“Remah-Remah Roti Tuhan”

“Remah-Remah Roti Tuhan”

Tuesday, February 19, 2013 at 12:36pm

Suatu waktu, obrolan soal masa kecil terjadi. Aku dan kawan menertawakan kekonyolan jaman kecil dengan kegitaan rutin tiap hari Mingggu banyak-banyak di depan tivi, menghabiskan waktu menonton acara musik anak-anak atau kartun. Mau itu soal robot, Doraemon (yang ini sih g ada duanya dah), Sailormoon, Wedding Peach (serius itu anime cantik amat yah haha), Pokemon, Dragon Ball, nah lo hapal kan. Coba bandingkan dengan film atau yah sebutlah sinetron remaja, apa memang ada sinetron anak-anak? Suram betul. Kegembiraan semu yang dipampang dimana-mana. Itu mengapa tidak heran gaya fashion, gaya pilih makanan, dan apapun itu anak usia SD-SMP begitu mencengangkan. Dalam obrolan itu kami masih bisa tertawa mengingat apa-apa saja hal yang benar-benar anak-anak dilakukan. Masa bermain anak kelahiran 1990-1998an mungkin generasi akhir zaman keemasan edukasi anak-anak di tivi. Setelahnya ya nrimo dengan makin komersialnya media-media 🙂

Baru saja cek Facebook pagi ini juga sudah ada sodoran artikel Kompasiana dari kawan soal bagaimana anak-anak Jepang di didik. Penanaman moral sejak dini, bagimana menghargai sesuatu tidak hanya dari materi. Bahwa ternyata Jepang negara modern dan raksasa industri, toh ternyata budaya mereka masih sampai akar. Anak-anak masih bersahaja hidup mulai dari sekolah hingga rumah. Bukan prinsip minta dilayani, tetapi bagaimana mereka bisa mengurus keperluan sesuai usia mereka secara mandiri. Bukankah ini juga yang Indonesia juga miliki. Boleh loh packaging kita modern, tapi jangan malu dong beresin sampah setelah makan snack, jangan malu dong piket bersih-bersih rumah atau kampus, jangan malu dong jalan kaki di kampus, juga, jangan malu bilang “saya akan coba kerjakan sendiri dulu, terimakasih sudah mau membantu”. Aha, sering dan tidak jarang kita berpikir, kita bangsa ini lari atau jalan kemana toh?

Pernah membaca status saya dulu soal “remah-remah roti” yang Tuhan berikan? Inspirasi itu ada dimana-mana. Kalimat itu juga pernah dipakai di film Spiderman yang awal banget CMIIW. Bagaimana kita bisa merangkum beberapa kejadian jadi hal-hal positif setiap detiknya. Bertemu orang, membaca artikel bahkan hanya satu halaman, mengobrol santai bersama kawan. Tidak ada yang tidak bermanfaat kalau kita jeli.

Jika suatu saat kamu berkesempatan naik bus umum, coba saja lihat juga bagaimana orang bertahan mengumpulkan ribuan untuk hidup hari itu. Kita tengok uang saku, boleh jadi hidup kita lebih beruntung. Itu pun masih kita sering penuhi dengan jejalan keluhan. Kadang letak keadilan Tuhan juga ada dari hal “sepele” seperti itu. Banyak cara Dia menegur kita dengan lembut. Kalau kesadaran moral kita tidak diasah sejak dini, mana mungkin inspirasi-inspirasi lembut itu jatuh dalam tangkapan indera kita, hati sekalipun. Pendidikan ternyata bagian terindah untuk kita bisa membaca “remah-remah roti” itu. “Sentuhan” pendidikan kurang bisa menciptakan anak yang bisa tersenyum lepas selepas ketika asyik main game. Hal ini yang tidak terjadi di Jepang misalnya, anak SD begitu menikmati kegiatan sekolah mereka yang berbasis moral.

Saya juga jadi ingat, jangan pernah meremehkan masa bermain. Anak-anak memang lebih cepat menerima hal yang dia lakukan sendiri. Banyak-banyak panjat pohon  (pastikan aman dan jangan terlalu tinggi) juga oke. Itu hal yang paling kukenang juga ketika jam tidur siang dilewatkan dengan “menginap” di pohon saat SD. Tidak akan pernah terlupakan juga ketika pengalaman semangat memanjat tapi takut turun itu pernah terjadi. Hahahahaha. Setiap anak Indonesia itu unik dengan permainan dan ingatan menggelikan masa kecilnya masing-masing. Bagaimanapun, suasana pendidikan dengan kegiatan belajarnya tidak begitu sempit sesempit jarak meja dan kursi di kelas. Dukunglah anak-anak yang ada disekitar kita (ponakan, anak tetanggga juga oke haha) dengan cukup perhatian. Sayang kalau generasi-generasi calon jenius itu harus lemah karena tidak memiliki kesan saat kecilnya. Biarkan latihan “remah-remah roti” itu terwujud dari awal, sejak dia anak-anak. Kalau sempat, tabunglag sedikit sisa uang jajanmu untuk sekedar membagikan ensiklopedia atau majalah anak-anak (walau juga bahasannya soal Justin Bieber#whattttt hahaha). Sesederhana itu kita menciptakan iklim belajar? YA! MULAI DARI HAL KECIL, MULAI DARI DIRI SENDIRI!!!! Selamat mencerna “remah-remah roti Tuhan” guys 🙂

NB: Spesial pake telor ceplok buat kawan-kawan yang berbagi bahan note ini Lutviasari, Riza, dan Rida

Proses menulis ini juga pake prinsip ‘remah-remah roti” guys hehe :))))

–oleh Emmy YR :: hari bahagia teman-teman yang di wisuda–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s