Ilmuwan Indonesia di Luar Negeri

Cukup lama saya memikirkan soal ini dan ternyata semua kembali pada niat dan kemampuan kita sendiri. Kita mengerti bahwa bangssa ini dianggap belum mampu menyediakan cukup atmosfer riset dan kesejahteraan bagi ilmuwan. Biaya politik memang besar, tetapi Indonesia terlampau besar. Biaya negara untuk menegakkan kejujuran saja sedemikan menggila, plus uang itu masih dikorupsi pula. Sehari-hari media menyatroni kisah ini terus menerus seperti kita anak muda kehilangan harapan.

Bagi saya, ada baiknya kita mencari bacaan ataupun media alternatif yang dapat tetap mengedukasi kita. Jangan terlalu sibuk memikirkan hal negatif. Ada gerakan GOODNEWS yang dilakukan oleh pemuda Indonesia (kebetulan saat itu saya hadir dalam panel presentasinya di IIF (Internasional Indonesia Forum) kelima kerjasama UGM-Yale University. Presentator mengemukakan bahwa atas keprihatinan ketidakseimbangan “asupan gizi” itulah gerakan tersebut dilakukan. Prestasi anak-anak muda, orang-orang hebat dalam negeri, maupun orang Indonesia yang punya kiprah musti disuntikkan dalam pemirsa maupun pendengar banhwa Indonesia ini bangsa yang besar. Saya bangga dengan bangsa ini. Apa yang kita hadapi sekarang lebih baik kita anggap sebagai mendung yang sebentar lagi akan segera menghasilkan limpahan berkah, hujan. Sesegera mungkin kita juga akan terlepas dari kekacauan yang terjadi.

Kita patut bangga bahwa  ada di seberang sana, Jerman, Amerika, Jepang, Asutralia, Thailand, Belanda, dan beberapa belahan lain menyatukan diri dalam 1-4 (Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia). Apa yang saya tahu dalam gerakan positif itu adalah menyatukan energi-energi terberai di luar negeri untuk tetap berkontribusi secara kelimuan untuk Indonesia. Mereka tidak buta, mereka justru susah payah di luar sana bagaimana caranya agar akses ilmu itu menjangkau kita. Achmad Aditya, Nelson Tansu, Ken Soetanto, Deden Rumana, dll boleh jadi aset Indonesia yang belum kita jadikan topik hangat.

Tidak lagi saatnya mendebatkan nasionalisem dalam kajian sempit. Biarkan berjuang itu di dalam dan di luar negeri. Seperti Bung Karno tututkan bahwa nasionalisme dan internasionalisme bisa menjadi taman yang elok jika keduanya bekerjasama. Hal terpenting bagi ilmuwan-ilmuwan ini adalah tidak mengubah kewarganegaraannya mengingat perjuangan lahirnya Indonesia sungguh luar biasa. Hantaman luar negeri untuk menghancurkan negeri kita juga luar biasa. Salah satunya jika kita tidak bijak menjawab masalah ilmuwan di luar negeri. Mungkin sebaiknya ada revolusi anggaran. Tinggikan biaya pendidikan dan riset. Indonesia akan menjadi surga ilmu pengetahuan, karena memang begitulah sejatinya. Ilmu di Indonesia lengkap sekali, hingga apapun yang detail ada disini. Hanya metode dan penghargaan terhadap keilmuan yang harus terus menjadi prioritas. Go Indonesia!

—I remember one article in 1-4 web stated that Nelson Tansu, the youngest professor from Lehigh University always said ” I am Nelson Tansu. I am an Indonesian” saat memulai mengajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s