Regenerasi Kota #terbit di Seputar Indonesia SUARA MAHASISWA (8-10-2012)

SUARA MAHASISWA, Regenerasi Kota PDF Print
Monday, 08 October 2012
Bila selama ini kita sering mendengar semangat 3R (reduce,reuse,recycle),sekarang mesti ada penambahan satu “R”lagi,yaitu regenerasi.Perkembangan kota semakin hari semakin dinamis dan kompleks.

Urbanisasi tidak lagi berarti perpindahan penduduk dari desa ke kota, tetapi perubahan kondisi suatu daerah menjadi berkarakter urban atau kekotaan. Ciri-ciri kekotaan dapat ditunjukkan dari semakin meningkatnya populasi dan keragaman karakteristik seisal ras,pekerjaan, tingkat ekonomi, dan budaya pada suatu wilayah. Ciri khas urbanisasi juga bisa dilihat melalui meningkatnya pola penggunaan lahan.

Semakin tinggi populasi,semakin tinggi pula kebutuhan lahan untuk membangun infrastruktur,sementara lahan sangatlah terbatas. Pengorbanan dari keterbatasan lahan ini biasa terjadi pada semakin sempitnya ruang terbuka hijau (RTH) yang bermanfaat sangat besar bagi kehidupan kota.

Hal inilah yang melahirkan istilah-istilah pembangunan berupa brownfield (lahan cokelat), greyfield (lahan abu-abu), dan greenfield (lahan hijau). Brownfield adalah pola penggunaan lahan yang mementingkan pembangunan banyak gedung pada suatu kawasan dengan proporsi lahan minim untuk ruang terbuka hijau (RTH). Sementara greyfield hampir sama dengan brownfield,hanya saja proporsi RTH sedikit lebih besar.

Berbeda jauh dengan kedua istilah sebelumnya, greenfield menitikberatkan pada keseimbangan padu antara infrastruktur dengan komponen hijau seperti hutan kota, danau (dapat berupa danau alami ataupun danau buatan), jalan tanah, taman, dan unsur alam lain pada suatu kawasan terbangun. Kota-kota di Indonesia yang menunjukkan sifat urbanisasi harus direvisi dengan ide-ide keseimbangan lahan terbangun dan tidak terbangun. Ide tersebut akan sangat dekat dengan alam.

Menurut Lyle,tokoh peneliti alam,manusia harus mampu bekerja sama dengan alam. Alam adalah model dan konteks. Manusia hendaklah belajar dari alam. Hal itu memberikan inspirasi bagi kita bahwa alam telah memiliki fungsi yang semestinya ada, dari rungsi penyerapan karbon, peresapan air hingga reduksi limbah dalam tanah. Aspek-aspek itu semua terdapat pada regenerasi kota.

Regenerasi kota menekankan pada bagaimana kota mampu menciptakan agen lanjutan agar fungsi kehidupan berjalan terus. Maka revisi kota dengan regenerasi kota pun dapat menjadi jawaban tentang kesalahan dikotomi manusia ala Cartesian selama ini bahwa alam dan manusia itu terpisah.

Alam itu tidak memiliki rasa dan hanya dapat dijadikan pemenuh kebutuhan. Justru sebaliknya, manusia dan alam adalah sahabat dalam kehidupan kota. ● EMMY YUNIARTI RUSADI Mahasiswa Mahasiswi Fakultas Teknik, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (S-1) & Program Fast Track MPKD (S-2), Beasiswa SEAMOLEC Universitas Gadjah Mada (UGM)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s