The Dubai Mall : Proyek Ambisius, Harga Diri, dan Inovasi

The Dubai Mall : Proyek Ambisius, Harga Diri, dan Inovasi

 dubai

(foto: www.hdwpapers.com)

Tadi pagi jam 07.00-08.00 WIB saya menonton acara Mega Structure di Kompas TV. Salah satu acara favorit. Kali ini tentang pembangunan The Dubai Mall. Dibuka untuk public pada 4 November 2008. Melibatkan 91 arsitek multinasional, pemimpinnya Angelica Chan. Sementara setiap har bekerja 10.000 pekerja pada siang hari dan 2.500 pekerja pada malam hari. Terdapat shift kerja yang memungkinkan 24 jam pekerjaan dilakukan. Suhu Dubai pada musim panas dapat mencapai 40o Celcius. Stamina dan adaptasi pekerja diperlukan untuk membuat pekerjaan sempurna. Ketua proyek sendiri adalah Mohammed Al Alabba. Ambisi terbesarnya adalah membangun bangunan termegah di dunia. Dia membayangkan bahwa generasinya mampu menginjakkan kaki di es tanpa ia menyentuh negara lain. Generasinya mampu berlari- lari dalam kemegahan tanpa harus terbang ke benua lain. Ambisi ini kuat dan sempurna. Bahkan saking ambisisusnya dia berinvestasi milyaran dollar untuk membangun mall ini bukan tanpa alasan. Dia ingin Dubai memiliki kebanggaan jika suatu saat bisnis minyak meredup. Ini adalah maneuver investasi jangka panjang.

Ide dasar selalulah melandasi ide besar. Sejatinya, ide besar itu sudah tertanam dalam ide dasar, namun manusia memiliki keterbatasan dimensi sehingga hal- hal besar dalam pikirannya harus diwujudkan dalam dimensi fisik. Ambisis seringkali berdampingan langsung dengan pengakuan. Al Alabba membuktikan itu. Walaupun proyeknya ini harus mundur dua kali karena beberapa teknis pemasangan eksterior dan manajemen air mancur, tetapi kesempurnaan pada niat awal selalulah menciptakan energi besar pada sesuatu yang awalnya tidak mungkin.

Memindahkan kaca khusus yang terbagi dalam 4 potongan utama, material yang dibuat di Amerika Serikat dan harus menunggu waktu 6 bulan untuk ia jadi. Salah sedikit saja tidak presisi dalam pemasangan, material akuarium terbesar di dunia ini akan hancur dan memerlukan waktu 6-12 bulan lagi untuk memproduksinya. Kaca- kaca inilah yang kini terpasang sempurna menjadi Dubai Aquarium and Underwater Zoo.

Ilmu rekayasa adalah salah satu bentuk manusia memiliki kreatifitas tanpa batas jika didorong oleh ambisi yang seimbang. Dari semua detail tayangan hari ini saya bisa belajar semangat membangun yang Dubai miliki ada pada para pemilik dollar. “Juragan-juragan” dollar inilah yang mempekerjakan ahli bangunan dari berbagai penjuru dunia untuk merealisasikan idenya membangun kebanggan. Jika dulu mercusuar pembanguan ada di Amerika dan Eropa serta Asia Timur, kini Dubai menggunakan taji-nya karena benar- benar meriset pola kegiatan dunia yang mulai konsumtif dan pentingnya “pleasure” di masa depan. Dua hal inilah yang menjadi pijakan kuat Al Alabba untuk mewujudkan mall terluas se dunia itu. Jika kita Tarik bagaimana teori materialism berkembang, Dubai memasuki era pengembangan fisik besar- besaran. Agaknya, Dubai memang “lebih mudah” membangun karena lahan disana begitu luas dan homogeny. Lansekap Dubai adalah lansekap “tua” tanpa banyak perubahan. Gurun dan gurun. Satu- satunya halangan bagi para pengembang adalah badai gurun. Namun jika mau detail, penghambatnya banyak sekali. Mulai dari cuaca ekstrem, sumber air, potensi gerakan pasir akibat angina yang memungkinkan suatu bangunan dapat tertutup pasir suatu ketika, jumlah SDM, serta bayang- baying kebangkrutan Uni Emirat Arab dari bisnis minyak bumi. Jika semua hambatan itu menjadi alasan, Dubai tidak akan berkembang semasiv ini, terkhusus The Dubai Mall. Suatu proyek yang dinilai mustahil. Bagaimana mereka berimajinasi tentang akuarium,m berimajinasi tentang es dan seluncur, imajinasi tentang atap futuristic, imajinasi air mancur modern, serta imajinasi transportasi nol karbon untuk mendukung citarasa bangunan. Ingat, ini hanya bangunan, hanya bangunan. Tetapi mereka para pembangunnya sama sekali tidak percaya bahwa mereka “hanya membangun bangunan”. Mata awam dan public bukanlah mata sebenar- benarnya bagi mereka. Ada intuisi tajam disini bahwa kemudi bisnis akan beralih pada “pleasure”! Dan mereka benar!

Inovasi yang dilakukan selain akuarium, taman seluncur dengan penyinara langsung matahari sehingga es yang dibekukan harus dibukan lebih dingin 20 Celcius, menggunakan komputerisasi untuk mengontrol hiu- hiu dengan smart alarm dimana jika ssuatu terjadi pada komputer pengontrol maka operator dapat mengetahuinya via sms, air mancur ber-ritme, sisrkulasi transportasi rujukan dunia, dan atap yang bergelombang. Bayangkan berapa beban bangunan luas ini.

Proyek ambisius yang berhasil mampu menaikkan harga diri dan pengakuan inovasi. Sebaliknya, dapat membuat frustasi. Seperti hal nya kegagalan pengembangan Detroit karena hutang pembangunan. Padahal kejayaan itu bisa dibagi- bagi dalam beberapa zaman andai saja ambisi kuat dan inovasi dilakukan.

Hikmah dari pembanguan The Dubai Mall tidak lain adalah inovasi. Tidak selamanya minyak bumi Berjaya. Tidak ada hal-hal yang langgeng selamanya, namun kita dapat membagi- bagi kejayaan dalam beberapa masa jika kita mau. Inovasi adalah titik awal pengubah. Kelak, mall ini juga akan sepi setelah kunjungan 100 juta nya. Jika boleh saya singgung juga tentang perkembangan dunia. Dubai membuktikan hal lewat satu hal. Adalah benar bahwa semakin kita mendekati kiamat, semakin kita bisa melihat “kampung mengangkasa”(-pen) dimana daerah yang dulu banyak penggembalanya kini mendirikan pencakar dunia atau gedung- gedung tinggi. Sebuah pesan pengingat yang Rasul sampaikan.  Dubai mungkin penanda kemajuan, tapi bisa berarti tanda kehancuran ketika materialism terus dikembangkan. Penilaian sesuatu menjadi tidak lagi berdasarkan apa yang sebenarnya dilakukan, namun apa yang seharunya dilakukan berdasarkan keinginan. Wallahu’alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s