Sayang

Sayang

Hidup itu keras, sayang. Memang tidak seperti barisan karang yang sering diceritakan dalam lagu-lagu sendu. Mungkin hidup juga lunak, tetapi tidak selunak bandeng presto yang orang banyak ceritakan. Orang desa mungkin tidak tahu bahwa itu yang disebut bandeng presto, menyedihkan sekali. Kita akan tahu betapa waktu adalah satu-satunya benda berharga saat tersadar bahwa hidup sebenarnya hanya soal waktu. Hidup dan mati. Tetapi waktu juga berhala bagi mereka yang menggilai emas, nama lain dari mata uang kehidupan. Entah siapa yang memulai, tetapi arah masa depan kini terbaca semakin jelas, sayang. Bagaimana tidak, gedung tinggi dibangun hanya untuk dihancurkan. Jalan mulus besar dicor hanya untuk ditindih dan menjadi santapan koruptor. Sawah-sawah banyak dibakar berubah wujud menjadi bangunan mahasiswa. Mungkin begitu saat ini. Hal  yang tidak pernah terbayang akan menjadi senjata memakan tuannya kelak.

Manusia adalah makhluk kutukan, sayang. Tidakkah kau dengar bahwa perusak alam ini adalah kita? Kau tertawa? Mengapa? Baru kemudian saja kau menimpali perkataanku dengan ungkapan setuju. Haha, manusia memang makhluk kutukan. Sudah diberitahu bagaimana menjadi makhluk terbaik, tetap saja menjadi wadah dosa dan lupa. Kau bilang itu manusiawi, itu istilahmu. Mungkin jika malaikat senasib dengan kita, mereka akan miliki istilah malaikati. Haha, lebar sekali tawamu kali ini. Kemudian lagi kau menghardikku apa perlu kau bukakan kitab agar aku mengerti bahwa manusia juga ciptaan paling sempurna. Mungkin sempurna dosa dan alpanya? Tidak juga kau bilang. Haha, kau tertawa semakin lebar bahwa aku pun punya pertanyaan seperti itu. Kau tidak pernah tahu apa yang ada di tempurung kepala setiap orang. Kau tidak pernah bisa menebak apa mau manusia selama perutnya tidak kenyang, selama anaknya menjerit dan hidup diantara setengah nyawa. Mereka itu yang aku lihat dekat dengan keranjang sampah perempatan lalu lintas. Waktu itu aku hanya tahu bahwa manusia bersarang besi beroda empat itu meneguk botol sejuk dengan lembutnya, tetapi musik keras meneggelamkan tegukan liur wanita haus dan bayi yang meraung. Tetapi, baiklah, kau bilang itu manusiawi. Aku percaya saja. Kau kan mengerti segalanya saat duduk denganku. Tetapi sudah kucatat dengan baik tanpa tinta, bahwa obrolan kita tidak akan berhenti dengan percikan basi. Musti ada selembar atau beberapa lembar ide hidup yang tidak boleh mati melawan kutukan itu. Pikirku.

Sayang, aku pun tidak tahu apa yang akan aku berikan padamu saat ini. Aku bukan bangsa Amerika yang memiliki dolar. Bukan bangsa Arab yang tempo lalu memiliki dirham. Emas saja sudah aku galikan pada orang lain. Haha, manusiawi kan? Aku berusaha sekeras mungkin melawan kutukan yang mengatakan bahwa manusia itu makhluk nista. Sebanyak mungkin aku sambangi lantai dan menjatuhkan dahi ke lantai, tetap saja tidak tentram. Apa yang salah? Banyak juga aku buka dan debatkan perihal masa depan berdasar buku itu, buku suci yang selalu dimaki-maki di kanan kiri sebelum mereka sempat membacanya. Sayang sekali, ideku dibabat habis. Mereka bilang tahu apa aku soal ini. Tahu apa aku soal itu. Ilmu sekarang mahal sekali, sayang. Tidak ada yang mau sekedar mengulurkan selendangnya menaruh beberapa lembar tulisan nasehat. Semua, sungguh sibuk berdebat. Jangan-jangan mereka juga menamai diri mereka golongan jago debat atau jago silat?

Kemudian aku berjalan, suntuk menginjak isi kepalaku untuk menemukan hal lain, sekiranya bisa. Sangat bisa ternyata. Tetapi kerikil itu lebih nyeri dilempar kearahku daripada terinjak. Kakiku tidak meraung, tetapi pikiran ini oleng. Aku datangi petinggi untuk menolong nyeri ini, kubilang padanya berikan segelas saja untuk menyiram luka itu. Tetapi sayang, dia memberiku segelas air garam. Aku sudah tidak punya suara lagi kini. Kadang aku juga bertanya bagaimana membangun pabrik liur yang tahan lama, agar menjerit pun mudah rasanya. Tetapi tiga puluh dua tahun ditambah beberapa tahun terakhir ini kita belum bisa beralih ke langit. Tangga itu terlalu mahal digapai, terlalu penuh dengan manipulasi. Jangan salah, aku belajar kata itu langsung dari guruku, manusia juga.

Kata negeri lain, pendidikan itu lemari ajaib. Bagaimana bisa pikirku. Oh, ternyata karena dengan itulah orang miskin dapat menjadi kaya. Orang bodoh menjadi pintar. Orang cerdas semakin cerdas. Orang alim ? tidak tahu sayang. Kau bilang itu juga kan? Tetapi kau juga berhenti menjawab pertanyaan terakhirku. Aku masih ingat apa yang kau katakan ketika kepalanmu pada dedengkot kelas kakap itu. “Turunkan!”. Tetapi aku juga tidak tahu lagi, setelah aku beranjak dari tempat duduk pemikiranmu, mungkinkah kita bertemu pada tempat duduk lain. Atau kita akan bertemu pada sampan kayu? Terombang-ambing. Atau bangunan lain di setiap papan yang pernah kita impikan?

Sayang, kau nasehatkan aku untuk tetap berjalan. Hingga kini aku pun masih berjalan, bahkan tidak sepertimu yang terkadang berhenti dengan bunga warna-warni, entah apa aku pun tak jelas melihatnya. Banyak juga ya hiburan di dunia ini, pikirku. Tentu, aku mengingat lagi, manusia kan makhluk kutukan. Makhluk yang sudah dijamin merusak. Tetapi maaf, sampai titik perjalanan ini, aku hampir sampai pada tujuan. Pertanyaanmu itu yang selalu berusaha kujawab. Tenang, sayang. Aku tidak berhenti belajar seperti janji kita saat aku putuskan berbeda denganmu dengan perjalanan ini.

Aku dengar kau sudah menjelajah dunia seberang. Angin mungkin sempat mengerti bahasamu tadi malam. Ketika aku tertidur, ada kau disana. Kau ceritakan padaku banyak hal gemerlap kau dapat. Minuman beraroma kau hirup. Bunga yang lebih cantik kau sentuh. Aku pun seperti dapat merengkuhmu. Aku ceritakan perjalananku mengenai satu papan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Disini tenang. Disini damai sekali. Semua khusyuk membasahi badannya dengan air subuh. Seperti air terjun kecil yang mengalir dari banyak sekali aliran pikirku. Tidak ada debat seperti yang kita lakukan, tetapi semua saling membawa gelas. Saling mengisi satu sama lain. Airnya tetap jernih, sejernih mata-mata mereka. Kau, bagaimana kabarmu kelak? Kurasa aku damai disini. Damai dalam tumpukan ide yang siap kuhidupkan. Kuharap itu denganmu, sayang. Saat kita bertemu setelah rasa hausmu pulih dan menyadari bahwa bukanlah kita makhluk kutukan itu. Tetapi manusia-manusia yang tidak pernah bersyukur. Manusia yang tuli walau mereka bertelinga. Sampai jumpa, sayang. Aku sangat merindukan kita berbagi lagi. Cukupkah aku bawa beberapa gelas untuk kita isi bersama? Banyak hal ingin kuceritakan kini.

Tanpa peringatan, angin juga yang membawa kau lari. Aku senang melihatmu berlari. Kini aku sudah sampai pada pijakan negeri. Spertinya aku terengah setelah sekian waktu berlari juga. Semoga kau akan sampai sini sesegera mungkin, sangat merindukan!

(Sebuah kebetulan, ketika pagi saya menulis ini, ternyata sorenya baru tahu Facebook menyuguhkan ‘teguran zaman’ dengan foto Bung Karno tepat dengan mata tajam memandang ke depan (tampak samping). Tentang laju zaman Indonesia. Tulisan ini belum saya publikasikan di media massa lain. So, free to share. Tulisan ini dapat juga dibaca pada blog saya www.mie2gination.wordpress.com. Semoga ke depan saya dapat menyajikan tulisan lain sejenis. Salam)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s