Wanita: Antara Jodoh dan Bangsa

Oleh:

Emmy Yuniarti Rusadi

Adalah sebuah refleksi diri bagi wanita dimana saja khususnya muslimah jika hendak mendedikasikan hidupnya kepada kepentingan publik apapun itu. Segala pilihan amat membutuhkan kebijaksanaan. Secara pribadi, saya berpendapat bahwa tidak ada ambiguitas pilihan apakah berkarir ataukah hidup sepenuhnya dalam rumah tangga. Kita bisa keduanya. Bagaimana? Dengan komitmen dan kekuatan tekad menjalaninya. Semua kembali kepada arah hidup kita. Bakat tiap wanita beda-beda. Dan sepenuhnya ibu rumah tangga bukanlah suatu aib atau kesalahan walaupun telah menempuh sekolah tinggi, hanya saja pastikan bahwa ambisi, impian, dan keinginannya mengembangkan dirinya tidak terkekang selama amanah full time mom berjalan.

Jika ditanya ingin menjadi wanita seperti apa? Sederhana saja. Saya ingin menjadi ibu terbaik bagi anak saya kelak, bagi keluarga saya kelak, dan bagi generasi saya. Menjadi ibu yang baik sudah barang tentu menjadi istri yang baik. Hanya saja cara saya mungkin berbeda menyesuaikan bakat saya. Mengapa sekolah tinggi? Karena anak saya berhak mendapatkan wawasan terbaik dari orang yang melahirkannya, orang pertama yang mengetahui seluruh detail tubuh dan pikirannya. Orang pertama yang harus menjadi “sejatinya sekolah” bagi anak adalah orang tua, khususnya ibu. Apapun kesibukan itu, pilihlah dan rintislah karier sejak dini. Jadi tidak ada alasan kita harus memilih salah satu karena berkarya dan anak adalah bisa menjadi satu kesatuan sepanjang kita menikmatinya. Tidak ada halangan kini bayi diterima dalam area publik, senator bersidang sambil menggendong anaknya(lihat situasi juga tentunya), sehingga sejatinya batasan bahwa anak adalah penghalang berkarya adalah kepercayaan sejak dalam pikiran yang lama-lama menjadi keyakinan. Berhati-hati berpikir amat menentukan tindakan, termasuk memilah mana hal yang harus diulang-ulang atau mana yang harus dihilangkan. Sebaiknya, hilangkan lah gaya berpikir “limited” karena dengan kepercayaan diri dan konsistensi, orang lama-lama akan menghormati pilihan baik itu.

Teknologi, kondisi literasi, dll dewasa ini jika dimanfaatkan ke arah positif dapat menjadi kekuatan wanita. Di manapun berada. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan melimpahnya informasi, inovasi, kreatifitas bahkan network sekalipun untuk tetap berkiprah sampai akhir hayat. Tiap wanita berperan juga sebagai peran lainnya dalam masyarakat. Saya memilih peran sebagai “engine” pergerakan literasi riset dan komunitas kepemudaan. Anda sebagai wanita bisa berperan yang lainnya. Kekuatan memilih adalah kunci bagi keberlangsungan wanita berkarya. Disaat definisi bekerja tidak lagi harus di kantor, berdasi, dan duduk dalam meeting, wanita selalu punya cara menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Itu mengapa wanita adalah pilar bangsa. Runtuhnya kualitas wanita, runtuh pula kualitas bangsa. Jangan lupa, kecerdasan anak ke depan sangat bergantung dari contohnya. Ibunya. Bagaimana ia menyampaikan pendapat, menyalurkan amarah, dll bahkan di media sosial, akan berimbas luas. The power of emak-emak is so real. Alih-alih merasa tertekan oleh perkembangan zaman dan isu gender, harusnya justru wanita semakin terpacu berkarya selalu karena perhatian dunia kini tertuju pada kita. Gaya kepemimpinan wanita juga sangat khas. Tanpa perlu mengkotak-kotakkan apakah Anda atau saya aktifis feminisme, berkarya adalah suatu keniscayaan. Tanpa perlu ikuti arus perdebatan sengit soal kapan wanita bisa memimpin, ada baiknya berproses terus menaklukkan tantangan-tantangan di depan. Sebagai wanita, kita dianugerahi banyak kata, namun kita juga dianugerahi rasa. Kita harus bisa membedakan apakah suatu wacana mendukung karya atau tidak. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang menurunkan kualitas wanita. Apapun juga. Sejak sekarang. Sejak tulisan ini Anda baca.

Jadi, pembahasan soal jodohnya dimana? Di hati Anda sesaat Anda sadar bahwa wanita penuh karya macam Anda layak bagi pria yang mampu mendukung Anda. Tanpa kotak pandora dan macam-macam alibi. Semoga.

Nb: ini pengingat juga untuk saya.

Advertisements