TELAAH BUKU DEVELOPMENT FROM ABOVE OR BELOW? THE DIALECTS OF REGIONAL PLANNING IN DEVELOPING COUNTRIES (WALTER B.STOHR & D.R. FRASER TAYLOR)

*)Sebuah tugas yang membuka wawasan saya bahwa publik adalah hal utama dalam perencanaan kota, pun merencanakan apapun terkait dengan infrastruktur. Listen the public, so we can do something. If don’t, we do nothing (Emmy, 2012)

TELAAH BUKU

DEVELOPMENT FROM ABOVE OR BELOW?

THE DIALECTS OF REGIONAL PLANNING IN DEVELOPING COUNTRIES

(WALTER B.STOHR & D.R. FRASER TAYLOR)


Judul buku                                        : Development From Above Or Below?

(The Dialects Of Regional Planning In Developing Countries)


Penulis atau pengarang                    : Walter B.Stohr & D.R. Fraser Taylor
Nama penerbit                                   : John Wiley&Sons Ltd
Cetakan dan tahun terbit                 : –
, 1981
Halaman                                             : Total  485; 453-485 (Bagian III, Kesimpulan)
Ikhtisar Isi Buku                               :

            Bagian III merupakan bagian kesimpulan dari Buku Development From Above Or Below?(The Dialects Of Regional Planning In Developing Countries). Walau begitu saya akan menuliskan relevansi dan kaitannya dengan perkembangn pembangunan regional berdasarkan contoh ataupun contoh lainnya diluar buku ini.

            Penulis buku menyebutkan dengan lengkap ringkasan-ringkasan per bab yang diawali dengan penegasan kembali bahwa pembangunan, entah itu dari atas ataupun dari bawah, senantiasa memiliki intisari pada kesadaran membangun alam dan setiap orang yang ada di dalamnya. Bahkan para ilmuwan tidak sepenuhnya tahu bagaimana dan apa itu pembangunan karena orang yang terlibat langsung dalam pembanguna seringkali lebih peka. Ilmuwan tahu apa saja standar-standar yang ada. Tetapi hal  tersebut dapat menjadi kelemahan karena hal yang paling berperan sebenarnya adalah The values a society holds (nilai-nilai sosial yang dipegang) dalam praktek pembangunan. Perbincangan mengenai skala pembangunan juga dikrtitisi.  Berikut beberapa skala yang dibicarakan:

  1. Negara bagian (nation-state)
  2. 2.      Sub-national scale (regional development)

      Populasi di China atau India adalah beberapa kali lipat dari populasi di Nepal atau Papua Nugini. Perbedaan bentang area telah menjadi hal umum sebagai kerangka berfikir mengenai pembangunan. Tetapi sebetulnya hal tersebut dikesampingkan dahulu mengingat masalah people (dalam hal ini jumlah populasi) jauh lebih penting daripada place (area).China dimasukkan ke dalam pengecualian karena memiliki keunikan pembangunannya sendiri. Basis Maoist yang begitu kental dengan sistem ekonomi yang mulai terbuka menjadi hal berbeda dibandingkan sesama negara Asia lainnya, bahkan Asia Timur sekalipun.

      Negara-negara yang disebutkan ‘bermasalah’ dengan tingkat kemiskinan tinggi, pengangguran tinggi, namun bersumberdaya besar seperti Afrika (Nigeria, Tanzania), Papua Nugini, Brazil, Peru, Nepal dibahas. Syangnya Indonesia tidak banyak dijelaskan dalam buku ini. Buku ini juga mmaparkan negara-negara di Asia yang memang tepat prediksi maju, yaitu Hong Kong, Singapura, dan Taiwan (walau kualitas pendidikan di Taiwan tidak lebih baik seperti di Indonesia).

      Pada halaman 458 bagian kesimpulan, terdapat hal menarik dimana ilmuwan menjaga validitas pengamatannya terhadap apa itu pembangunan dan metode pembangunan secara hati-hati. Hati-hati dalam hal ini lebih dimaksudkan pada pendekatan ekonomi tidak dipandang sebagai hal yang mutlak. Setiap negara atau bagian dibawahnya dapat saja mengombinasi sistem pembangunan sesuai yang diinginkan/cocok baginya. Buku inipun tidak bermaksud memberi kesimpulan mutlak mana yang terbaik.

      Belajar dari China, pelaku Pembangunan Dari Bawah, diperkuat dengan sistem yang dia pakai yaitu perubahan radikal ekonomi berbasis SDM dan sistem invitasi pembangunan infrastruktur bagi negara luar yang sangat bebas. Pembangunan Dari Bawah lebih bersifat fleksibel.

      Sepanjang diskusi/dialek dalam buku ini berlangsung, beberapa poin penentu keberhasilan kebijakan dipaparkan sebagai berikut:

  1. Political System(sistem  politik yang dianut negara/bagian bawahnya)
  2. Land-reform (termasuk di dalamnya penguasaan hak atas tanah)
  3. Pola pikir memandang hubungan daerah urban dan daerah rural (perkotaan-perdesaan)
  4. Logika Spasial (lihat kembali Bab 9, Blaikie)

Bagian yang memaprkan bahwa menata spasial sesuai kemampuannya seperti di Nepal justru menimbulkan pola pembangunan yang pelan tetapi pasti.

  1. 5.      Community Based on

Pemaksimalan peran masyarakat pelaku dalam proses pembangunan, sementara peran konsep dan teknis diserahkan kepada perencana kota dan ekonom (terutama).

  1. 6.      Skala Daerah

Jika skala semakin kecil, Pembangunan Dari Bawah lebih realistis terjadi, sehingga antara skala yang kecil dengan skala yanglebih besar perlu adanya pembagian peran. Hal ini sejalan dengan John Friedman dan Clyde Weaver dalam bukunya Territory and Function (buku basis yang juga dijadikan pijakan penulisan buku Development From Above Or Below?(The Dialects Of Regional Planning In Developing Countries ))

  1. 7.      Konflik

Semakin besar konflik etnis, kepentingan dalam suatu skala wilayah, pembangunan yang dijalankan semakin lambat dan tidak terarah dengan konsisten.Misalnya di Afrika dan daerah etnikal seperti India.

            Berdasarkan perjalanan sejarah pembangunannya, negara-negara yang ditelaah/dikaji, dapat disimpulkan beberapa masa pembangunan sebagai berikut:

  1. Masa Sebelum Kolonialisasi
  2. Masa Pergantian Selama Kolonialisasi
  3. Ketekunan/Ketelatenan Struktur Pembuatan Keputusan Secara Terpusat Setelah Masa Dekolonialisasi
    1. Heterogenitas Budaya dan Pelestarian Peninggalan Masa Lalu (Heritage)
    2. Pertahanan Negara
    3. Pengintegrasian Secara Fisik Terhadap Potensi Pembangunan Nasional
    4. Percepatan Transformasi ke Arah Pembangunan Ala Barat
    5. Konsentrasi Terhadap Usaha-Usaha Pembangunan
    6. Terjadinya Kesenjangan Sebagai Isu Regional
  4. Pengaruh Bantuan Internasional dan Tatanan Ekonomi Lama Dalam Proses Pembangunan Negara Dunia Ketiga
  5. 5.      Centre-Down Strategies

Pentingnya pengaruh kebijakan dari atas dalam mengarahkan pembangunan untuk berkompetisi dalam hal liberalisasi ekonomi dan terutama pertahanan secara global.Efisiensi produksi terhadap pasar menjadi hal utama. Tetapi dengan kerangka berpikir seperti ini, kondisi-kondisi negatif seperti disparitas antar regional dan kerusakan lingkungan sangat rentan terjadi. Contoh yang dibahas adalah di Amerika Latin (Brazil pada Amazonnya dan Peru dengan tambangnya) dan juga Thailand (sekarang kita bisa saksikan banjir terbesar Thailand tahun 2011)

  1. 6.      Bottom-Up Strategies

Beberapa saran yang dikemukan Boisier (Bab 16) untuk sukses menjalan sistem ini antara lain:

  1. Penciptaan institusi baru yang dimaknai sebagai reformasi pada institusi, bukan melahirkan institusi baru untuk selalu mengganti institusi lama. Jika perlu diperlukan penggantian personil penegak institusi tersebut.
  2. Pemahaman masyarakat terhadap pembangunan regional yang dijalankan
  3. Pemunculan solusi-solusi dalam waktu cepat (jarang dilakukan pada kenyataannya)
  4. 7.      Pengambilan Alternatif Antara Strategi Centre-Down  dan Strategi Bottom-Up

Dapat dirunut melalui pertanyaan dasar apakah pembangunan itu dimaknai sebagai hal terukur dari fenomena ekonomi dan penciptaan lapangan kerja ataukah lebih dimaknai sebagai proses pengintegrasian mobilisasi sumberdaya di area sekeliling.

Jika menilik dari kasus yang dikaji di daeah-daerah Asia, kecuali Asia Timur, negara dengan SDA melimpah cenderng memilih konsep Pambangunan Dari Bawah, sementara negara Asia yang sudah maju menggunakan Pembangunan Dari Atas dengan peran penataan tata guna lahan yang diurusi pemerintah negara.

Komentar       :

            Bagi saya, sayang sekali buku ini tidak memaparkan kajiannya mengenai negara Indonesia. Asia Tenggara diwakili Thailand dalam hal ini. Walau begitu, ada kesamaan hal yang Indonesia dan Thailand miliki sebagai berikut:

  1. Sama-sama berbasis SDA dan SDM dengan jumlah yang banyak sehingga upah buruh relatif rendah dan  eksploitasi  SDA tinggi.
  2. Hingga tahun 2011 ini masih memiliki pola pencapaian pertumbuhan ekonomi yang dimaknai sebagai pembangunan. Sehingga konsep Pembangunan Dari Bawah yang dipakai tidak begitu tercermin.
  3. Termasuk Negara Dunia Ketiga yang dijadikan pusat perkembangan industrialisasi negara-negara maju. Misalnya industri  pengolahan dan perakitan perangkat keras atau mesin.
  4. Sebagaimana disampaikan pada halaman 468-469 Bagian III Kesimpulan bahwa negara pengguna konsep Pembangunan Dari Bawah memiliki resiko lingkungan karena memiliki ketergantungan tinggi terhadap bantuan luar negeri dan kualitas SDM yang masih jauh dibanding negara maju. Contoh nyata di Indonesia adalah pembukaan lahan sebagai perkebunan kelapa sawit, projek-projek infrastruktur dari luar negeri, penebangan hutan di Kalimantan, dan pencemaran kualitas air di daerah industri. Contoh di Thailand adalah banjir yang merendam 2/3 bagian negara karena pengelolaan Sungai Mekong yang tidak lagi ekologis dan industrialisasi yang dipusatkan di area Utara, induk sungai.

            Lebih jauh, akan saya jelaskan poin-poin yang dapat saya pelajari dari buku Development From Above Or Below?(The Dialects Of Regional Planning In Developing Countries ) sebagai berikut:

  1. Hal unik mengapa Indonesia tidak dicantumkan dalam pembahsan buku, padahal secara kekuatan SDA, ekspor dan impor Indonesia sejak dulu diperlukan secara global. Indonesia masih dipandang sebagai negara yang sangat terbelakangkah atau memang data yang diperlukan untuk kajian ini kurang? Jika hal kedua yang terjadi boleh jadi karena kebiasaan orang Indonesia dalam hal menulis sangatlah kurang. Peluang bagus untuk dituliskan dalam kajian pembangunan studi kasus.
  2. Dari dua pilihan pandangan mengenai apa itu pembangunan sesungguhnya, saya cenderung memilih bahwa pembangunan itu tidak hanya fenomena ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, tetapi proses integrasi mobilisasi segala sumberdaya (SDA dan SDM) yang ada untuk kemakmuran dan mencapai entitas bangsa. Hal ini mengindikasikan adanya pembangunan unsur humanis terjadi.
  3. Indonesia tetap baik menggunakan sistem kombinasi antara Balanced Growth dan Unbalanced Growth (manifestasi dari Centre-Down dan Bottom-Up Strategies) Sistem penjagaan integritas institusional yang dimiliki pada Pembangunan Dari Atas dan sistem partisipasi masyarakat pada Pembangunan Dari Bawah jauh lebih realistis dibanding mutlak memilih salah satu. Hal tersebut bukan berarti kita tidak berkarakter, namun sistem ekonomi Pancasila kita memang menjadi basis bahwa kebebasan mutlak ataupun sosialis mutlak tidak dianut di Indonesia.
  4. Pengelolaan dua kunci pembangunan:

4.1  Populasi

4.1.1        Menghindari konflik etnik dan kepentingan

4.1.2        Institusi yang tegas dan solutif

4.1.3        Mengarahkan mobilisasi penduduk antara urban dan rural

4.2  Integrasi wilayah

4.2.1        Manajemen infrastruktur penghubung urban-rural

4.2.2        Spatial logics (meminjam istilah yang Blikie tulis pada Bab 9) yang menekankan pada fungsi spasial/ruang berdasarkan kapsitasnya, sesungguhnya baik untuk apa.

Kesimpulan    :

            Tidak ada kesimpulan mutlak suatu negara harus memilih mana antara Centre-Down Development atau Bottom-Up Development. Kombinasi keduanya pun bagus untuk Indonesia. Jika ingin dipandang secara global, pilihan terletak pada sistem politik dan kebijakan ekonomi yang dijadikan azas. Hanya saja, kecenderungan mana yang akan dipilih. Kebaikan Centre-Down Development terletak pada kendali institusi negara yang berperforma baik. Sedangkan Bottom-Up Development mampu menempatkan masyarakat sebagai roda pembangunan yang sadar. Hanya saja, skala pembangunan menjadi faktor yang perlu dipikirkan. Skala lebih kecil lebih mudah dibangun daripada skala yang lebih besar. Tetapi pembangunan sudah saatnya dimaknai sebagai proses, bukan hasil akhir yang dilihat dari fenomena ekonomi saja.

Tambahan     :

            Saya rasa urutan bacaan mulai dari Ekonomi Global karya Prof.Mudrajad, hingga bacaan Development From Above Or Below?(The Dialects Of Regional Planning In Developing Countries ) merupakan proses belajar yang runtut. Saya, pembelajar yang harus membaca buku-buku tersebut seperti diarahkan mengetahui hal-hal dasar pemikiran ekonomi global, mengapa dan bagaimana para ekonom mengekspansi lahan untuk tujuan ekonominya, membawa serta entitas institusional, isu kompetisi pasar, arus liberalisasi, dampak positif dan negatif pembangunan, hingga keberanian untuk mengambil suara mana konsep yang lebih realistis da dapat dipakai bangsa Indonesia. Semoga ke depan terjadi pembelajaran yang lebih baik lagi. Terimakasih

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s