Cantik itu…

Perona pipimu tidak akan berfungsi jika tidak ada senyuman di wajah kamu, wahai wanita cerdas. Bagaimana senyuman itu benar-benar bisa sampai ke hati? Asahlah kecantikan dalam diri. Investasikan otakmu dan batinmu melebihi investasi kosmetik kamu. Coba sederhanakan hidupmu, tapi bukan mimpimu. Mimpimu untuk terus berguna hingga jatah hidup kita berakhir entah kapan.

‘Myyyy, aku g pede nih g pake blush on’

‘Apa sih yang kurang dariku? Emang aku kurang cantik yah?’

Dan berbagai jenis keluhan khas kawan-kawan perempuan saya. Seru, kocak, dan ada pula yang tragis (literally). Dari banyak hal yang mereka curahkan pada saya, saya mengerti bahwa ada satu hal yang dilupakan. Bahwa sejatinya hidup itu harus dijalankan dengan esensi saja, tak perlu mengejar hal non-esensi hanya agar dikira pintar, sholehah, atau apapun juga dalam kadar manusia umumnya. Tampak segar dengan blush on boleh jadi penemuan artifisial paling unik. Buktinya banyak wanita rela merogoh kocek agar wajahnya dikira segar, dikira bersinar, dan dikira berseri. Walaupun hatinya nyeri. Lupa esensi. Bahwa berseri dan nilai hidup ditentukan dari senyuman asli yang berasal dari kesegaran jiwa yang asli.

Bagaimana kesegaran itu tercapai? Being simple. Jadilah sederhana.

Sederhana berarti bahwa perempuan tahu mana yang harus diutamakan dan mana yang tidak. Mana yang penting dan tidak. Mana yang sungguhan dan mana yang artifisial. Sederhana bukan berarti lemah. Bukan pula sekedar apa adanya. Namun sederhana adalah kekuatan mengabaikan hal yang tidak perlu dalam hidup ini karena hal yang tidak perlu itu tidak dibawa mati. Sederhana lebih berbicara melalui kesahajaan. Bingkainya kesabaran. Dan boleh jadi penutupnya kaca jernih yang tahan pecah karena tebal, telah melewati proses pembuatan pedih yang menyakitkan. Kaca yang bisa membuka jendela hidup dengan sejernih-jernihnya. Setiap perempuan itu cantik. Kecantikan sejatinya ada pada senyuman terbaik yang dihasilkan dari proses hidup terbaik. Senyuman bukanlah sekedar bentukan lekuk di sekitar bibir yang fokus diberi gincu, namun senyum yang muncul karena kepuasan batin menjadi insan yang berguna. Punya arti. Punya manfaat. Sudahkah kita terus mengoreksi senyuman kita setiap waktu? Benarkah kita bahagia dengan kerumitan yang kita cipta? Dengan kegaduhan yang kita ciptakan. Coba telaah kembali. Sudah sederhanakah hidup kita? Karena hanya satu yang tak boleh sederhana. Daya guna kita. Syukurilah kecantikan kita dengan terus mempercantik batin kita juga. Pria diciptakan sebagai insan yang saling melengkapi hidup kita menjaga keseimbangan kita, bukan sepenuhnya tempat bergantung perbaikan diri kita. Semakin cerdas diri kita sebagai perempuan, lebih banyak peluang anak dan keluarga kita kelak pun demikian. Kita bisa kan bekerjasama untuk menghapus citra buruk perempuan cerdas itu tak cantik? Atau citra buruk lain seperti perempuan cerdas itu susah diatur?

Kecantikan itu, keindahan itu, jadikanlah satu. Dalam keindahan manfaatmu. Sederhanakanlah hidupmu, namun tinggikanlah kualitasmu. Percantiklah dirimu, namun percantik juga otak dan sikapmu. Nanti, saat kita sudah menua, anak cucu kita akan terus memuji kecantikan kita.

‘Oma, oma cantik deh. Aku mau kayak Oma. Makasih ya Oma udah didik Mama hebat aku. Makasih ya Oma udah sayangin aku juga, cucu beruntung Oma!’

NB: Hahaha, apa enggak melting kalau cucu kita ngomong begini?

 

Advertisements

Wanita: Antara Jodoh dan Bangsa

Oleh:

Emmy Yuniarti Rusadi

Adalah sebuah refleksi diri bagi wanita dimana saja khususnya muslimah jika hendak mendedikasikan hidupnya kepada kepentingan publik apapun itu. Segala pilihan amat membutuhkan kebijaksanaan. Secara pribadi, saya berpendapat bahwa tidak ada ambiguitas pilihan apakah berkarir ataukah hidup sepenuhnya dalam rumah tangga. Kita bisa keduanya. Bagaimana? Dengan komitmen dan kekuatan tekad menjalaninya. Semua kembali kepada arah hidup kita. Bakat tiap wanita beda-beda. Dan sepenuhnya ibu rumah tangga bukanlah suatu aib atau kesalahan walaupun telah menempuh sekolah tinggi, hanya saja pastikan bahwa ambisi, impian, dan keinginannya mengembangkan dirinya tidak terkekang selama amanah full time mom berjalan.

Jika ditanya ingin menjadi wanita seperti apa? Sederhana saja. Saya ingin menjadi ibu terbaik bagi anak saya kelak, bagi keluarga saya kelak, dan bagi generasi saya. Menjadi ibu yang baik sudah barang tentu menjadi istri yang baik. Hanya saja cara saya mungkin berbeda menyesuaikan bakat saya. Mengapa sekolah tinggi? Karena anak saya berhak mendapatkan wawasan terbaik dari orang yang melahirkannya, orang pertama yang mengetahui seluruh detail tubuh dan pikirannya. Orang pertama yang harus menjadi “sejatinya sekolah” bagi anak adalah orang tua, khususnya ibu. Apapun kesibukan itu, pilihlah dan rintislah karier sejak dini. Jadi tidak ada alasan kita harus memilih salah satu karena berkarya dan anak adalah bisa menjadi satu kesatuan sepanjang kita menikmatinya. Tidak ada halangan kini bayi diterima dalam area publik, senator bersidang sambil menggendong anaknya(lihat situasi juga tentunya), sehingga sejatinya batasan bahwa anak adalah penghalang berkarya adalah kepercayaan sejak dalam pikiran yang lama-lama menjadi keyakinan. Berhati-hati berpikir amat menentukan tindakan, termasuk memilah mana hal yang harus diulang-ulang atau mana yang harus dihilangkan. Sebaiknya, hilangkan lah gaya berpikir “limited” karena dengan kepercayaan diri dan konsistensi, orang lama-lama akan menghormati pilihan baik itu.

Teknologi, kondisi literasi, dll dewasa ini jika dimanfaatkan ke arah positif dapat menjadi kekuatan wanita. Di manapun berada. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan melimpahnya informasi, inovasi, kreatifitas bahkan network sekalipun untuk tetap berkiprah sampai akhir hayat. Tiap wanita berperan juga sebagai peran lainnya dalam masyarakat. Saya memilih peran sebagai “engine” pergerakan literasi riset dan komunitas kepemudaan. Anda sebagai wanita bisa berperan yang lainnya. Kekuatan memilih adalah kunci bagi keberlangsungan wanita berkarya. Disaat definisi bekerja tidak lagi harus di kantor, berdasi, dan duduk dalam meeting, wanita selalu punya cara menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Itu mengapa wanita adalah pilar bangsa. Runtuhnya kualitas wanita, runtuh pula kualitas bangsa. Jangan lupa, kecerdasan anak ke depan sangat bergantung dari contohnya. Ibunya. Bagaimana ia menyampaikan pendapat, menyalurkan amarah, dll bahkan di media sosial, akan berimbas luas. The power of emak-emak is so real. Alih-alih merasa tertekan oleh perkembangan zaman dan isu gender, harusnya justru wanita semakin terpacu berkarya selalu karena perhatian dunia kini tertuju pada kita. Gaya kepemimpinan wanita juga sangat khas. Tanpa perlu mengkotak-kotakkan apakah Anda atau saya aktifis feminisme, berkarya adalah suatu keniscayaan. Tanpa perlu ikuti arus perdebatan sengit soal kapan wanita bisa memimpin, ada baiknya berproses terus menaklukkan tantangan-tantangan di depan. Sebagai wanita, kita dianugerahi banyak kata, namun kita juga dianugerahi rasa. Kita harus bisa membedakan apakah suatu wacana mendukung karya atau tidak. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang menurunkan kualitas wanita. Apapun juga. Sejak sekarang. Sejak tulisan ini Anda baca.

Jadi, pembahasan soal jodohnya dimana? Di hati Anda sesaat Anda sadar bahwa wanita penuh karya macam Anda layak bagi pria yang mampu mendukung Anda. Tanpa kotak pandora dan macam-macam alibi. Semoga.

Nb: ini pengingat juga untuk saya.

Remah-Remah Kisah

Hidup memang hanyalah perjalanan, pasti ada perhentian. Dalam hidup, banyak selentingan kanan dan kiri yang mungkin mengganggu pikiran kita. Apapun namanya, gangguan adalah gangguan. Dan hal itu sebuah keniscayaan. Akan selalu ada. Akan selalu muncul ke permukaan.

Saya coba menyimak apa-apa yang terjadi belakangan ini. Entah dari skala pribadi hingga bangsa, rasa-rasanya kita selalu butuh satu langkah agak menjauhi masalah sementara waktu, sedemikian rupa, untuk mengamati masalah dari sudut pandang lain yang lebih lebar. Terlalu jenuh dalam pusaran tidak akan membuat orang cepat keluar dari kotak pandora, justru.

Sama halnya ketika kegagalan demi kegagalan menghinggapi kita tanpa pernah kita mengundangnya. TetapiĀ  bersahabat dengan kegagalan juga bagian dari seni kehidupan. Itu semacam tes kelayakan. Apakah dengan kegagalan manusia lantas jera berusaha atau justru berani mendobrak keterpurukan. Apapun skalanya, pribadi hingga bangsa, sama saja.

Berbagai kisah selalu menuangkan rasa manis, asam, bahkan pahit dalam hidup. Tapi temannya masih berceceran untuk direnungkan. Tidak akan lekang waktu bahkan seringkali mengendap dalam ingatan. Susah dilupakan sebagai tolak ukur pelajaran.

Menyimak diri kita juga secara tidak langsung menyimak bagaimana Tuhan “bekerja” begitu “rumit” menurut ukuran kita dengan segala kompleksitas dan ragam kehidupan yang ada. Semakin ilmu dikuasai manusia, harusnya semakin tunduk ia tahu bahwa kisah-kisahnya hanya akan tertelan liang lahat. Mungkin bersama ulat. Namun remahnya masih menyisakan amalan. Dari kesadaran itulah Mustinya remah-remah tiap kisah yang manusia torehkan kelak bernilai pasca ia “ditelan bumi”. Berkelanjutan sampai waktu tak terbatas. Diserap manfaatnya dan diabadikan dalam karya-karya manusia selanjutnya.

Merenung adalah jembatan kita mengais dan ” menjumputi” remah-remah itu. Apakah kita akan meninggalkan remah yang renyah? Ataukah justru dienyahkan oleh manusia lainnya?

Kisah selalu membawa petuah.

EYR

2 Agustus 2017