Ujian Bagi Islam Datang (Lagi)

Selasa, 18 September 2012 , 8:36

Ujian itu datang lagi. Sebuah keniscayaan abadi. Dan itu pasti.

Kondisi kebebasann pers menurut saya harusnya tidak mutlak. Tidak ada kebebasan abadi dalam mengutarakan suatu kreasi. Pun apa yang disebut kreasi semestinya sesuatu yang memiliki nilai manfaat tinggi. Kasus penyebaran film Innocence of Muslims menyita perhatian seluruh dunia. Ulah satu orang pengunggah video berujung pada nyawa duta besar USA di negara lain. Jangan menyalahkan pada reaksi dunia akan hal tersebut, tetapi salahkan pada rendahnya toleransi nilai berkehidupan yang Tuan Bacile miliki. Secara hukum, sah hukumnya penghina nabi dihukum mati, tetapi akankah itu dijatuhkan kepada Sam Bacile? Boleh jadi tidak dengan alasan otorita negara memikiki aturannya sendiri. Hehehe, Islam itu bukan keras, tetapi tegas sesungguhnya.

Namun hal yang juga disayangkan adalah beberapa sikap atau ekspresi massa yang berakhir ricuh. Salah sasaran kalau kemarahan itu dilampiaskan melalui emosi pada aparat. Bagaimana kalu lakukan aksi damai sebagaimana dasar kehidupan Islam yang cinta damai. Ini pola ujian yang selalu terjadi karena Islam memiliki nilai kebersamaan yang sangat super. Satu luka pada tubuh saudara muslim adalah seperti luka pada diri kita, hal yang sangat bisa dirasakan bersama-sama. Emosi terpancing sementara pihak massa merasa emosi itu wajar terjadi karena kebablasan penghinaan yang ada. Boleh jadi begitu, tetapi bukankah ekspresi itu juga bergradasi. Memilih gradasi tertinggi tentunya lebih meninggikan martabat dan harga diri. Kali ini bolehlah kita bilang ini pelajaran mengingat mendekati kiamat, ujian akan semakin ketat.

Tidaklah benar bahwa Islam itu keras kepala. Islam menjadi terlihat seperti itu karena telah lama peradabannya ditekan. Saya kira kita tahu bagaimana proses tekanan itu terjadi secara merata. Indonesia sangat unik. Dengan jumlah muslim terbesar di dunia, masih kita memiliki pihak lain yang selalu mengingatkan dan menjadi penyeimbang massa yang ‘panas’. Bersyukurlah kita sebagai warga Indonesia dimana Pancasila masih bisa ditelaah tentang bagaimana bertoleransi antarumat beragama. Percaya diri saja bahwa memang negara lain juga bisa belajar hakikat toleransi itu pada kita. Jauh- jauh hari Bung Karno juga ingatkan tantangan-tantangan umat di Indonesia. Bukan hanya Islam, tetapi umat lain.

Dalam Islam, mengucapkan hari raya pada agama lain tidak diperkenankan karena itulah syar’i. Ada nilai-nilai yang tidak dapat digeneralisasikan. Cara lain untuk menghormati perayaan agama lain adalah dengan mennjaga situasi agar kondusif. Memberikan hak waktu lepas dari kegiatan sehari-hari dengan pengakuan hari libur keagamaan. Indah sungguh. Ada isu yang digemborkan [[pula bahwa dengan tindakan muslim yang tidak mengucapkan selamat hari raya adalah bentuk chauvinisme beragama. Tidak. Itu tidak benar. Ini seperti halnya aturan kaum Yahudi yang tidak diperkenankan memakan daging sapi. Kaum Katolik yang manjalankan puasa sebelum Perayaan Isa Almasih. Atau kegiatan puasa kaum Hindhu sebelum Nyepi. Nilai dasar yang harus dipeluk dengan erat. Tidak komunikasi paling tinggi kecuali komunikasi manusia dengan Tuhannya.

Jadi, perbedaan ini sangat membuka mata. Tuhan ciptakan keindahan itu dari banyak hal, tetapi bukan berarti dapat mencampurnya menjadi satu secara mutlak dengan pandangan kebebasan pers. Bayangkan jika larutan jamu, sirup, dan teh manis dicampur menjadi satu dalam satu wadah. Sungguh tidak menyegarkan. Tetapi biarkan mereka dalam gelas masig-masing. Berikan kebebasan pada manusia untuk memilih mana yang menyejukkan dahaganya. Kita tahu mana yang benar menurut nilai agama kita. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Rasanya kita sepakat bahwa ujian ini dapat dijadikan pelajaran zaman bagi siapa saja yang mau berpikir. Itulah salah satu ayat yang muslim percayai untuk optimis menghadapi setiap ujian. Muslim bukan musuh, Katolik bukan musuh, Kristen bukan musuh, Hindhu bukan musuh, Budha dan Kongguchu pun bukan musuh. Kita bersaudara dan saling memahami satu sama lain. Ujian pasti berlalu.

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Ujian Bagi Islam Datang (Lagi)

  1. “Jadi, perbedaan ini sangat membuka mata. Tuhan ciptakan keindahan itu dari banyak hal, tetapi bukan berarti dapat mencampurnya menjadi satu secara mutlak dengan pandangan kebebasan pers.”
    lakum diinukum waliyadiin. Aku sepakat banget sama tulisan embak. Menghormati agama lain bukan berarti harus meleburkan syariat agama kita dengan apapun milik mereka. Menghormati adalah menghormati, seperti kita mendengarkan orang lain berbicara dan orang lain mendengarkan kita berbicara. bagiku sesimpel itu. Kenapa banyak sekali yang membuat ini mjd rumit?

    1. Terimakasih ya responnya. Nice to know you 🙂
      Rumit karena kabur tentang mana yang semestinya dilakkukan dengan yang sudah umum dilakukan. Boleh jadi itu yang selama ini banyak terjadi. IMHO 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s