Embrio Hijau

Pemuda lahir dari embrio hijau yang tiap saat dapat tumbuh. Entah di tanah gersang. Entah di tanah subur layaknya Indonesia. Kita tidak akan pernah lupa apa yang akan ditinggalkan oleh embrio hijau ini bagi nusanya kelak.
Jika embrio muda ini bergerak ke Timur, niscaya akan selalu membawa angina perubahan selaksa budaya yang lebih dekat jantungnya dengan negeri ini. Jika embrio ini bergerak ke Barat, niscaya perubahan juga akan terjadi, hanya hempasan angina yang dibawanya akan sanggup meruntuhkan tulangnya. Ia akan mungkin rapuh, tapi juga mungkin semakin kuat. Banyak nutrisi peradaban pagi dapat terserap.
Embrio hijau bukanlah embrio bayi. Ia akan dan pasti tumbuh menikmati bunga- bunga yang mekar. Ia akan tumbuh menghirup udara nan sejuk dengan rekahan mentari pagi. Suatu saat kita tak akan percaya bahwa embrio itu akan menjadi manusia hebat yang menyegarkan hiruk pikuk dunia. Kesegaran di tengah timpangnya social oleh perebutan tanah, air, dan udara. Embrio nusantara yang mendunia.
Hebat kiranya Engkau ciptakan bumi yang cantik ini. Bumi yang lengkap dengan cabang- cabang rimbunnya pepohonan. Bumi yang lengkap dengan akar- akar menghujam kuat banyak kayu berkualitas wahid. Ini benar- benar surge. Surga dunia. Mana hal yang tak bias kau dapat jika kaki kau injakkan pada gundukan- gundukan pasir putih di pantai yang masih perawan. Siulan burung senja masih sibuk mengintip gelap. Ada lagi yang harus kau catat, hijaunya bukit membawa jati diri embrionya itu bangga untuk pamerkan gunung- gunung tersembunyi.
Kita punya drama, tapi kita juga punya cerita yang selalu ada dalam tiap jengkal. Puisi negeri yang mengagumkan tiada terperi. Inilah hal yang embrio hijau itu akan selalu upayakan. Nama negeri itu Indonesia. Keagungan tiada tara. Tak seperti banyaknya kulit putih di belahan Utara sana. Embrio hijau adalah pemuda bersemangat yang selalu sedia menangkap matahari terbit. Calon yang selalu menangkap energi transisi dari matahari terbenam. Hidup seperti menganyam. Hidup membentuk buaian. Hidup membentuk polosan. Dan hidup membentuk senandung dalam banyaknya eksodus pemikiran, dari Timur ke Barat dan dari Barat ke Timur. Kita tidak akan pernah tahu kemana embrio hijau itu akan tumbuh dan menjadi berharga. Tapi kiranya nutrisi sang embrio cukup tangguh hadapi rintangan.
Tunggulah waktu 17 hingga 20 tahun. Wujud embrio itu akan segera kita dapat. Mungkin tegas, mungkin keras, mungkin lembut manghadapi perbedaan. Lautan tempatnya tumbuh menciptakan ketegasan itu. Sementara gunung- gunung menciptakan sentuhan angina lembut yang membuai namun kokoh bertahan. Hijau tetaplah menjadi jiwa aslinya. Embrio hijau yang selalu tumbuh. Embrio yang tidak akan pernah lupa warna dasarnya. Embrio yang tidak akan pernah lupa nyanyian alam yang juga jadikan ia selalu menabuh gendering cinta damai. Gendang bukan perang yang giat menyerukan dunia tanpa permusuhan.
Hijau selalu ciptakan putih- putih kesejukan. Tak mudah untuk selalu memupuk dunia yang asri tanpa debat sana- sini. Sejuknya alam hanya tersedia kelak jika ia menciptakan embrio baru. Embrio yang kian tumbuh, akan semakin lambat dan menua. “Life is so flat, but life can be so meaningful”.. Embrio hanya tahu bagaimana rasanya menciptakan dunia terus berjajar dengan hasrat berkarya. Tidak ada jeda untuk karya. Jeda hanyalah bagian dari istirahat sesaat. Sesaat adalah waktu istirahat yang tak boleh bangkrut.

Yogyakarta, 24 Februari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s