Tata Ruang di Indonesia, Sudahkah Menjadi Perhatian Pemimpin?

 TATA RUANG INDONESIA, SUDAHKAH MENJADI PERHATIAN PEMIMPIN?

oleh;

Emmy Yuniarti Rusadi

Tata ruang akan menjadi hal esensi dan seksi bagi calon pemimpin Indonesia ke depan. Seharusnya isu- isu terkini mengenai tata ruang diangkat setinggi- tingginya Tetapi kebanyakan calon pemimpin kita tidak menjadikan isu tata ruang menjadi hal yang patut disadari. Inilah bukti bahwa kedewasaan diri calon pemimpin tersebut masih rendah dalam upaya menghargai alam. Tata ruang sekatinya manajemen paling esensial dalam menata kehidupan sosial, ekonomi, dan sebagainya. Menatar bentuka alam bukanlah perkara mudah dan singkat. Jika masalah ruang hanya jadi bahan singgungan kedua, bukan tidak mungkin ekspansi manusia terhadap alam akan menigkat tanpa kesadaran yang baik. Peran pemimpin adalah menjadi panutan. Bagaimana mungkin kita meletakkan kepercayaan pada calon pemimpin yang tidak mengerti esensi kehidupan, esensi mengatur ruang. Ruang memberikan kontribusi terbesar bagi manusia dalam mencukupi kebutuhannya.

Tata ruang Indonesia juga memiliki kekhasan yang tidak dapat disama-ratakan dengan tata ruang lain. Kita tidak bisa memaksakan laju pembangunan fisik kota meniru banyak- banyak seperti kota- kota di Eropa, Amerika, atau manapun. Tetapi kita masih bisa mengambil contoh- contoh positif yang relevan dengan tata ruang kita. Perbedaan mendasar tertek pada tata guna lahan yang diaplikasikan. Jika kota- kota di Amerika dan Eropa pemerintah memegang kendali kuat terhadap kepemilikan lahan dan pengendaliannya, berbeda dengan di Indonesia yang kepemilikan pribadi atas lahannya begitu besar dan sistem waris yang tidak dapat dielakkan. Jika pandangan positif yang dipakai, semestinya ini memudahkan pemerintah dalam menelusuri jejak kepemilikan atas tanah karena turun temurun, sehingga pendekatan komunikatif untuk mengubah atau memberikan kebijakan jauh lebih mudah. Ada lagi mitos- mitos negative yang terlanjur beredar dalam masyarakat kita bahwa ketika sudah membeli lahan berarti telah sepenuhnya boleh menjadikannya apa saja, padahala lahan memiliki regulasi yang mengikat entah itu tentang hak guna lahan, aturan luasan bangunan (KDB), serta aturan ketinggian bangunan (KLB), serta kontibusinya terhadap lingkungan hidup misalnya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Mitos ini harus dipangkas habis sebelum generasi berikutnya merasakan kekeringan dahsyat atau kekurangan pangan akut.

Advertisements
Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s