Goethe Haus I was Coming! “ Dunia Menjadi Kota-Kecenderungan Global dan Kekhususan Lokal”

Pembicara:

  1. 1.      Prof.Dr.Eckhart Ribbeck

Universitas Stuttgart

  1. 2.      Ir.Eko Agus Prawoto, M.Arch

Universitas Kristen Duta Wacana

  1. 3.      Dr. Jo Santoso

Universitas Tarumanagara

               

Waktu dan Tempat :

17 Februari 2011 di Goethe Haus

Jl.Sam Ratulangi 9-15 Jakarta Pusat

 

 

Bahasan :

*) Tampilan visual bersumber dari pameran. Tolong jangan digunakan untuk keperluan komersil ya J

*) Intermezzo : Free Coffe break J

*)  Materi sangat relevan  bagi teman-teman planologi dan arsitektur, walau  begitu sangat terbuka untuk didikusikan secara luas karena menyangkut juga soal proses perencanaan kota, sistem kota.

 

Pembicara  1 : Prof. Dr. Eckhart Ribbeck

  • Paparan visual pengalamannya mengamati kota-kota di dunia meliputi kawasan di Amerika Selatan (Brasilia, Meksiko, Rio De Janeiro), Izmic di Turki, Dubai, Shanghai, Beijing, Hong Kong, Nepal, Oman, hingga Indonesia.
  • Bahwa populasi dunia terus bertambah sementara kecukupan kebutuhan pemukiman (Human Settlement) belum seimbang. Dalam paparannya ditampilkan bagaimana pola-pola permukiman di area marginal dan low middle area menjadi padat rumah dan penduduk dengan tingkat sanitasi kurang.
  • Penjelasan sekilas tiap kota yang ditampilkan sebagai berikut :
  1. Katmandu di Nepal
  2. China (Shanghai dan Beijing)
  3. Hong Kong (menyorot perkembangan di Kowloon)
  4. Aleppo (lebih lengkap bisa cek via browsing)
  5. Izmic di Turki
  6. Rio De Janeiro dengan Favela nya
  7. Mesir
  8. Oman; dll

Inti bahasan menyoroti tentang :

  • Dunia beradaptasi dengan keadaan yang begitu dinamis dengan cara-cara yang dramatis. Hal ini yang disebut oleh Prof. Ribbeck sebagai Dramatic Tranasformation.
  • Low rise and high density  menjadi salah satu fenomena di kota-kota dengan lahan sempit namun populasi lebih besar, misalnya Hong Kong dan China. Namun tidak demikian dengan Dubai yang karena semangat membangun yang ditularkan sang raja, Sheikh Rashid Al Maktoum, terjadilah Turbo Urbanization! Ingat, bahwa urbanisasi dalam konteks ini bukan berarti perpindahan penduduk dari desa ke kota, namun perubahan kawasan/wilayah menjadi berkarakter urban.
  • Tentang China, pembicara kawakan ini mengatakan bahwa China harus terus berjuang untuk memulihkan juga kondisi air di kota. Kondisi sungai-sungai di China mulai memiliki standar yang tidak humanis lagi, pasca membludaknya kegiatan ekonomi negara ini. Ingat juga, bahwa per 2010 ekonomi China adalah nomor 2 di dunia setelah Negeri Paman Sam.
  • Perkembangan kota sudah ada pada tahap globalisasi arus kencang dan harus memiliki ketahanan “mental” agar tetap humanis dan bertahan. Indonesia memiliki kota Surabaya yang sudah terlihat kental karakter globalnya, terlebih Jakarta. Hanya saja, kota-kota ini harus mampu menunjukkan benar-benar sebagai kota modern yang humanis. Segregasi antata high class, middle class, dan low class masih menjadi problem. Densifikasi akan terus terjadi. (Sekedar tambahan, unduhlah video 7 Billion  yang dibuat oleh  National Geographic, then we can imagine how many people are in this planet will be!)
  • Beijing popular dengan sistem Gated Community. Berbeda halnya dengan kota-kota di Jerman yang menerapkan sistem Open City. Open City memungkinkan gaya arsitektural yang terbuka pula ( saya membayangkan jika ini diterapkan di Indonesia, bukan tidak mungkin kalau rumah-rumah akan betul-betul melongo karena barangnya dibawa kabur (?)). Gaya terbuka ini diwujudkan dengan desai-desain yang eco-friendly, banyak bukaan jendela, sinar masuk dengan bebas. Sangt humanis dan artistik.  Indonesia menerapkan apa yang Prof. Ribbeck sebagai sistem tertutup. Mirip Gated Community, namun lebh terpengaruh karena nilai-nilai individualisnya yang semakin tingi. “This is globalization, and we have to consider about capitalistic.”
  • Tutur ditampilkan pula contoh di Mesir tentang permukiman yang mulai vertikal namun ditata agar lebih humanis. Tetap memiliki kota yang modern, namun suasana “kampung” masih jelas terasa.   Contohnya di Gournia Village. Foto yang ditayangkan waktu itu menunjukkkan perubahan dari tahun 1970, kemudian jump hingga kini.

 

Pembicara  2 : Ir. Eko Agus Prawoto, M.Arch

  • Berbeda dengan Prof. Ribbeck, beliau menyampaikan  materi dari perspektif  kota yang tidak megapolitan atau metropolis, yaitu Yogyakarta.
  • Beliau mengomentari penjelasan Prof. Ribbeck sebelum memulai presentasi. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada bentuk ideal yang dapat kita tunjuk sebagai model sesungguhnya pengembangan suatu kota yang dinamis. Semua terkait dengan seni sosialnyayang tumbuh di suatu kota. Sifat-sifat artifisial tidak akan mampu menggantikan sikap-sikap natural masyarakat membangun kotanya.
  • Memulai presentasi, beliau mnyuguhkan visual ajang festival rakyat di Yogyakarta. Sebuah brand yang mengantarkan kita bahwa kota dunia tidak harus melulu dengan ikon-ikon modern yang selama ini kita kenal, begitu saya mengakapnya. Itulah mengapa beliiau bilang bahwa tidak ada modde yang ideal sebuah kota dikatakan mengglobal/mendunia hanya dilihat dari jumlah vertical housing dan kawan-kawannya. Bahasa art, seni ,dalam  menghidupkan kota juga bagian dari urbanisasi global.
  • Pentinganya Social Planning (untuk teman-teman sosial yang mungkin membaca ini, tolong jangan artikan mentah bahwa ini sosial yang selama ini teman-teman mungkin sering dengar. Ini merupakan sebuah pendekatan keteknikan dengan cara down to earth J. Kenali masalahnya, lalu selesaikan, bukan pecahkan! Karena memecahkan hanya berati manambah cabang masalah, manembah kepingan masalah, a little joke but seriously that is true!J)
    • Ø Jangan pernah tertipu oleh model! Model yang ada di Jakarta dalam mewujudkan ikon-ikon pembangunan kota yang banyak ditiru oleh daerah tidak sepenuhnya relevan untuk daerah. Itu adalah Social Fantasy, dimana kota modern adalah kota penuh mall, penuh hotel bintang lima.

 

Pembicara  3 : Dr. Jo Santoso

  • Saya kira teman-teman planologi maupu arsitektur ahrus kenal siapa beliau. Kenalilah lewat biografinya dulu. Salah satu tokoh akademisi yang juga praktisi. Banyak sekali karyanya berdiri. Konsep desainnya dapat dilihat pada developing zone Lippo Karawaci dan BSD (Bumi Serpong Damai;Big City Big Opportunity J).
  • Pemikiran beliau dapat dirangkum menjadi 2 poin saja untuk mengidentifikasi urbanisasi kota:
  1. 1.      City Driver

Hal yang menarik misalnya saat beliau membandingkan pola pembangunan kota di maa Bung Karno dengan Sarinahnya, dengan masa Pak Harto dengan banyaknya monumen maupun simbol-simbol nasionalismenya. Siapa pembuat keputusan, ada apa di balik keputusannya itulah yang penting dipelajari. Berbeda driver-nya berbeda pula arahnya, namun begitu antara keduanya memiliki kemiripan pemikiran tentang ciri kota modern yang harus dilengkapi dengan hotel berbintang, mega stadium, dan mega icons lainnya.

  1. 2.      Proses

Baik dari segi prose perencanaan maupun proses tumbuhnya kota. Banyak kota-kota padat seperti Jakarta (kota ini terus dibahas, bahkan salah satu penanya bernama Lukas, dari Jerman, merasa bahwa dia cukup “gila” tinggal di Jakarta. Tetapi itu yang dia rasa menjadi ciri khas yang tidak terlupakan)

  • Beberapa  pernyataan beliau yang menarik saya kutip langsung berikut ini:
  1.  “City was created as a place for human-coexistence to improve the quality of life”
  2. “ City is free market”  (today-penulis)
  • Beliau memaparkan bukti-bukti bahwa siapa “sopir” kota, menentukan arah kota antar generasi. Misalnya Little Netherland yang dibangun masa kolonial Belanda, sewaktu membangun kantor pusat daganga berhadapan dengan kantor dagang Inggris saat itu.

Sisa-sisa bangunan lama dibongkar oleh Belanda agar suasana Netherland di sekitanya sempurna.

>Perlu digarisbawahi, bahwa akan terus terjadi, 2 konflik yaitu antara Power vs Interesting as human to human habitat (Kekuasaan vs Keinginan untuk menghuni sebagai manusia/ berhabitat). Hal yang terjadi pada realita bahwa Ppower cenderung menggunakan kota untuk pemenuhan segalnya, namun bukan hunian manusia sebagai prioritas (Power uses the city for everything not for human settlement)

 

Moderator     : Bapak Paulus dari Universitas Kristen Duta Wacana

 

Sesi Pertanyaan:

  1. 1.      Lukas dari Jerman

Pendapat penulis soal kemacetan dan “kegilaan” Kota Jakarta ke depannya?

  1. 2.      Marice (?) dari Aussie

Kemacetan lalu lintas Jakarta dan pengoperasian dana pembangunan/pengatasan masalah? Masalah urbanisasi masalah dan tanggungjawab siapa?Arsitek, Perencana, ataukah siapa?

  1. 3.      Mr.X (tidak jelas)

Kepada Prof. Ribbeck : kota mana yang telah ia kunjungi yang menunjukkkan bentuk menanganan masalah urbanisasi dengan baik?

Jawaban :

  1. 1.      Semua panelis

Intinya dikutip dari apa yang Prof. Ribbeck sampaikan  yaitu 3 alternatif atas kemacetan Jakarta :

a)      Berhenti megonsumsi mobil

b)      Beralih ke kendaran publik/umum

c)      Belilah mobil sepuasnya dan tunggulah  stop city J

  1. 2.      Semua panelis

Semua. Hal yang paling utama adalah “sopir kota”

  1. 3.      Prof. Ribbeck

Karakter seperti ini sulit dijelaskan karena masalah setiap kota berbeda dan memiliki konsep adaptasi yang berbeda pula. Strategi Hong Kong untuk urbanisasi megapolitan patut diacungi jempol. Kekuatan Dubai juga spektakuler. Namun yang masih menjadi pertanyaan, Jakarta juga harus bisa mengendalikan kekuatan pembangunan kotanya (sambil tersenyum, tanda pemberian semangat optimis kepada audiens juga)

 

Semoga bermanfaat!

Please contact me:

emmy.yuniarti.rusadi@gmail.com

 

 

I am interesting to environmental development, disaster management,transportation,  and infrastructure

Urban and Regional Department

University of Gadjah Mada

Advertisements
Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s