MENJAGA API PERJUANGAN

ok

MENJAGA API PERJUANGAN

Oleh:
Emmy Yuniarti Rusadi

“Berjalanlah hingga lututmu lelah. Berjalanlah menuntut ilmu kemanapun kamu.”

Begitulah sebuah “mantra sakti” yang membuatku tak merasakan sakit dalam menempuh segala uji. Kakiku pernah sobek karena terlalu bersemangat berjalan kaki pada jarak 1 kilometer jalan pintas. Aku bernah berjuang menawar harga ongkos travel malam untuk kembali ke rumah dengan harga Rp7.000,00 saat sang supir bersikeras memintaku Rp15.000,00. Hanya uang itu yang tersisa sebagai uang saku harianku. Terpaksa harus duduk paling akhir dan sekenanya dalam mobil travel menuju ke Magelang itu. Mimpi kesuksesan jauh lebih membuatku berani. Aku harus sampai di rumah segera. Aku pernah terlambat 20 menit ujian karena lamanya menanti bus jalur 5 yang hanya memiliki jumlah armada terbatas dan terbagi menjadi dua jurusan. Waktu 45 menit menantinya tak akan pernah pudar dalam ingatan walaupun kini bus itu sudah tak lagi dapat ditemui. Semacam saksi hidup “punahnya” armada itu.

Menjaga sesuatu agar tak padam. Menjaga nyala semangat agar tak lekang oleh waktu. Tak menyerah oleh hambatan dan ujian. Menjaga api semangat agar dapat mati sebagai orang yang bermanfaat. Terimakasih Allah swt atas kesempatan lahir di dunia ini.

“Memangnya kamu g bisa pakai motor, Emmy?”. Suatu saat pertanyaan ini meluncur padaku, sederhana kujawab , ‘Tidak, sepertinya aku sudah lupa cara menggunakannya.” Terdengar konyol, tetapi itulah kebiasaan yang muncul karena seringnya berjalan kaki dan berkendaraan umum. Motor satu- satunya adalah motor tua tahun 98-an miliki Bapak yang beliau tak mau ganti karena telah banyak berjasa antar- jemput anak- anaknya ke bangku sekolah. Lagipula dengan berjalan kaki dan berkendaraan umum aku lebih mantap menjawab masalah kota, masalah transportasi, atau menjadi pendengar “radio rakyat” secara langsung setiap hari karena bersinggungan langsung dengan masyarakat transportasi. Sebuah panggilan moral untuk juga menebus perjuangan di masa muda agar dapat merasakan kado kejayaan di masa senja.

Aku mulai lupa pada bagaimana rasanya sakit demam. Alhamdulillah aku jarang menggunakan fasilitas medis kampus karena kebiasaan jalan kaki ini. Kebiasaan ini pula yang mendorongku memperhitungkan waktu sekecil- kecilnya. Dan tampak aneh. “Oke, kita bertemu jam 09.10 ya.” atau “Bagaimana kalau kita diskusi jam 15.20 saja?”. Coba perhatikan waktunya, bukan kelipatan lazim 30 menit atau 15 menit, atau malah 60 menit. Salah satu kebiasaan alias habits yang selalu melekat hingga kini. Kelakarku sederhana juga “ Warga Eropa yang maju jarang pakai kendaraan pribadi, jadi jadwalnya pun aneh- aneh. Persiapan yuk ke Eropa. Hahaha”. Spontan semua kawanku bervariasi mengernyitkan dahi atau malah mengamini. Kini semua tampak jelas hasilnya setelah hampir 6 tahun aku berada di dunia kampus.

Menjaga kebiasaan positif memang terlihat menyakitkan di awal, tetapi manis buahnya. Banyak hikmah didapat. Jika tidak sejak dulu belajar naik bus umum, mungkin aku sudah cepat kebingungan jika berada pada daerah yang tak mudah diakses. Tak ada ide naik kendaraan apa. Atau tak berani memulai menulari orang lain cara untuk mengatur waktu perjalanan. Ternyata hidup menyajikan berjuta hikmah dan pelajaran. Ternyata dari hal kecil yang berulang- ulang itulah jiwa kepemimpinan muncul secara natural. Bagaimana aku merasakan perjuangan 15 menit menanti, 30 menit, dan 60 menit, bahkan jika tanpa jam pun dapat menebak jumlah waktu. Adalah sebuah kebenaran bahwa modal Tuhan dalam hidup ini yang tak bias digantikan adalah waktu.

Terimakasih pada waktu yang selalu membisikkan hari untuk menemaniku. Terimakasih pada semua pihak yang telah membaca gerakku hingga kini. Pengalaman ini akan selalu kutularkan pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Nyala api kecil dapat menjadi besar. Berjalan kaki mengajarkanku perihnya perjuangan namun manis buahnya kelak. Rasa- rasanya optimisme itu selalu terbangun. Nyala semangat itu selalu ada. Apapun yang terbaik untuk bangsa tercinta.

Foto: huffingtonpost

Advertisements

2 thoughts on “MENJAGA API PERJUANGAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s