ebi adalah MAPRES atau Mahasiswa Berprestasi di kampusnya UNY. Ebi sudah pernah menjelajah ke benua lain nyaris tanpa biaya pribadi. Ebi juga aktif pada komunitas lingkungan hidup internasional dan telah mendedikasikan diri pada dunia riset dan komunitas. Ebi pernah mengikuti forum internasional seperti The 8th ICAST (International Conference on Adnace Science and Technology) di Kumamto University, menjelajah Inggris dalam pertukaran pelajar, serta mengunjungi Istanbul, Turki.

Dari berbagai pengalaman yang kami rasakan, terdapat hal yang terasa kurang yaitu kurangnya rasa memiliki atau atensi publik terhadap kegunaan riset yang dipublikasikan tersebut sehingga tertarik untuk mengajak publik berpartisipasi langsung dalam pendanaan efektif riset anak muda sepertinya. Jarang kegiatan riset didukung oleh crowdfunding. Keikutsertaan ini menjadi jembatan komunikasi dan saling apresiasi yang diharapkan mampu mewujudkan Indonesia yang lebih “melek riset”. Riset haruslah didengar, dirasakan, dan diapresiasi seluas-luasnya oleh publik. Jika cara lama telah pernah dilalui, inilah inovasi yang dihadapi. Keberhasilan akan keikutsertaan dan publikasi karya kami akan membuktikan bahwa kerja kolaborasi di Indonesia menemukan gaungnya. Publikasi dalam CITIES 2015 ini akan diterbitkan dalam jurnal internasional Elsevier Open Access yang terindeks dalam Science Direct, Google Scholars, dll.

Besar harapan kami akan kerjasama ini. Besar pula harapan kami untuk bisa menjadi bagian dari kemajuan bangsa melalui publikasi karya kami. Terimakasih Indonesia.

Rencana Penggunaan Dana

Berapa dana yang tim butuhkan?

Dana yang dibutuhkan tim adalah dana murni yang diperlukan tanpa ada penambahan apapun didalamnya. Tim berdedikasi penuh menggunakan fasilitas kelas-kelas standar dan lebih berfokus kepada kualitas riset.