Pidato Yang Mulia Dr.Fidel Castro Ruz, Presiden Republik Kuba, pada Konferensi Internasional tentang Pembiayaan Pembangunan

*) Manusia harus selalu mengingat sejarah. Inilah yang membuat saya pun menuliskan ulang pidato Fidel Castro, sang maestro perubahan di Amerika Selatan sana. Mengingat betapa besar semangatnya membangun zaman lepas dari kololianisme. Indonesia? pertanyaan yang harus dijawab dengan kemunculan pemimpin inspiratif ke depan!!!

Pidato Yang Mulia Dr.Fidel Castro Ruz, Presiden Republik Kuba, pada Konferensi Internasional tentang Pembiayaan Pembangunan

Monterey, 21 Maret 2002

 

(ditulis kembali oleh Emmy Yuniarti Rusadi untuk tujuan edukasi sebagaimana aslinya dari WACANA (Edisi 12, Tahun III, 2002, halaman 193-196, terbitan INSIST))

Hadirin yang mulia,

Tidak semua orang di sini akan menyetujui pendapat-pendapat saya. Meski begitu, dengan penuh hormat, saya akan tetap mengatakan apa yang saya pikirkan.

Tatanan ekonomi dunia yang saat ini sedang berlaku merupakan sebuah sistem yang penuh dengan penjarahan demi penjarahan, eksploitasi demi eksploitasi, yang tiada taranya dalam sejarah manusia.Dus, kepercayaan rakyat semakin berkurang terhadap pernyataan-pernyataan dan janji-janji para elit pengelola sistem ini. Prestise lembaga-lembaga keuangan internasional anjlok hingga di bawah nol.

Perekonomian dunia sekarang ini laksana sebuah kasino raksasa. Analisis-analisis termutakhir menunjukkan bahwa untuk setiap dolar yang beredar dalam perdagangan, pada akhirnya, lebih dari seratus persennya diputar melalui kegiatan-kegiatan yang spekulatif, dan benar-benar terputus dengan kegiatan ekonomi yang nyata.

Hasil dari tatanan ekonomi seperti ini, lebih dari 75% penduduk dunia hidup dalam kondisi keterbelakangan (underdevelopment), dan angka kemiskinan yang parah (extreme poverty) di Dunia Ketiga telah mencapai 1,2 triliun orang. Jadi, bukannya menyempit, kesenjangan ini justru semakin melebar.

Angka penghasilan negara-negara terkaya, yang pada tahun 1960 berjumlah 37 kali lebih besar dari angka penghasilan negara-negara termiskin, kini naik menjadi 74 kalinya.Situasi ini sedemikian parahnya sehingga jumlah harta tiga orang terkaya di dunia ini setara dengan jumlah GDP (Gross Domestic Product) I 48 negara termiskin.

Pada tahun 2001, rakyat yang benar-benar menderita kelaparan berjumlah 826 juta. Saat ini terdapat sebanyak 854 juta orang dewasa yang buta huruf dan 325 juta anak yang tidak bersekolah. Terdapat sebanyak 2 triliun orang yang tak memiliki akses terhadap fasilitas pengobatan yang murah dan 2,4 triliun  orang hidup di bawah standar dasar sanitasi. Tak kurang dari 11 juta anak yang berusia di bawah 5 tahun tewas setiap tahunnya karena sebab-sebab yang seharusnya bias dicegah, sedangkan 1,5 juta anak menderita kebutaan akibat kekurangan vitamin A. Rentang hidup penduduk di negara-negara maju 30 tahun lebih tinggi ketimbang rentang hidup penduduk di Afrika Subsahara.

Ini semua merupakan pembunuhan missal yang sesungguhnya (a true genocide)!

Negara-negara miskin tak boleh disalahkan atas tragedy ini. Bukan mereka yang menaklukkan atau menjarah seluruh benua selama berabad-abad; mereka juga tidak menyelenggarakan kolonialisme, atau menerapkan kembali perbudakan; dan, imperialisme modern bukanlah bikinan mereka. Maka, tanggungjawab utama untuk membiayai pembangunan mereka menjadi tanggungan negara-negara yang, dengan alasan-alasan sejarah yang sudah jelas, kini menikmati hasil dari segenap kekejian itu.

Negara-negara kaya itu harus menghapuskan utang luar negeri negara-negara miskin, dan lantas memberikan lagi kredit lunak yang baru untuk membiayai pembangunannya. Tawaran-tawaran bantuan model lama, selama ini, selalu tidak cukup dan seringkali tidak masuk akal, juga tidak memadai atau tidak membantu.

Untuk mewujudkan pembangunan ekonomi dan sosial yang adil dan lestari di negara-negara miskin, dibutuhkan lebih banyak dana daripada yang biasanya mereka terima. Sebuah metode penghitungan sebagaimana yang diajukan oleh (almarhum) James Tobin untuk mengurangi aliran spekulasi mata uang yang tak bisa ditekan- walaupun bukanlah idenya untuk mendukung pembangunan model ini – barangkali akan menjadi satu-satunya metode yang di tangan lembaga-lembaga yang tak cukup terpercaya seperti IMF. Dana ini akan menyuplai langsung kebutuhan pembangunan negara-negara miskin, dengan suatu partisipasi yang demokratis dari semua negara, tanpa mengorbankan kemerdekaan dan kedaulatan rakyat.

Draf konsensus untuk ide ini, ang sedang digodok oleh para pemimpin dunia dalam konferensi ini, bermaksud agar kita menyetujui semua kegiatan campur tangan yang memalukan, yang dianggap lazim, di atas.

Segala sesuatu yang kita ciptakan sejak sistem Bretton Woods hingga kini harus ditinjau ulang. Sebuah visi yang dulu menatap jauh ke depan telah hilang; dus, yang menang adalah hak-hak istimewa dan kepentingan-kepentingan kaum yang paling berkuasa semata. Dalam menghadapi krisis yang akut saat ini, suatu bayangan masa depan yang lebih buruk masih akan muncul karena tragedi-tragedi

Ekonomi, sosial, dan ekologis semaikn banyak dan tak dapat dikendalikan. Tragedi-tragedi itu tak aka pernah tertanggulangi. Jumlah kaum yang miskin dan menderita kelaparan akan tumbuh semakin banyak, sebagaimana sebagian besar umat manusia telah terbunuh.

Inilah saat yang baik bagi para negarawan dan politisi untuk merenungka semua fajta ini secara jernih. Keyakina kita selam ini terhadaptatana sosial dan ekonomi yang ada, yang telah terbukti benar-benar tidak berperikemanusiaan, harus dibongkar.

Seperti pernah saya kataka sebelumnya bahwa persenjataan perang yang semakin canggih,yang menumpuk di gudang-gudang senjata milik negara-negara termakmur dan paling berkuasa, bisa membunuh kaum-kaum malang yang buta huruf, penyakitan, miskin, dan kelaparan, namun tak bisa membunuh ketersingkiran, penyakit, kemiskinan, dan kelaparan itu sendiri.

Harus dikatakan secara tegas : “Selamat tinggal, perang!”

Sesuatu mesti dikerjakan untuk menyelamatkan umat manusia. Suatu dunia yang lebih baik tetap niscaya.

Terimakasih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s