MEMANDANG SWEDIA DARI INDONESIA

MEMANDANG SWEDIA DARI INDONESIA

ok

Sejak kapan saya tertarik dengan kawasan Scandinavia? Sejak dulu entah kapan. Lupa juga. Tetapi mungkin sejak kecil. Sejak saya mengenal peta dan bertanya dalam hati, Scandinavia itu kecil sekali. Ya kecil sekali. Bahkan kalah luas dengan Indonesia. Tapi semakin dewasa saya semakin sadar bahwa kawasan ini bukanlah kawasan main- main. Sangat diperhitungkan dunia.

Perencanaan wilayah dan kota kian membuaka wawasan saya tentang penjelajahan baru kawasan Scandinavia secara lebih tajam. Dan akhir- akhir ini sudah sekitar dua bulan berjibaku dengan pekerjaan proyeksi implementasi panel surya bersama kawan- kawan lintas ilmu. Tidak ada motivasi lain selain memberikan contoh praktis bahwa seorang perencana wilayah dan kota harus bisa menaklukkan tantangan masa depan.

Pada awal pengerjaan proyek ini saya berpikir bahwa harus muncul hipotesis besar mengapa Negara dengan minim sinar matahari berani menggelorakan mimpi memasang panel surya sebagai bagian dalam kehidupan kotanya. Mengapa? Ini seperti upaya bunuh diri di siang bolong. Semua orang tahu bahwa itu hampir mustahil dilakukan. Dengan suhu minus yang dominan, summer yang mungkin tak bias dibilang summer, tetapi winter hampir bisa dikatakan setiap hari, apa bisa mereka taklukkan ambisinya? Ternyata kawasan Scandinavia termasuk kawasan yang tingkat pembangunannya jempolan. Keluar sebagai pemegang label Negara paling berkelanjutan di tahun 2010, membuat Swedia menjadi salah satu pelopor pengembangan kota- kota cerdas dengan pengembangan teknologi energinya. Tampaknya pajak besar tidak menyulitkan upaya mereka menerapkan energi terkini. Jika Belanda bisa menerapkan jalan pertama berbasis panel surya di dunia, maka Swedia ingin menjadi negara yang paling banyak menggunakan panel surya. Setidaknya di kawasan Scandinavia.

Apa yang seharusnya Indonesia pandang dari “negara kecil” ini? Sudah di pojok Utara, miskin SDA, tapi mengapa SDM begitu semangat. Ada benarnya jika semakin terdesak orang, semakin kreatif dia. Negara- Negara dekat kutub begini kalau tak kreatif bias mati kutu menghadapi perkembangan global. Ini persis dengan logika bahwa alam tak bias ditaklukkan tapi dapat diakali, sekedar dapat dijinakkan pun tak bisa. Swedia melakukannya. Ekspor terbesar dari Swedia tak lain adalah teknologi. Swedia juga terkenal dengan ekspor senjata berteknologi terkini.

Adalah sebuah kebetulan luar biasa ketika professor saya menunjuk saya menjadi bagian dalam tim beliau untuk menjadi coordinator kegiatan studio kolaborasi antara Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM dengan Curtin University (Perth, West Australia) Desember 2014 lalu. Salah satu peserta ternyata Swedia asli sejak kecil walau dia seorang keturunan Timur Tengah tulen. Menguasai 5 bahasa internasional, tentu salah satunya Swedish. Banyak kisah riil dia ceritakan mengapa dia pergi berkelana studi ke Australia. Tak tahan dengan iklim Swedia katanya. Saya yakin itu hanya salah satu alas an saja karena kawan saya ini tipe petualang yang senang mencari tantangan. Dari dialah proyek sana dan tim juga terbantu. Selain karena tidak semua informasi publik di Swedia yang dipublikasikan dalam Bahasa Inggris, tetapi juga mengerti secara langsung dari warga sana. Pandangan kawan saya ini menyatakn bahwa pemerintah Swedia sangat ambisius pada proyek- proyek jangka panjang. Sesuatu yang berkaitan dengan manusia dan alam sangat dijaga kelestariannya. Bagi mereka, sulit untuk mengatasi suatu masalah di kemudian hari. Lebih baik mencegah daripada mengatasi, begitu kurang lebih.

Tulisan ini saya buat karena saya penasaran dengan hasil akhir proyek kami ini. Semoga bisa bernilai guna. Jika banyak kawan yang tak percaya atau malu- malu untuk mencoba tantangan global, saya merasa beruntung bahwa saya bekerja dengan tim yang kondusif. Ini bagian yang ingin saya bagi dengan kawan- kawan pembaca juga. Lebih baik gagal setelah mencoba daripada tidak sama sekali. Kegagalan salah satu kompetisi perencanaan ruang di wilayah Eropa lain tahun 2013-2014 membuat saya semakin terpacu untuk tampil lebih baik. Orang luar bisa dibilang hanya bermodal semangat tanpa henti dan cuek terhadap opini yang merendahkan. Indonesia bisa belajar dari hal tersebut. Proses proyek ini juga bisa jadi pembelajaran bahwa inilah sebenarnya salah satu cara kita melihat dunia luar.

Pekerjaan ini semakin membuat jarak Indonesia dan Swedia Nampak dekat. Setidaknya dalam spirit. Ada beberapa kosakata yang akhirnya masuk dalam ingatan. Betapa Swedia itu jauh di mata namun dekat di hati. Semoga kelak bisa menginjakkan kaki kesana. Some said that Sweden is a true fairytale country. With solar energy (?). I guess 🙂

Semangat berdedikasi! Ebi, Doni, Agung, Adam, Megan

Thanks a lot for Qase in Australia. We hope the best result for this project, mate!

Gambar: telegraph.co.uk

Advertisements

2 thoughts on “MEMANDANG SWEDIA DARI INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s