KOTA YOGYAKARTA DAN KESADARAN TATA RUANG

KOTA YOGYAKARTA DAN KESADARAN TATA RUANG

oleh

Emmy Yuniarti Rusadi

 peta rencana pola ruang diy

(gambar:Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diunduh 2011)

Telah menginjak usia 257 tahun bagi kelahiran Kota Yogyakarta merupakan usia yang tidak muda lagi semenjak kepindahan Sultan Hamengku Buwono I dari Pesanggarahan Ambarketawang ke Kraton yang baru pada 7 Oktober 1756. Dengan usia tersebut pengembangan kota sudah banyak belajar dari sejarah dan perkembangan zaman. Pada tahun 2009 Ikatan Ahli Perenacana (IAP) di Indonesia merilis hasil riset Most Liveable City Index pada 12 kota besar di Indonesia, salah satunya adalah Yogyakarta. Yogyakarta memperoleh city index tertinggi 65, 34. Terdapat tujuh indikator penilaian meliputi aspek fisik, aspek lingkungan, aspek ekonomi, aspek transportasi, aspek fasilitas, aspek infrastruktur-utilitas, dan aspek sosial.

Kota Kyoto di Jepang merupakan Sister City atau kembaran dari Yogyakarta. Kota ini juga berusia kurang lebih sama dengan Kyoto yang berdiri pada tahun 1889 dengan kepadatan penduduk pada tahun 2008 sejumlah 1.464.990 jiwa. Kota ini menjadi pusat bisnis dan pariwisata persis seperti Yogyakarta dan sama- sama mernjadi kota pelajar. Hanya saja hal yang membedakan ada pada segi tata ruang dimana Kyoto lebih berpola grid atau kotak- kotak catur dengan system jalan lurus, sementara Yogyakarta tersusun atas banyak kampong dengan pola jalan yang ada mengikuti perumahan atau penggunaan lahan lainnya. Hanya beberapa kawasan yang berkembang dengan desain kota yang teratur seperti Kotagedhe, Malioboro, dan kawasan keraton yang itupun masih dperdebatkan hingga kini upaya pelestarian dan pengaturannya. Dengan kepadatan penduduk tersebut Kyoto mampu memiliki basis transportasi yang baik. Integrasi antar moda transportasi terencana apik dan terurus dengan professional. Ini adalah satu persaingan kota yang menarik.

Yogyakarta semestinya bisa berpacu dengan roda waktu dan terus berbenah diri. Pemasukan Yogyakarta dari pajak restoran dan pajak- pajak lain terkait pariwisata bisa jadi penopang sendi ekonomi yang baik. Sementara itu pendidikan di Yogyakarta termasuk masuk dalam jajaran prestisius di tingkat nasional, jadi logikanya adalah makin banyaknya orang berpendidikan yang dapat menyumbang pundi- pundi pembangunan melalui pajak penghasilan ataupun sumbangsih kreatifitas. Namun potensi- potensi ini tampak belum bersinergi ketika upaya- upaya pengelolaan lahan masih mengalami banyak hambatan pada kepemmilikan, ganti rugi, rencana tata kota yang terus didiskusikan sementara publik acuh tak acuh, atau belum mengertinya public terhadap pentingnya tata ruang Yogyakarta. Ini bisa menjadi peluang jika gesit bertindak, misalnya menciptakan brand image bagus bahwa Yogyakarta adalah kota angkringan. Dunia berlomba- lomba menjadikan street vendor (pedagang kaki lima) buatan dengan kafe- kafe di sepanjang trotoar untuk menggalakkan budaya jalan kaki dengan lebih semarak, sementara Yogyakarta sudah memilikinya bahkan menjadi ciri khas khusus. Yogyakarta juga memiliki ciri khas urban yang tidak dimiliki Kyoto atau kota lain seusianya di dunia yaitu buaday ramah tamah. Transportasi tradisional kita masih berjajar banyak dan menjadi hal eksotis ditengah hiruk pikuk modernisasi global. Banyak hal yang bisa ‘dijual” asalkan kota ini mampu lebioh menata diri dan tentu saja menata ruang.

Yogyakarta tidak sendiri. Ia tumbuh seumuran dengan kota lain di dunia. Jika Kyoto merupakan kota kembar Yogyakarta yang notabene juga disandingkan dengan kota kembar seperti Boston (USA), Paris (Perancis), Cologne (Jerman), Firenze (Italia), Xi’an (RRC), Zagreb (Kroasia), dan Guadalajara (Meksiko), maka berbanggalah kita yang hidup dari nafas Yogyakarta. Nafas dunia yang patut dijadikan inspirasi bahwa kita tinggal di kota yang terus akan dibaca dunia. Berbenah diri itu sangatlah penting, tidak lain dimulai dari semangat membenahi tata ruang. Jika tata ruang telah menjadi edukasi yang baik di mata publik, tata kelola ekonomi dan seluruh sektor apalagi transportasi adalah keniscayaan. Selamat ulang tahun Yogyakarta, masa depanmu ditentukan oleh langkah terdepan saat ini.

Advertisements

2 thoughts on “KOTA YOGYAKARTA DAN KESADARAN TATA RUANG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s