Karena Hidup Itu Imajinasi, Jadi Perlu Pelecut

30 Juni 2011, pukul 21.10

Karena Hidup Itu Imajinasi, Jadi Perlu Pelecut

Oleh:

Emmy Yuniarti Rusadi

Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota

Universitas Gadjah Mada

Memilih adalah perkara yang tidak mudah. Banyak jalan tercipta bercabang dan berkelok, tetapi mimpi, imajinasi untuk tumbuh sukses adalah perlu direncanakan. Sejak kecil, imajinasi adalah hal yang paling memikat saya bergerak, beraktivitas. Bagaimana saya membayangkan saya mengarungi samudra luas dengan merasakan hempasan angin ketika memanjat pohon. Fenomena ketika celana saya harus sobek karena ternyata imajinasi itu mengelahkan saya yang takut untuk turun pohon padahal berani naik.

Membayangkan kita dapat tinggal pada rumah yang atapnya bisa dibuka setiap saat sehinnga dapat melihat langit dengan mudahnya adalah mimpi yang senantiasa saya bangun, hampir menjadi kenyataan. Atap itu sesungguhnya rasa ketidaktahuan. Rasa ingin menuangkan ide denngan segala resiko hinaan maupun ejekan bahwa boleh jadi karya ini tidak baik di mata publik. Masih saya ingat betapa momen ulang tahun saya di tahun 2008 menjadi momen terpenting karena dapat masuki di program studi pilihan saya yaitu Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada. Mimpi tidur yang memotivasi saya adalah ketika terbangun saya sadari bahwa saya baru saja membangun sebuah jamur baja raksasa di tengah kota dengan hilir mudik aktifitas di sekelilingnya. Imajinasi holistik pun muncul, bahwa pekerjaan desain kota adalah pekerjaan mulia. Menampilkan keindahan dalam wajah kota. Saya pecinta suasana alam yang segar, akan saya tularkan pesan-pesan keindahan itu dalam karya-karya perencanaan kota.

Fakultas Teknik menurut saya adalah pintu harapan. Saya menyenangi keseimbangan ilmu pengetahuan dimana dikotomi sosial dan eksakta itu harusnya tidak terjadi. Seharusnya berjalan beriringan. Masalah seharusnya medan penuh taman yang senantiasa menantang kita untuk membersihkannya selalu agar tampak bersih. Mustahil cepat selesai jika hanya segelintir orang saja yang mengerjakan. Perlu kemampuan komunikasi untuk mengubah wajah taman itu. Begitu pula wilayah dan kota, perlu peran-peran koordinator yang mampu menggerakkan bidang-bidang untuk saling bertoleransi bersama membentuk wajah kota. teknik mesin dengan desain trasnportasi ramah lingkungannya, teknik elektro dengan sistem keterjaminan energi pada kota, ilmu komunikasi yang mampu membuat publik menyikamk maket kota tentang visi ke depan kota akan bergerak ke arah mana. Betapa harmonisnya hidup dengan menggunakan ilmu dengan tepat.

Lima tahun ke depan adalah usia dimana tangga 26 tahun terinjak. Saya sudah harus menyandang gelar master dan berkeluarga. Saya merencanakan bahwa  lima tahun akan menjadi waktu produktif yang harus lebih produktif. Cita-cita belajar dengan eksplorasi kawasan adalah pilihan yang sangat tepat. Belajar kota sambil mempelajari kebijaksanaan budaya, alam, dan aktifitas manusia membangun peradabannya. Eropa atau Amerika adalah negeri imian itu. Hipotesis yang ingin saya buktikan adalah bahwa negara Infdonesia ini, lebih cantik daripada negara manapun. Membuat mata ini membuktikan sendiri seberapa indah negeri orang dengan etos kerja yang kita miliki adalah dinamisasi hidup.

Untuk mencapai itu semua, perlu banyak pelecut yang bukannya menghardik, tetapi harus menjadi semangat dan pijakan berjuang. Finansial harusnya bukan menjadi halangan untuk mewujudkan imajinasi positif kita. Belajar tidak hanya melalui buku-buku. Merasakan buku tanpa merasakan desir angin di luar sana sama saja memaksa lidah memakan salad terus menerus tanpa ingat bahwa daging juga sumber protein untuk tenaga tubuh. Sama halnya, dengan upaya mencapai prestasi, pelecut itu adalah bahan-bahan dasar yang (tidak) dapat dibeli di toko-toko terdekat sebagai berikut:

  1. Kejujuran tentang apa yang ingin kita capai, apa yang ingin saya capai
  2. Kemampuan, ketika percaya bahwa kemampuan itu ada, mata akan mendukung dengan tidak tertidur membaca pengetahuan walaupun ia merasa lelah yang sangat
  3. Komunikasi, dimana peran ini menjadi urgen, tidak ada satu mall atau supermarket hidup pun yang menjualnya dengan percuma. Keahlian komunikasi adalah proses bertahun atau tidak cepat yang harus dijadikan kawan dengan sabar
  4. Spirut membangun. Darimanapun asal kita, dedikasi untuk negeri ini yang terpenting. Lepaskan angan untuk keuntungan sesaaat dalam menggapai cita, tetapi berpikirlah layaknya kita sedang menanam pohon jati. Lama prosesnya, namun  berharga pada akhirnya.

Inilah hidup. Siapapun yang kalah, dunia tidak akan merunduk hormat. Nmaun dunia siap menyapa bagi siapa saja yang mau berusaha.

Advertisements
Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s