Mendefinisikan Ulang Properti (?)

Dalam konteks tata ruang, properti menjadi semacam peyorasi tersendiri ketika orang membayangkan bahwa properti adalah bagian dari bangunan dengan nilai investasi tinggi dan kesan wah mewah. Padahal properti memiliki definisi sederhana mengarah pada penyediaan bangunan atau hunian tertentu untuk tujuan tertentu.

Apa yang salah? Kecenderungan eksploitasi lahan tanpa batas? Bisa jadi. Penisbian bahwa banyak orang di luar sana yang masih membutuhkan tempat tinggal dan belum tersentuh secara signifikan? Maybe. Lalu seperti apakah properti yang diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan dan perkembangan sebenarnya? Indonesia dihadapkan pada tantangan bagaimana mengatur lahan yang semakin sempit terutama di perkotaan dengan kebutuhan properti dalam arti yang sesungguhnya untuk mengakomodasi mereka yang memerlukan. Alih- alih pertumbuhan ekonomi yang fantastis, properti yang dibangun dengan tidak berimbang dan cenderung investatif (untuk keperluan jual beli semata) justru akan menjadi boomerang pertumbuhan kota. “Meletusnya” balon- balon kredit macet sektor ini pada beberapa tahun silam di penjuru Amerika, UK, dan Asia kiranya menjadi perhatian lebih. Jadi, perlukah kita mendefinisikan ulang properti?

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s