A Glass of Life// Kekuatan Meluruskan dan Memaafkan

A Glass of Life// Kekuatan Meluruskan dan Memaafkan

 

Kehidupan kampus adalah kehidupan yang tidak selalu mulus. Banyak ketidakmulusan itu terjadi akibat benturan jadwal atas ketidakjelasan yang terjadi, kekurangpahaman kita sebagai mahasiswa, atau faktor lain yang turut memicu mis-komunikasi. Satu contoh pernah saya alami ketika di Semester 5 atau 7 ya, hmm, sedikit lupa. Proposal penelitian harus dikumpulkan via hardcopy ke bagian yang sudah ditunjuk. Jadwalnya jelas, saya pun mempersiapkan segalanya dengan baik karena memang sudah ada rencana tanggal tersebut tidak akan berada di Jogja. Kebiasaan saya adalah tidak pernah TA. Pernah sekali waktu saya sakit dan teman terbaik saya menandatangani presensi saya karena dianggap itu hal yang akan membantu saya. Saya katakan, terimakasih kawan, tetapi saya pun langsung menyoret kembali kolom presensi tersebut. Saya tahu pada awalnya dia merasa saya sok sekali, tetapi kemudian hari diapun menngerti prinsip apa yang saya pegang. Jadi memang kebiasaan saya adalah menuntaskan segala hal dengan cara terbaik, entah itu via surat izin atau kalau tidak memungkinkan ya saya kosongkan saja. Tujuan saya kuliah tidak untuk nilai semata. Tetapi lebih pada bagaimana kita menghadapi ujian pembentukan karakter.

Nah, kembali ke kisah pengumpulan proposal itu. Tiba pada tanggal pengiriman. Saya berada di Kulonprogo tepat seperti rencana saya. Saya kirimkan via email tugas saya dengan mengonfirmasi via sms dan email dosen terkait dan penanggungjawab yang ditunjuk. Koneksi berjalan lambat, boleh jadi waktu itu keterlambatan penerimaan, tetapi saya rasa itu tidak terlalu terlambat. Saya selalu komitmen dengan waktu, jadi jika terlambat pun saya pastikan minta maaf dengan penjelasan logisnya. Tetapi pihak penanggungjawab awalnya tidak berani menerimanya. Dalam benak saya, apa bedanya karena data yang saya kirimkan memang data tersebut. Dengan tulus penanggungjawab mengeprint-kan proposal saya kurang lebih 15-20 halaman itu tanpa saya ketahui. Waktu berlalu ketika saya harus menjalani KKN di bulan Juli 2011. Setelah melewati masa koreksi proposal, saya sempat shock dengan kalimat korektor yang menyatakan sesuatu yang menurut saya sangat menyakitkan seolah saya melakukan tindakan menyuruh bawahan hanya karena email itu tepat di bagian depan proposal. Tidak bisa saya ungkapkan bagaimana rasa itu mengingat di saat yang sama sahabat saya pun tertegun melihat beberapa beban sebagai konseptor KKN dan PJ Maket ada di raut wajah saya. Terimakasih sekali untuk sahabatku Herlin. Dialah orang yang membantu membawakan hasil koreksi proposal saya ke pos KKN (karena jam izin KKN memang terbatas dan saya tidak bisa mengendarai motor) dan dialah orang pertama yang mengerti situasi itu. Bagi saya, ada yang perlu diluruskan. Terimakasih pada dosen muda, Pak Iwan yang saat itu bijak mengatakan bahwa sistem pengiriman dengan email memang belum pernah dilakukan. Baru itu beliau mendapati ide seperti yang saya lakukan. Hal yang saya lakukan itu saya dasari atas efisiensi kerja yang selama ini masih menghantui. Mahasiswa hilir mudik hanya untuk mengumpulkan tugas kemudian kembali lagi. Bukankah semestinya teknologi dapat membantu kita.

Kejadian tersebut tidak lantas membuat saya besar kepala ataupun sedih bertubi-tubi. Saya selalu ingat pesan Bapak saya bahwa setiap hal adalah ujian. Hadapi dengan tulus saja, insaAllah berkah untuk perjalanan ke depan. Benar saja, penelitian saya berjalan mulus meski saya belum tahu hingga kini siapa korektor yang menuliskan kata-kata itu di proposal saya. Maafkan saya jika saya salah, namun ada dong kesempatan untuk bertukar wawasan. Hehehe, bagaimanapun saya pemudi yang boleh jadi perlu belajar dari apa maksud yang korektor itu tuliskan. Terimakasih sang penulis. Saya belajar banyak dari hal tersebut. Secara tidak langsung adalah teguran bagi saya untuk hati-hati bertindak meski inisisatif itu dipandang baik. Terkadang ketidaktahuan manfaat membuatmu menuliskannya untukku. Suatu saat kita pasti bisa minum teh bersama, kan. Allah Maha Tahu sebenar-benarnya hikmah. Itu sungguh memicuku berkembang dan membuktikan bahwa tulisanmu salah 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s