Tata Kota untuk Pemuda

TATA KOTA UNTUK PEMUDA

oleh

Emmy Yuniarti Rusadi

Indonesia akan kebanjiran pemuda sebagai bonus demografi di tahun 2020. Padahal di tahun 2015 saja diprediksi jumlah pemuda yang berusia 16- 30 tahun adalah 62, 24 juta jiwa. Jika dahulu definisi pemuda adalah penduduk dengan usia 15- 35 tahun kini berganti menjadi 16- 30 tahun berdasarkan UU No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan. Jika pada tahun 2009 terdapat 62, 77 juta pemuda, itu berarti perbedaan yang terjadi dalam rentang tahun 2009 hingga 2015 (6 tahun) adalah 0, 53 juta jiwa atau 530.000 jiwa bertambah. Maka diprediksi jumlah pemuda pada tahun 2030 diprediksi sekitar 1.148.333,33 tambahan jiwa. Tambahan jiwa ini akan membuat tahun 2030 adalah tahunnya pemuda Indonesia dengan total pemuda Indonesia menjadi 63 juta lebih.

Ruang yang diperlukan setidaknya hingga tahun 2025 atau 2030 adalah ruang yang baik untuk pertumbuhan putra- putri bangsa ini. Menyediakan ruang publik yang cukup dimana oksigen bukanlah hal yang “mahal”, menciptakan cukup taman bermain yang bisa mempercantik pertumbuhan daerah, jangan bangun lagi ruang- ruang tertutup yang menggunakan AC dengan beban energi dan kesehatan udara yang patut dipertanyakan dalam jangka panjang apakah sehat. Ruang harus mennjadi tempat bermain dan belajar yang terbaik untuk mempersiapkan pertarungan pemuda-pemudi ini kelak bagi bangsanya. Bagaimana bisa otak mereka segar jika tempat bermain saja susah didapatkan. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi atlet yang handal jika luas lapangan berlatih semakin sulit ditemui karena orang menganggapnya tak bernilai. Tak bisa menghasilkan “materai” alias kontrak karya. Sampai kapan kita harus menanti hak hidup mereka dikebiri? Oleh orang- orang dewasa yang saat ini memikirkan masa depan justru tidak sungguh-sungguh memikirkan apa itu masa depan. Hal pemuda Indonesia tahun 2030 akan pemenuhan ruang yang sehat dan segar untuk pertumbuhan mereka bahkan sudah dimusnahkan sebelum pemuda lahir. Menyedihkan! Tampaknya tak berlebihan jika nantinya komunitas dan aktifis menjadi tulang punggung pembangunan yang memperjuangkan ini, lebih cepat daripada swasta atau pemerintah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s