JANGAN TANYA PEMUDA SOAL PRESIDEN: MEREKA SIBUK!

JANGAN TANYA PEMUDA SOAL PRESIDEN: MEREKA SIBUK!

 oleh:

Emmy Yuniarti Rusadi

Salah kalau kita memercayakan bangsa ini pada kaum muda. Mereka hanyalah kaum yang tak mengerti sejarah bangsa apalagi siapa saja pahlawan yang gugur di medan laga karena saking sibuknya kecanduan gadget. Jika tidak percaya, survey saja. Mereka pasti sedang asik memainkan permainan- permainan online yang dominan bukan buatan Indonesia. Kata mereka kita tidak punya mutu. Kalah saing dengan Jepang apalagi Amerika.

Jika masih kurang percaya, cobalah tanyakan apa saja Pancasila itu, pasti mereka akan menjawabnya dengan bingung dan terbolak- balik antara sila keempat dan kelima. Mengenaskan. Pemuda Indonesia memang tidak menghargai bangsanya sendiri, bangsa yang di tahun 1945 merdeka. Katanya.

Baiklah, jangan mudah juga percaya dengan saya. Kita harus berjalan- jalan dari Sabang sampai Merauke agar sama- sama membuktikan bahwa pemuda kita memang tak berguna, tak bisa ditanyai tentang apa- apa! Kita bisa lihat kesibukan apa yang sedang melanda mereka.

Kalau kita lihat di Aceh, pemuda sibuk untuk mengurusi masalah ketenangan hidup. Banyak konflik terjadi karena masyarakat kurang puas akan pembagian pendapatan daerah dan pusat. Negeri mereka kaya! Untuk apa mengabdi pada Indonesia. Anak- anak mereka kelaparan pun siapa yang peduli? Anggota legislatif? Anggota DPR itu? Tidak selalu. Pemuda disana jangan ditanya. Mereka sibuk dengan konfliknya.

Sekarang kita ke Jawa. Ya, kita ke pulau pusat kebudayaan dan pendidikan nasional. Tetapi jangan percaya. Sekarang mahasiswa pun malas belajar karena sudah tahu uang. Nilai kelulusan semata- mata untuk cari uang. Apa- apa uang. Jawa adalah pusat uang. Jangan heran mereka keluar dari perguruan tinggi sekedar mencari gaji. Bener tapi keblinger. Pepatah Jawa yang artinya benar tetapi tidak tepat. Hidupnya dipenuhi nafsu. Lupa bahwa mereka belajar untuk mengentaskan masalah bangsa. Bangsa yang mereka ketahui sebagai bangsa yang sebenarnya kelaparan karena mengandalkan beras dari impor. Mengandalkan daging dari tetangga sebelah. Berani teriak di jalan untuk sekantung penghargaan dan prestise. “Kamu bukan mahasiswa tulen kalau belum pernah demo!”. Pemuda lain mengangguk. Ada pula yang menghindari hiruk pikuk.

Wah, rupanya Anda belum percaya dengan saya kalau pemuda Indonesia itu tidak bisa diandalkan ya. Jangan Tanya tentang presiden pada mereka. Mereka sudah sibuk. Pooso juga konflik, Manado diliputi banjir bandang yang jelas- jelas terjadi karena erosi dan lingkungan terdegradasi. Bagaimana mungkin pemuda bisa belajar? Mereka sibuk mengamati orang tua mengajarkan bagaimana membabat hutan sekenanya dan menjualnya pada siapapun yang mau. Menengoklah ke atas, siapa yang melindungi “penghajar” alam ini. Pemuda jadi orang yang bingung dengan teladan.

Oh ya, saya lupa, kita perlu juga ke Bali. Provinsi paling damai dan kaya objek wisata yang membuat iri. Pemudanya juga sibuk. Mereka hilir mudik menyaksikan Schapelle Corby harus bebas padahal dia bukanlah contoh baik. Sibuk menanyakan pada orang tua mana yang bisa dipercaya. Orang tua yang dulu berkobar- kobar tida ampun bagi penjahat narkotika dan obat- obatan terlarang. Grasi dibagi- bagi, akhirnya bebas juga. Pemuda merasakan payah betul. Sibuk mereka mencari siapa orang yang berani menjadi benteng terdepan mereka menghadapi narkoba. Tiap hari mereka dibayangi jumlah kematian yang mengerikan, 50 orang setiap detiknya. Kata- kata BNN tak dapat membuat orang tua ini merapatkan telinganya pada suara pemuda. Sungguh, pemuda sangat sibuk dan repot. Kerepotan meramal masa depannya yang mulai tidak aman.

Apa dari Bali tadi Anda kelelahan? Saya sedikit lelah karena jepretan kamera wartawan asing begitu sering menyilaukan mata. Satu warga mereka dibela habis- habisan sementara pemuda kita harus menyaksikan bahwa ibu- ibu mereka yang “dikirim negara” ke Malaysia, Arab, atau negeri manapun yang keluarga tak juga mengerti pulangnya sering dirundung masalah. Gaji mereka tak dibayarkan. Mungkin disembunyikan di peti mati dan diapungkan di perairan? Mengenaskan. Tak mengerti mengapa bisa terjadi. Pemuda kita sibuk mengurusi surat kematian ibu mereka sementara ujian akhir sebentar lagi. Pada siapa mereka bisa menggantungkan harapan perubahan. Sibuk mereka mencari kesana- kemari, atau mungkin pada PJTKI?

Anda katakana Anda lelah mengikuti saya. Baiklah, kita istirahat sebentar di tepi pantai ini. Kenalkan, ini adalah Pantai Nusa Dua Bali. Dekat tempat ini ada suatu daerah yang warga kita sendiri sulit mengakses. Pemuda bekerja namun mengabdi pada bukan negeri sendiri. Mereka sibuk mencari mata pencaharian yang telah lama, lama sekali dijanjikan. Mungkin saya salah menyuguhkan pemandangan ini. Tetapi seperti inilah adanya. Hiruplah udara sepoi- sepoi sepuasnya. Anda tidak akan menyaksikan hal yang sama ketika kita berkunjung ke Manokwari atau negeri cenderawasih nanti.

Saat Anda bertanya apa saja yang ada di negeri cenderawasih, saya tertegun. Tidakkah Anda tahu bahwa tambang emas terbesar di dunia juga ada disana. Nilai kontrak yang cukup untuk mendirikan satu New York lagi di belahan dunia manapun. Inilah renungan dari Sabang hingga Merauke Dari Barat ke Timur. Entah akan jadi apa pemuda Indonesia. Inilah penentuan, inilah saatnya. Untuk mengubah segakanya menjadi lebih baik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s