MENJADI PRIBADI ASIK ITU BAIK: AYO “BERISIK”!!!

MENJADI PRIBADI ASIK ITU BAIK: AYO “BERISIK”!!!

Tulisan ini ditujukan untuk menyentil siapa saja yang mungkin merasa bahwa asik itu hedon. Asik itu jauh dari sisi relijius. Jauh dari pesan intelektual. Tidak apa- apa jika semakin banyak orang tersentil karena tulisan ini. Semakin kita bisa berbenah diri, semakin baik. Semakin cepat berbenah diri semakin baik.

Mengingat ketika saya memasuki dunia kampus, jauh- jauh hari saya patrikan diri benar- benar untuk menjadi “sponge” kampus. Menyerap apapun, menyaring lewat “pori-pori sponge”, dan harus siap jika suatu saat “perasan” harus digunakan untuk suatu lompatan besar dalam hidup. Dalam perspektif saya, bisa dikatakan saya “bertaruh” waktu untuk membuktikan “hipotesis hidup”.

Pertama, “apakah saya bisa mendefinisikan ulang apa itu popularitas?”. Popularitas kehidupan akademik dibangun dari keaktifan seseorang dalam berbagai rutinitas kelas, organisasi, dan bentuk lain. Popularitas bisa bersifat positif maupun negative tergantung pribadi dan “artefak” prestasi yang dia tinggalkan untuk kampus, lebih jauh untuk agama, bangsa, dan negara. Dalam kehidupan kampus, ternyata orang bisa popular dengan atau tanpa usaha. Saya cenderung mengambil hikmah bahwa popularitas adalah bonus kerja. Biarkan dia yang berlari kepada kita karena kita memiliki “magnet” itu. Dan niatkan pribadi untuk selalu bertindak yang terbaik, insyaAllah popular bisa jadi jalan untuk terus menularkan ilmu dan inspirasi. Tetapi apakah anggapan ini bisa dipahami dari satu sisi saja? Ternyata tidak! Popularitas juga harus “dibentuk” sejak awal kita mendedikasikan diri pada sesuatu hal. Ini memungkinkan kita untuk tidak menyerah begitu saja kepada keadaan. Jangan malu untuk mempromosikan “produk” diri seperti ide, gagasan, karya, tetapi tampakkan bahwa niat awalnya adalah membagi inspirasi dan berdialog. Banyak juga kita temui berserakan kesombongan diri disana- sini karena sosial media memang menyediakan ruang itu. Sebagai orang yang sadar bahwa kita sebagai warga Indonesia yang baik, saya sarankan “sombonglah” untuk kepentingan negeri. Nah ini baru oke, hehehe. “Sombongkanlah” robot karya negeri agar Jepang berpikir ulang untuk membayar rendah ahli robot kita. “Sombongkanlah” pesona surge alam yang kita miliki untuk mengajarkan kepada dunia bagaimana caranya merawat Pulau Komodo, konservasi hutan Merapi, hutan kunan- kunang di Klaimantan, hingga bagaimana ikan segar di dapat di Papua. Jika kurang, jangan tanggung- tanggung bilang paus terbesar yang biasa diteliti ahli maritime atau oceanografi seluruh dunia ya dimana lagi kalau bukan di lautan Papua. Jauh- jauh LSM internasional mengerahkan ilmuwan satu- satunya disana, perempuan lagi, untuk mengetahui keelokan paus ini. Sungguh, kurang apa kita ini!

Kembali soal popularitas, bersyukurlah karena mahasiswa memiliki segudang hal untuk “diinfokan” kepada kawan- kawan terutama luar negeri. Popularitas mahasiswa juga seringkali ditasbihkan saat dia mampu berdialog seluas-luasnya dengan kawan internasional. Ada benarnya, tetapi kalau hasilnya hanya untuk dirinya sendiri, itu enggak asik. Sekali lagi, enggak asik hehe.

Jika kawan- kawan memiliki sisi popular, gunakanlah untuk mengajak kawan lain untuk sama- sama belajar. Terkesan menghamburkan waktu. Memang! Terutama menghadapi mahasiswa malas! Tetapi tantangan selalu hinggap di depan mata. Jangan menyerah. Justru dari mereka kita belajar kreatifitas lain. Mereka hanya perlu diarahkan. Mereka hanya tidak tahu caranya. Jika sudah optimal kita “tarik” pikirannya tetapi tetap tidak mempan, biarkan daun membisikkan ilham sepoi- sepoi kelak padanya hehehehe. Tugas kita sudah selesai? Belum. Populer itu tanggung jawabnya besar. Jika tidak inspiratif, tuntutan zaman melindas. Tetapi berbuatlah jangan karena popular yang melekat, tetapi karena apa yang kita kerjakan itu penting dan diperlukan. Kita mungkin temui perbedaan cara pandang dan ‘dimensi pandang” orang lain. Tetapi itu wajar. Jika menyerah, maka kita tidak temukan bohlam lampu saat ini. Atau kita tidak bisa melihat seperti apa itu Galaksi Bimasakti, “matahari” lain di kosmos, dan hal lain yang dianggap tidak mungkin saat dilontarkan. Justru dari proses “perdebatan” ini muncullah popularitas sendiri.

Ternyata popularitas tidak hanya bisa dimaknai sesuatu yang terkenal, tetapi sesuatu yang bertahan selama mungkin. Esensi dari keberlangsungan yang berkelanjutan. Apapun itu. Ide atau dimensi yang lebih kecil adalah fisik, misalnya alam.

Kedua, “apa bisa saya ciptakan figur asik dengan definisi baru? Akademik kena, sosial kena?”. Untuk bagian ini, tentu semua orang memiliki bakat dan nasib masing- masing. Saya juga mengajak kawan- kawan semua untuk selalu bersyukur atas apa yang telah diterima dan diupayakan terutama dalam kehidupan kampus. Saya bersyukur karena keingintahuan saya berbuah suatu hikmah dimana hal yang tidak mungkin adalah mungkin. Tentu tidak lepas dari Allah swt yang selalu membimbing. Sering kita mempercayai obrolan umum bahwa menyeimbangkan akademik dan sosial (organisasi) adalah pekerjaan omong kosong. Berangkat dari hal ini, saya benar- benar terpacu untuk mendefinikasn ulang perkataan itu. Kita bisa mengusahakannya! IPK adalah penting, tetapi tanggung jawab dari IPK itu jauh lebih penting. Bagaimana kita harus ingat bahwa kita adalah mahasiswa, golongan yang “elit” beruntung untuk mengakses pendidikan tinggi. Berapa banyak kelas yang mengajarkan kita kepekaan menyelesaikan masalah? Ternyata guru terbaik itu adalah nurani kita. Kitalah yang bisa menciptakan “SKS” itu sendiri. Menciptakan sesuatu dan menghimpun mahasiswa lain untuk berbagi. Walaupun sedikit. Walaupun belepotan. Percayalah Tuhan lebih menghargai tindakan itu.

Figur asik bukan hanya tentang orang yang jago main music. Ini definisi lama. Ke depan, pemuda Indonesia harus bisa menjadi orang yang tidak hanya popular secara umum, namun juga popular karena kapabilitasnya. Intelektual kita diuji setidaknya 2015! Selamat datang CAFTA. Selamat datang persaingan global entah jilid ke berapa. Selamat datang gempuran multinasional.

Menjadi asik itu pilihan, tetapi ini pilihan yang baik. Ayo definisikan ulang asik itu. Asik itu kalau kita bisa tanamkan budaya antri saat makan di kantin kampus, saat kita bisa antri di SMA/SMP ketika kita reuni disana, antri sewaktu masuk bus, berani menolak kasih contekan teman karena mengajarinya untuk berjuang demi masa depannya, asik berkomentar di Facebook dan media sosial  lainnya dengan analisis baik atau diam, berani mengungkapkan ide futuristik solutif walaupun dosen menolaknya saat ini. Asik itu berawal dari “hal- hal berisik”. Sewaktu kamu harus berjuang beberapa bulan untuk menyiapkan idemu tereksekusi dengan memuaskan.

Apakah saya sudah asik sehingga menulis tulisan ini? Tidak juga. Mungkin belum sepenuhnya. Tetapi belajar itu selalu memiliki celah perkembangan. Jika kita sepakat untuk mendefinikan ulang semangat hidup dengan lebih baik, itu juga sudah bagian dari asik! Ayo kita “berisik”!  J

NB: “berisik” adalah dimana kita bisa sajikan prestasi solutif dalam kehidupan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s