A Glass of Life// Kalau Mau, Pastibisa!

 A Glass of Life// Kalau Mau, Pastibisa!

Saya bukan orang yang sangat suci, sekali lagi bukan. Saya menulis ini sekedar berbagi pengalaman pahit yang berbuah manis selama kurang lebih terjadi sejak kelas 4 SD hingga semester 8 kuliah (nah lo, ayok ituuung hahaha). Ya, mungkin 12 tahun-an deh. Kejujuran adalah kunci terbesar kita merasakan nikmat, apapun itu. Bapak dan Ibu adalah pahlawan besar dalam hal ini bagi hidup saya. Tidak ada dan tidak boleh ada istilah menyontek dalam kamus saya. Menyontek secara fisik yang biasa dilakukan [astilah melihat jawaban teman atau bertanya, atau sengaja memilih tempat duduk tertentu untuk tujuan tertentu hehehe. Bagi pembaca yang pernah melakukannya, tak apa, masih banyak kesempatan untuk kita belajar. Saya pun pernah melakukan ketika kelas 2 SD bersaing dengan teman sekelas. Serius, saya dulu cengeng, mungkin karena rok pertama saya masuk SD adalah pink, bukan merah haha (serius!). Waktu itu modusnya adalah melihat jawaban dari teman terdekat. Hey, dia sekarang sudah menikah belum ya, hehehehe. Jawaban X saya hapus Y, maklumlah, sekolah masih mewajibkan pakai pensil, lagi-lagi warna penghapusnya pink!. Iya, Ibu saya memang secara naluriah memilihkan semua peralatan “kampus” dengan warna yang manis haha. Semenjak TK jiwa seni saya sudah ada ketika musti menggambar, mewarnai, dan menyanyi jadi hal yang menonjol. Daaaaan, saya pemberani, begitu kata guru TK-ku.Tidak gampang nervous haha. Perbuatan itu ternyata kuceritakan dengan polos pada orang tua, reaksi mereka tersenyum saja. Tetapi setelah itu ada dongeng menarik Bapak ceritakan soal kalau cita-cita ingin jadi dokter atau pemanjat pohon sekalipun (dulu memang saya hobi panjat pohon saudara-saudara) harus tahu kemapuan dir sendiri. Oh yeah, dengan polosnya saya pun tidak mengulangi lagi menyontek. Prestasi akademik terus meningkat. Posisi 1 atau 2 tidak pernah lepas. Sahabat sekaligus rival SD-ku, Novi,  sekarang kuliah di UII Teknik Industri. She was a good girl supporting me too. Girl, if you read this, gimme me your comment !! hehe.

Sampai masa SMP pernah dimusuhi dan nyaris tidak memiliki teman setia karena saya tidak pernah bersedia menyontek atau menyonteki PR. Haha. Tidak apa-apa. Ketika bertemu dengan kawan lama yang ternyata sekampus Teknik di UGM, yonif berdekatan, kita saling tersenyum.Dia bilang,” Kamu tidak berubah,Emmy”. Dia kawan SMP yang dulu satu regu inti denganku. Orang yang turut menjadi rival belajar dan seni musik. Dialah yang selalu menjadi juara. Many courses she done. She was awesome!i. I never got any private courses but I was good in English, damn!haha.Setiap orang pasti punya keunikan masing-masing, trust me!!

Tanpa menyontek, kepuasan nilai B lebih tercapai, nilai C juga. Selalu ada semangat memperbaiki dengan tenang dan senang karena nilai bukan semata-mata yang menjadi penentu. Justru apa yang saya alami dengan jujurdalam presensi, ujian, dan tugas, semua berjalan lebih lancar. Tanpa tedeng aling-aling kita bisa ceritakan pengetahuan apa yang kita dapatkan selama belajar. Dan ingat, belajar tidak hanya di kelas. Itu mengapa saya juga habiskan waktu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan dan organisasi atau menciptakan komunitas yang semoga bermanfaat.

Jika orang berorganisasi kampus dari bawah, dari prodi misalnya, saya justri dari universitas bernama SP2MP. Semacam bentuk pelatihan kepemimpinan selama setahun dengan variasi materi dari PPKB UGM saat itu. Sengaja saya mencoba berbeda dengan mainstream orang. Dan itulah yang saya reguk hasilnya. Isu-isu penting universitas selalu turun ke bawah demikian juga sebaliknya. Mengetahui hal makro dulu memiliki bannyak keuntungan dalam konteks ini. Pertemanan tingkat universitas cenderung lebih luas dan variatif dibanding jurusan. Itu tidak berarti kita harus berleha-leha dengan networking universitas. Tantangan tidak disitu saja,Bung! Hehe. Kita harus terus aktif dari hulu ke hilir (elaah, sungai kali yak!).

Memang semuanya itu, kalau ada niat, pasti bisa. Kalau kita mau, kita bisa, pasti! Tetapi untuk urusan-urusan jodoh ya tetap ditangan Tuhan juga haha LOL

Jadi, tunggu apa lagi, karakter positif apapun, kembangkan saja. Tulisan ke depan akan saya arahkan soal be different. Banyak rintangan menghajar, tetapi ya itulah hidup. Apalagi hidup di lingkunga akademik yang menuntut kita selalu berinovasi. Inovasi yang paling minimal adalah inovasi karakter. Mantapkan itu, segalanya pasti bisa dijalani. Semangat!!!

Advertisements

3 thoughts on “A Glass of Life// Kalau Mau, Pastibisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s