Kemampuan Memperbaiki Diri

 Bersyukurnya kita sebagai manusia, dan bukan mesin. Ketika ada kegagalan dalam hidup, manusia masih punya jiwa yang selalu ada untuk mengobati setiap fase itu ke arah lebih baik. Sedikit apapun itu, sekecil apapun itu. Bukan mesin yang ketika rusak harus diganti total. Hanya saja, manusia memiliki kadar perbaikan sendiri-sendiri. Ada hal terpenting soal hidayah yang juga tidak bisa lepas dari proses perbaikan ini. Dalam hal apapun. Seperti misalnya penemuan sederhana desain rumah seperti sarang lebah di Jepang, sangat efisien, kalau si penemu belum mendapat unsur “eureka” nya ya mustahil juga desain itu terwujud. Ide selalu tersebar dimana-mana tetapi apakah mata hati kita dapat menangkapnya atau tidak itu persoalannya.
Lalu bagaimana agar kemampuan diri itu dibarengi dengan mata hati yang siap terhadap ide-ide atau inspirasi-inspirasi ? Adalah selalu berusaha (dan sebagai makhluk reliji, hendaklah juga berdoa). Penting dalam upaya memperbaiki diri itu didasari juga pada keyakinan pada masa depan. Itu mengapa berbaik sangka kepada rencana-rencana Tuhan jauh lebih menenangkan, seberat apapun ujian atau kegagalan yang menempa kehidupan. Tuhan selalu lebih tahu kapan, dimana, dan bagaimana kita bisa naik derajat. Jika kita pernah bermimpi ke benua Amerika, Eropa, manapun sejak lama dan belum terwujud, jangan pernah mati kutu. Bukan suatu kebetulan jika Tuhan berangkatkan kita kesana pada situasi yang sangat pas, sudah punya istri atau suami, untuk menghadiri undangan penghargaan, atau menjadi duta pemuda dibanding misalnya jika kita ngotot tahunya kita “hanya” ikut seminar saja. Bukan membanding-bandingkan, tetapi selalu ada nilai tambah pada perjalanan-perjalanan yang dasarnya adalah Tuhan. Perjalanan dan tujuan yang dilandasi keyakinan kebaikan. Usaha pasti sampai pada tujuan. Kitalah yang selalu dapat memilih caranya lewat mengatur porsi kemampuan. Ngomong-ngomong, kunci kesuksesan sejati bukan pada seberapa prestasi dunia kita raih, tapi untuk apa prestasi dunia itu kita akan kontribusikan? Terlena dan “mabuk” dunia? Kalau iya, tandanya kita harus terus asah kemampuan diri ini untuk jadi lebih ingat mati.
7 September 2016
pengingat ditengah semakin “ketusnya” cendekiawan melongok rakyat
pengingat ditengah terpaan badai keangkuhan manusia yang semakin tajam
pengingat diri agar selalu menjadi pribadi yang ingat mati
Advertisements

2 thoughts on “Kemampuan Memperbaiki Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s