Mengejar Bayangan Diri

Cukup lama akhirnya saya menyentuh blog saya lagi. Bergulat dengan mimpi yang harus dituntaskan. Memendam banyak gumpalan cerita yang disiapkan untuk buku single kedua saya nantinya (buku ke-lima secara keseluruhan), insyaallah REMAH ROTI #2 (saat ini masih ada promo REMAH ROTI utama). Buku REMAH ROTI yang pertama sudah diproses sekitar setahun lamanya. Mencari mana penerbit yang sefaham dengan misi literasi kita, serta pertimbangan agar harga buku terjangkau. Seru rasanya tak tertandingi apapun saat buku itu benar-benar terbit secara indie akhirnya tahun ini. Pada Juli kemarin.

Ada banyak kisah, inspirasi, nasehat baru, serta hal tak terduga terjadi. Beberapa perjalanan baru terjadi. Jaringan pertemanan baru pun demikian juga menghampiri. Ternyata benar, hidup ini sangat indah jika kita “memeluk” Tuhan dengan sangat erat. Saya memang pernah “dihajar” oleh cobaan hidup yang bertubi-tubi, namun saya tidak lari. Manusia yang berdikari pasti harus sanggup melawan diri. Dan bertahan dengan prinsip terbaiknya hingga mati. Nanti.

Kadang kita seringkali lupa waktu. Terlalu sibuk mengejar banyak pencapaian. Tapi boleh jadi itu bukan esensi. Setelah dapat, justru malah disesali. Hal ini kebetulan saya syukuri tidak terjadi banyak dalam hidup. Berlatih meraih hal yang memang penting dan tidak sekedar ego diri itu ternyata baik. Berdarah-darah di awal, namun lebih menenangkan pada akhirnya. Setidaknya pesan penting itulah yang saya dapati akhir-akhir ini.

Untuk apa kita menciptakan sesuatu atau berkarya? Apakah untuk pujian? Gengsi-gengsian? Keren-kerenan? Atau bias lainnya yang tanpa kita sadari, seperti mengejar bayang an kita sendiri. Ia dekat, namun sangat sulit ditangkap.

Jika hal ini menyergap, kita perlu coba berhenti sejenak. Mengendurkan urat ego kita sesaat. Berpikir dan bicara pada diri sendiri , “Hei hati, apa sebenarnya yang kamu mau?” serta tanyakan apapun yang perlu ditanyakan pada hati kita sendiri.

Biarkanlah prestasi yang kita capai terjadi karena murni kita memiliki peran disana. Berdayaguna. Bermanfaat bagi sesama. Bagi alam. Bagi banyak hal lebih besar lainnya, walaupun hal kecil sederhana kita lakukan.

Saat ini, banyak anak muda tak paham dengan apa sejatinya yang ia kejar? Setelah lulus SMA, yasudah kuliah. Setelah kuliah yasudah menikah. Atau kecenderungan mengikuti ritme hidup berdasarkan terjemahan umum. Lupa bahwa tiap orang punya peran berbeda-beda.

Semakin mengenal banyak orang, kita akan tersadar bahwa kita belumlah apa-apa. Mengejar ketertinggalan diri sangat berguna. Namun mengejar bayangan sendiri, kiranya perlu diwaspadai. Cintailah diri sendiri dengan memilih hal esensial. Umur kita terbatas, lakukan hal terbaik. Ngomong-ngomong, jangan berhenti berkarya dengan alibi baru setelah baca tulisan ini hehe! Kita selalu tahu, mana bagian yang memaksakan diri seperti mengejar bayangan sendiri, mana yang dikerjakan karena perlu dilakukan. Prestasi itu tidak semata soal penghargaan, nilai, omongan orang. Prestasi itu soal seberapa besar manfaat kita tertularkan dan dikenang di akhir usia diri. Sekiranya kita bisa sama-sama mengingatkan, saya masihlah sama dengan kawan-kawan semua. Selalu “menempelkan” pengingat pada “dahi” saya : “Hai diri, saya akan tahu diri. Mana saja yang dikerjakan dengan esensi. Dan bukan sekadar gengsi.”

Magelang

16 September 2018

Advertisements

BAGI SAYA, INDONESIA SELALU BISA MAJU…

Bagaimana caranya?

Dulu saya coba berpikir, mengurut benang kusut permasalahan Indonesia itu sebetulnya dari mana seharusnya?

Ternyata mencari hanya akan menyisakan pencarian saja. Berbuat akan memulai jawaban. Jadilah saya mencoba, memaksa diri saya menggali potensi apa yang sekiranya dapat disumbangkan sedikit demi sedikit. Saya berfokus ke pembangunan. Namun pembangunan fisik harus dibarengi dengan kemampuan paling dasar manusia, yaitu menciptakan sesuatu. Berkarya. Bagaimana caranya dapat berkarya? Pendidikan. Harus ada banyak anak muda yang turun langsung membuka kesempatan luas. Dari socio-educopreneurship, kewirausahaan yang tidak hanya berefek ganda, tapi lebih dari itu. Sebagai muslim, saya diajarkan salah satu prinsip : memberi, memberi, dan memberi. Bukan take&give, justru. Apapun agama kita, kebaikan menjadi landasan kuat kita berkarya. Jika ditanya apa saja kegiatan saya sekarang dan nanti? Disini:

Dari atas ke bawah, setidaknya beberapa program yang akan membersamai anak muda Indonesia meraih mimpi mereka. Saya dulu pernah ada di bawah bayang-bayang keterbatasan keuangan. Kini, tidak boleh lagi ada anak bernasib sama seperti saya dahulu. Beberapa bagian profit kami gunakan sebagai landasan bergerak lebih jauh menyentuh grassroot. Mulai dari ibu janda, anak yatim piatu, anak kurang mampu, dan kelompok marjinal lainnya yang perlu kita bantu.

Mau jadi bagian dari pergerakan kami? Mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut serta aktif sebagai warga dunia. Yuk!

PEREMPUAN, RASA SYUKUR, DAN MEREKA YANG “HANCUR”

IMG_20180301_123947

Perempuan kecil. Usia delapan tahun. Hidup sebagai buruh usung. Hanya dibayar sekenanya. Jauh dari keluarga. Hidup di bawah garis kemiskinan.

Lalu potret yang sehari-hari, bagi siapa saja yang mengaku kids zaman now malah menjadi-jadi. Demi eksis berkepanjangan segala macam dipamerkan. Laptop barukah. Gadget barukah. Baju barukah. Tanpa peduli lagi.

Ada juga kita temui. Keluhan sana sini. Tugas studi. Bertubi-tubi. Apa kamu pikir studi itu hanya untuk mejeng sana-sini. Agar dikira intelek sana-sini? Bukannya peduli ?

Hai cantik, Anda boleh menggunakan baju terbaikmu. Tapi pedulilah. Setidaknya cantumkan caption-mu yang bijaksana. Bahwa mungkin dengan fotomu itu, kau tunaikan donasi publik barang 25%. Didik pembacamu mengikuti jejak itu.

Hai cantik, ada banyak anak terkapar hari ini karena lapar. Sangat tak elok jika dirimu terkapar hanya karena tak bisa membeli make up. Heh? Make up? Berapa usiamu? Baru 17 tahun kan. Loh kok sudah bermain dengan pria dewasa? Siapa yang mengajari? Bacaan digitalmu? Tentang pelakor-pelakor muda. Itulah idolamu? Kamu bilang dunia semakin terlalu serius? Ah! Orang tua dan keluargamu mengharapkanmu. Tumbuh menjadi makhluk penuh syukur. Bukannya parasit jamur!

Hai cantik, katakanlah aku kakak yang galak. Itu lebih semarak. Daripada manusia ini menderita melihatmu kelak. Jika tanpa arah engkau bergerak. Perempuan adalah empunya zaman. Lengkapi kisahmu dengan perjalanan. Perjalanan sejarahnya menjadi teladan. Benar kakakmu ini penuh kelemahan. Jauh dari kesempurnaan. Tapi akulah orang pertama yang akan jauhkan engkau dari penyesalan. Sekiranya itu dapat kulakukan. Jika terus juga engkau teruskan kesalahan. Petuah itu tak engkau hiraukan. Silahkan. Jangan mengembik bagai domba yang cantik. Tidak!

Dari anak perempuan Ghana ini kakakmu belajar. Masih ada informasi digital yang membuatmu dan otakku bergerak. Ototnya meledak-ledak. Berteriak! Bahwa perempuan di luar sana masih butuh kita.

Hai cantik, maukah kamu membantu? Menjadi bagian solusi itu? Bersyukur dan bergerak dari arahmu. Lalu nanti kita bertemu. Di masa depan yang cerah itu.

-Sepenggal ketukan kesadaran. Perempuan masih punya PR berlipat-lipat banyaknya. Mulai dari kemiskinan, budi pekerti, kebodohan, dll. Selalu miris mengapa berita yang meledak di pasaran justru hal-hal yang kurang bermutu soal “prestasi” negatif perempuan. Padahal banyak juga hal positif dapat digali. Ada kalanya saya menjumpai testimoni anak perempuan berusia 17-20 tahun yang telah masuk dalam pergaulan bebas. Ada yang sudah menjadi pelakor om-om. Ada yang sudah mau menikah siri. Ada yang sudah mau jadi istri kedua. Ada pula yang jadi selingkuhan orang. Mereka pernah bangga dan memposting apapun yang mereka dapatkan dari perilaku tersebut di media sosial. Sekarang? Menyesal. Mereka merasa hancur! Dikutuki banyak orang. Mau melanjutkan pendidikan sudah tersandera rasa bersalah. Mau maju benjut. Mundur ajur. Itu beberapa sekelumit temuan pesan “dibalik gunung es” yang saya dapati dari beberapa kali perjalanan riset (padahal riset tidak menyasar isu gender, namun soal peran pemuda dalam pembangunan). Ditambah sata menonton juga berita&dokumenter Bamunu ini. Proses riset ini patut saya syukuri. Beginilah nestapa kita. Fakta. Sehingga saya coba tuliskan agar tidak ada lagi penyesalan itu. Jangan jadi perempuan bodoh! Berdirilah di kaki sendiri. Sehingga bukan jadi perempuan yang mudah diperdayai. Tegaslah pada kehidupan. Hargai masa depan. Dan masih banyak hikmah lain yang saling bertautan. Usia anak-anak dan remaja perempuan amatlah rentan. Yuk kita bantu ingatkan. –

EYR

Fyi, untuk film lengkapnya dokumentasi perempuan pada gambar dapat disimak di:
https://www.aljazeera.com/programmes/witness/2018/02/kayayo-ghana-living-shopping-baskets-180208100258332.html

JANGAN PERNAH SEPELEKAN MIMPI

IMG_20180102_102657.jpg

Tidak ada sesuatu dapat diraih tanpa kita membuat mimpinya dahulu. Mimpi itu seperti target yang hendak dicapai. Dan tidak ada yang salah dengan bermimpi besar. Asalkan doa dan ikhtiar nya juga besar.

Selamat atas penulisan buku inspiratif ini. Terimakasih telah jadi lampu pijar bagi generasi muda membaca karya yang super bermutu. Sukses selalu inspirator Ibu Mimi (ini yang baca sama penulis kok samaan sih haha) Fissilmi Hamida dan Pak Ario Muhammad.

IMG_20180102_102718

IMG_20180102_101002_HDR

Quote berharga hanya benar-benar berharga saat ia masuk hati dan kepala, lalu membuat orang melakukan sesuatu karenanya. Beginilah kutipan yang saya suka dari buku NOTES FROM ENGLAND ini:
” Benar. Semua berawal dari mimpi. Namun, mimpi yang tidak diperjuangkan hanya akan berakhir menjadi seonggok khayalan. Seonggok imaginasi yang tak akan pernah terjadi.”

“Mimpi adalah kekuatan. Lelah tak terperi dan kegagalan bertubi-tubi tak ‘kan terasa lagi tatkala kita ingat bahwa ada mimpi yang harus kita perjuangkan, ada angan yang harus kita wujudkan. ”

Dan masih banyak lagi. Sangat rugi jika hari ke depan tak membaca buku bernutrisi tinggi ini.

Photos: selfdoc
Salam terbaik,
Emmy YR
IG: @emmy.yr
Twitter: @EmmyYR

SEDERHANAKAN PILIHAN, PERINDAH PENCAPAIAN

Bicara tentang sederhana, bisa jadi hal relatif. Tetapi jika sejak hidup kita ditempa untuk berpikir karena memang terlahir sederhana tentu ini lain cerita. Namun yang jelas, sederhana itu anggun.

Ada banyak kalimat manis dapat diciptakan, tapi tidak kesederhanaan. Ia adalah sesuatu yang butuh tempaan. Semakin berkilau diri kita, semakin lah baik jika dapat sederhana. Apakah ini soal pakaian? Gaya hidup? Sederhana bisa tentang apapun juga. Termasuk cara pikir. Boleh dan memang menyederhanakan pilihan akan membuat otak tidak banyak menghabiskan banyak waktu untuk memilih, namun pastikan pencapaiannya besar. Dalam artian, lakukanlah hal terbaik dalam hidup kita menggunakan energi terbaik kita.

Bagaimana jika kita gagal? Sederhana saja, boleh jadi usaha kita kurang baik.

Bagaimana jika kita ditipu? Sederhana saja, penipu tidak lebih baik dari kita.

Bagaimana jika kita tak tampak cantik atau ganteng? Sederhana saja, ini jaman super modern, ukuran cantik ganteng tak sekedar wajahmu saja, namun otak dan kebermanfaatan.

Bagaimana jika kita dipecundangi? Sederhana saja, oh berarti pecundang itu tak cukup nyali melakukan hal baik pada kita. Cukup hadapi dan tertawa lah.

Bagaimana jika tidak bisa ini itu? Sederhana saja, yang ini Anda terlalu khawatir! Harus di ctrl + a terus del dari pikiran kita hehehe. Ketakutan hanya ada di dalam pikiran. Tapi beda ya dengan ketakutan karena rasa bersalah.

Bagaimana jika sudah berusaha maksimal, berdoa optimal, apapun juga ada juga kegagalan? Sederhana saja, kita ini manusia. Pengatur takdir ya Yang Maha Esa. Berarti rejeki kita belum disana. Bersyukur lebih utama.

Dan “bagaimana-bagaimana” lainnya dalam hidup kita. Sederhana saja, hidup sering juga bercanda, agar kita dapat sesekali menertawakan diri, bangkit, lalu terus bergerak. Persis seperti mengendarai sepeda. Harus terus diayun, terus dikayuh, agar sampai tujuan.

Tapi ada hal yang tidak dapat sesederhana itu kita hadapi oleh karenanya kita musti hati-hati. Saat ada banyak orang yang tersiksa, terluka, diambil haknya, atau apapun rupa kedholiman manusia. Entah itu pada alam atau manusia. Karena rasa bersalahnya sangat susah obatnya. Bencana atau malapetaka. Tidak ada obatnya di jual di pasaran. Kecuali kembalinya nurani. Nah kan, balik sederhana lagi ternyata. Hehehe. Jadi sudah nemu arti “sederhana” belum?

SMART CITY BUTUH STRATEGI, BISA DIMULAI DARI PEMUDA YANG HOBI BERBAGI

Saat bicara soal kota cerdas, sering terjadi banyak kekeliruan bahwa prinsip ini mengedepankan hanya hardware, software, atau high-tec lainnya. Padahal, sebetulnya rangkaian teknologi tersebut adalah bagian dari tools untuk membuat suatu kota itu “cerdas”. Komponen kota cerdas juga ada pada manusia, lingkungan, ekonomi, dll. Ada banyak versi soal komponen apa saja yang harus dikaji lebih lanjut. Namun, setidaknya ada hal
“seksi” lainnya bahwa cerdas dimaknai juga sebagai peran yang mengedepankan efektifitas, efisiensi, dan dampak lebih luas daripada ketika kita tidak mengaplikasikan prinsip tersebut. Hal itu adalah tentang bagaimana suatu “bangunan sistem” dirancang saling terintegrasi dalam meningkatkan kualitas masyarakat. Mengingat kehidupan ini sangat antroposentris alias menitikberatkan banyak hal demi kepentingan manusia sebagai prioritas (betapa merusaknya ya manusia jika menciptakan kemajuan tanpa toleransi lain pada alam).

Ada berbagai jenis bentuk penggalangan dana cara kreatif yang dihasilkan oleh komunitas digital kita. Kita bisa kemana saja misalnya dengan crowdfunding kitabisa.com dan bisa juga mengumpulkan donasi via geevv.com sebagai search engine buatan Indonesia. Walau masih ada minus (segala hal pasti punya itu), dampak nyata kedua contoh itu sudah cukup teruji. Saat ini, geevv.com bahkan sudah mengumpulkan lebih dari 123 Milyar donasi untuk masyarakat. Kok bisa? Inovasi sembari mengabdi pada negeri. Satu kali klik dan search berharga Rp10 jadi semakin sering klik dan search, makin banyak dong donasinya. Makin banyak dong orang yang akan terbantu. Saya coba lihat perkembangan geevv.com beberapa bulan terakhir dan ini gagasan “sederhana” yang tereksekusi dengan baik. Apa susahnya klik dan search? Sembari juga belajar kedalaman “engine” ini menyajikan info yang kita cari. Saya berharap geevv.com bisa juga memfilter konten-konten negatif seperti pornografi mengingat makin banyaknya populasi pemuda Indonesia. Saya beruntung terus berada dalam kajian dan lingkungan teknologi seperti ini. Tidak wajar jika UNMGCY , salah satu lembaga PBB untuk anak-anak dan pemuda amat getol menyimak isu kepemudaan di Indonesia. Jejaring dan hubungan erat antara “otak dan hati” khas Indonesia sangat terwakilkan dari dua penemuan bermanfaat itu.

Kelak, saya yakin, anak saya (dan anak siapa saja ke depan tentunya) bisa menjadikan contoh demikian sebagai pelecut berkarya lagi dan terus. Cerdas boleh, tapi hati jangan cadas! Perlembut dengan terus berinovasi sekaligus berbagi.

Tahun 2017 hampir habis. Karya ke depan harus berjalan. Tanpa batas habis. Karena kota cerdas, hanya dapat dicapai dari warganya yang berdayaguna.

Selamat menyambut awal tahun baru dengan strategi kemajuan baru. Yuk!

Kontemplasi lain bisa disimak di http://www.mie2gination.wordpress.com

DEMAM FAHRI : SEBENARNYA KITA BELAJAR APA?

Jika Skotlandia dan kisah “kesempurnaan” Fahri sedang menjadi buah bibir saat ini, mungkin ada hal yang terlupa bahwa sosok Fahri bukan tidak mungkin melewati tempaan yang sedemikian rupa hingga ia bisa “hidup” sebagai sosok yang begitu cerdas, cukup kuat iman, namun mengapa justru nampak bimbang saat dihadapkan pada percintaan. Adaptasi film dari novel pasti memiliki “gap”. Jelas. Namun bukan itu yang jadi soal, pemuda yang menyimak kisah Fahri dan segala “kerumitan penemuan cintanya” terhadap manusia butuh dicerna. Kondisi ideal itu belum tentu benar-benar dapat diwujudkan dalam konteks dunia nyata. Lantas muncul begitu saja tren-tren membabi-buta soal memilih wanita sebagai pendamping hidup dengan “mudah”.

Film berperan sebagai inspirasi dan edukasi, tapi jangan lupa ada unsur hiburan di dalamnya. Menelan mentah-mentah indahnya ” poligami”, indahnya “memilih banyak wanita” bukanlah pesan utama dari film yang juga memiliki unsur edukasi reliji ini. Saya yakin Abang El penulisnya ingin mengedepankan bagaimana seorang pria mapan, berakal baik, beragama baik, mampu menyibak persoalan-persoalan manusia dengan bijak. Dan bukan “kemudahan” menjatuhkan cinta kepada seseorang.

Sayangnya banyak review yang menjurus tentang bagaimana hal-hal yang mungkin lebih remeh temeh seputar kegantengan kecantikan, dan atribut-atribut kasat mata lainnya. Ada baiknya review lebih diarahkan ke bagaimana nilai, level edukasi karya, serta dampaknya bagi masyarakat.

Semoga demam Fahri tidak semata tentang bagaimana seseorang “memohon” cinta seseorang lainnya, namun bagaimana keindahan beragama itu tampil senyata-nyatanya.
Ngomong-ngomong, yang punya nama Fahri banyak sih 😉

APAKAH TANGAN SAYA BERMINYAK?

 

Saya akui saya masih awam tentang ilmu perbatinan ya. Jadi jika ada IPK yang dibutuhkan untuk mengukur kemampuan saya dalam bidang ini, bisa jadi nilai saya C. Namun soal etika, boleh jadi kita bisa belajar bersama-sama.

Dalam banyak bidang, pemuda kita sudah banyak mengalami kemajuan. Akses informasi dan masuk ke jaringan tingkat global pun sangat mungkin dicapai walau jelas itu membutuhkan kerja keras (baca kerja cerdas) untuk mencapainya. Hanya saja mungkin ada beberapa pergeseran nilai yang dari dulu belum berubah bahwa boleh jadi bangsa lain yang lebih tinggi (badannya dan mungkin teknologinya) dirasa jauh lebih layak untuk disalami terlebih dahulu ketimbang ketika bertemu dengan sesama orang Indonesia berkulit coklat, baju biasa saja, tetapi wisdom boleh jadi luar biasa.

Dalam beberapa kali forum internasional yang saya pernah terlibat dan turut serta entah itu sebagai pembicara, panitia, atau observer, ada satu perilaku yang selalu memiliki pola sama.
1. Ketika pemuda gila foto
2. Ketika pemuda gila wibawa

Belum mengenal siapa yang ia hadapi, cukup “say hi”, langsung jepret lalu ” upload” dan merasa dirinya “cukup”. Dalam perjumpaan dengan delegasi sesama bangsa pun, tidak jarang tangan saya (yang saya rasa tak berminyak ini) luput dari jabat tangan sesama pemuda Indonesia karena mereka sibuk menyalami bule atau siapapun mereka yang biasanya dianggap lebih baik (biasanya white skinned people). Saya berpikir, oh mungkin tangan saya terlalu lembab ya untuk disalami. Sudah saya coba untuk tidak memakai tisu karena lumayan lebih ramah lingkungan toh.

Kejadian serupa membuat saya berpikir apakah benar orang-orang Indonesia itu rendah? Kurang kece untuk ” tebar wibawa”? Atau bagaimana. Ternyata penyelaman memaknai hal ini membutuhkan waktu sedikitnya 5 tahun bagi saya. Saya hampir yakin bahwa ada yang keliru dengan cara pandang kita memandang bangsa kita sendiri. Inferior. Padahal pola pikir inlander macam itu harusnya sudah usang karena kita sudah jadi bangsa merdeka dari tangan sendiri sejak 1945. Nenek moyang kita juga bukan pengecut atau penjajah. Malah petarung sejati, pelaut handal, pemuka spiritual hebat, dan apalagi? Banyak kan. Apakah karena kita belum memiliki Hollywood sehingga kita perlu takut dan merasa rendah sehingga lupa bangsa sendiri?

Apa efeknya jika perilaku seperti ini dibiarkan? Berlalu begitu saja?
Sebagai gambaran umum, forum internasional biasanya merumuskan juga beberapa hal penting tentang pembangunan. Pentingnya voting oleh delegasi menentukan harga diri, nasib, serta masa depan lainnya baik dari negara itu ataupun secara umum lembaga internasional. Siapa yang dikenalnya akan mempengaruhi kemana arah keputusan itu dibawa. Jika isu-isu global yang boleh jadi tak harus disetujui karena tidak relevan dengan kondisi bangsa dan negara kita, ya tak perlu disetujui. Namun karena sikap-sikap inferior itu sering terjadi pola ketidaktegasan atau sekedar ikut bangsa yang dianggap besar. Menganggap bahwa bangsa besar selalu dapat menjadi panutan. Memang ada banyak hal yang dapat jadi teladan, tetapi ada pula yang tidak. Itu mengapa menghormati orang dari bangsa sendiri akan memberikan adaptasi batin dan pikiran kita untuk menyelami permasalah bangsa dengan lebih bijak. Tidak sekedar mengekor hal “keren” atau sekedar tren global. Kalau negara kita tidak bisa sepakat dengan LGBTQ sebagaimana negara lain, berarti ada alasan mengapa itu terjadi. Kita tidak dapat memaksakan hal di luar negeri sekalipun itu sedang tren untuk dipakai di negara kita. Kalau pernikahan sesama jenis adalah lumrah di Amerika (atau Eropa) yang baru-baru saja juga disahkan bisa diterima disana, ya jangan mentah-mentah kita anggap itu kebenaran. Bangsa kita bangsa yang menghargai dan menghormati manusia secara esensial, lahir dan batin, dan ingat bahwa sila pertama kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa sehingga norma-norma berjalan atas dasar juga kita ingat bahwa Tuhan melihat segenap perilaku kita. Aturan Tuhan menjadi batu pijak kita. Bukan sekedar rasio atau mau diri saja. Kita patut hormati hukum positif dan norma negara lain, tetapi paling penting hormati juga bangsa ini. Sudah banyak wisdom leluhur kita yang perlu kita jaga, bahkan di usia ini mungkin kita belum bersungguh-sungguh menyelami apa maksudnya.

Kita boleh maju seperti Jepang, kita boleh kuasai pasar seperti Amerika atau China, kita boleh membuat gebrakan berani seperti Turki, juga boleh meniru Australia memproteksi lautnya, kita boleh memukul kesuksesan bangsa lain untuk kemajuan kita. Boleh. Tetapi jangan lupa “salami” orang kita juga terlebih dahulu. “Salami” harga dirinya dengan baik. Kita ingat satu pesan Bung Karno yang masih relevan hingga kini. Bahwa mengantarkan kemerdekaan itu lebih mudah daripada mengisi kemerdekaan, namun dalam mengisi kemerdekaan itu, kerapuhan sendi bangsa bisa terjadi karena sesama saudara saling perang sendiri. Sulit berjabat tangan. Menjadi pengkhianat tanpa terlihat.

Jadi masalah jabat tangan saja kok repot begini sih, Emmy Emmy! Sudah cek tanganmu berminyak apa belum seperti saya? Muka saya mungkin yang berminyak ya. Makanya banyak jerawat. Mungkin saya butuh baca buku Gus Dur juga deh. Gitu aja kok repot!

Kontemplasi lain dapat dibaca di http://www.mie2gination.wordpress.com

SEPERTINYA BUKAN SAYA YANG PENDEK

 

Saya memiliki satu adik laki-laki dan satu adik perempuan. Beda dua tahun dan sembilan tahun. Setiap menengok adik perempuan saya, Ibu saya selalu tanya, ini Emmy atau Emma?
Bukannya apa-apa. Saya berpikir, tinggi badan saya yang stagnan atau adik saya yang tumbuh terlalu tinggi ? Haha

Sama juga mungkin ketika mengetahui adik angkatan yang beda jauh di bawah saya namun daya kreatifitasnya luar biasa. Andai arogansi itu muncul, pastilah saya akan bilang “hei bukan saya yang malas mengikuti perkembangan ya, kamu yang beruntung lahir telat zaman” dan jenis arogansi lainnya.

Nah mungkin sama juga dalam berbangsa. Biasanya semakin sedikit kita “membaca” maka semakin banyak kita “bicara”. Semakin sering melihat orang lain alias ” rumput tetangga” maka semakin mampu melihat detail salah orang lain. Sementara itu, ada debu-debu arogansi berserakan di dalam hati yang belum juga segera “dibersihkan”.

Sejatinya orang lain hanya menyimak permukaan orang lain. Tidak pernah mengamati betul-betul persil hidup seseorang kecuali mungkin ia mengabdikan dirinya sebagai pengamat sejati, pecinta sejati, atau menjadikannya idola. Bahkan fans pun bisa keliru menilai idolanya.

Nah idola abadi kita (khusus untuk Muslim adalah jelas, Nabi Muhammad s.a.w) dan banyak tokoh lintas agama pun mengulas bagaimana kehebatan beliau (ingat beliau tak mau dibilang hebat, yang hebat hanya Allah SWT). Banyak buku di Barat juga tercengang bagaimana sosok itu bisa mencengkeram 2/3 bagian bumi hanya dalam waktu ” singkat”. Selidik boleh selidik kuncinya adalah karena salah satu sifat beliau yang mampu mengonsolidasikan banyak elemen bahkan non muslim sekalipun. Bahwa Islam adalah agama damai. Penuh keberkahan. Tidak sepatutnya mengacungkan telunjuk sekedar untuk merendahkan orang lain namun empat jari lainnya lupa diri.

Dalam membangun negeri, perbedaan adalah keniscayaan. Bantulah mereka yang belum memperoleh hidayah dengan cinta kasih itu. Yuk siram terus mental saling memajukan. Tahu kan bahwa untuk membuat suatu garis lebih pendek bukanlah menghapus beberapa cm garis itu, namun perpanjangan garis Anda dengan prestasi, keanggunan, elegan saja. Nanti ndak seperti saya, udah pendek, ga ngerasa pulak. Haha. Harusnya sih saya cukup akui saja kalau adik saya itu memang jauh lebih tinggi. Mungkin karena lebih baik gizi wkkk.

PELAKOR + PRIA YANG BERSELINGKUH = SAMA-SAMA KELIRU

Ada banyak bentuk pengkhianatan terjadi. Kisah banyak kawan saya cukup banyak menginspirasi bagaimana sebuah pengkhianatan mampu menghadirkan kesenyapan, kelesuan, kesakitan, tanpa batas apalagi jika menyerang orang-orang yang disaat terjadi sedang lemah iman.
Bagaimanapun juga, pengkhianatan dalam suatu hubungan yang dibentuk karena adanya rasa kasih saying amatlah melukai si korban. Tidak ada pembenaran untuk apapun yang disebut dengan pengkhianatan. Dalam satu kali pengkhianatan, pastilah ia dibarengi dengan “kejahatan” lain sehingga karenanya berkhianat memiliki derajat sangat rendah jika dilakukan oleh seseorang.
Pengkhianat biasanya menggabungkan berbagai bentuk “kekerasan” verbal untuk setidaknya membandingkan antara pasangan sah dengan selingkuhannya, pasangan yang berkomitmen dengannya dengan selingkuhannya. Lucunya, orang yang sedang berselingkuh selalu merasa bahwa yang mereka lakukan adalah sah-sah saja karena itu cinta. Hahahaha. Ini namanya gila!
Memang efek besar akan diderita pelakor karena seumur hidupnya akan selalu di cap sebagai perempuan buruk, susah sekali cap ini dihilangkan. Bagaimana dengan pria yang mengajaknya atau mau berselingkuh dengannya? Ya keliru juga! Tapi mengapa selalu tak dibahas? Karena dianggap biasa atau bias gender. Perkaranya, jika yang diobrolkan pihak pria, nampaknya kurang “seksi” diulik. Bukan berarti ini membela pelakor ya hehe. Pelakor tetaplah keliru, hanya saja, ia tidak sendiri. Tidak ada kucing masuk ke rumah jika tidak diijinkan masuk ke dalam. Pembuka pintu itulah yang perlu juga dipersalahkan. Memang ada banyak alasan mengapa perselingkuhan dapat terjadi (Anda harus tahu bahwa setiap korban perselingkuhan masih akan selalu merasa depresi di titik awalnya, kebingungan mencari pegangan dan berusaha menegakkan kepala untuk melihat kenyataan bahwa orang yang ia sayangi atau cintai telah berkhianat!).
Media sedemikian, hebohnya membahas pelakor seakan masalah sosial hanya ini, namun kehilangan kontrol untuk memberikan solusi apa yang dapat dipelajari dari kisah itu. Lama kelamaan anak muda menjadi justru terinspirasi mengetahui hal tersebut menjadi sebuah tren, dan apesnya mengikuti! Peran orang tua mendampingi anaknya dalam memahami isu-isu yang sedang happening atau sedang hits amat berharga.
Salah satu yang unik. Kocaknya, ketika saya di dalam bus umum bersama anak-anak SMA (jaman SMA saya bahkan lebih cupu untuk membahas isu ini), mereka dengan santainya membincangkan nama-nama selebritis yang disebut pelakor! Bahkan mereka fasih menyebut siapa saja selingkuhannya. Jujur saya miris. Mereka dengan asiknya membicarakan istilah pelakor dengan riak tawa seolah itu hanya istilah biasa tanpa makna. Ada lubang tak kasat mata menganga dalam contoh kecil ini. Mereka menganggapnya sebagai guyonan karena itu sedang diperbincangkan banyak sekali netizen dan muncul viral dimana-mana. Saya coba mencairkan situasi (ini sedikit sok kenal sok dekat ceritanya) menanyakan SMA mana mbak-mbak, kelas berapa, saat ini kalua SMA lagi heboh masalah apa. Heboh soal USBN cukup menjadi obat kekhawatiran saya. Oh berarti mereka masih punya perhatian dengan itu. Tetapi rupanya saya dikejutkan lagi dengan cerita kedua.

“Heboh pelakor mbak! Buat hiburan. Stres belajar terus. “ *bulu kuduk mulai berdiri*
“Belajar kan sudah keharusan biar mbak sukses toh. Kok stress. Memang bacaan sekarang nemu dimana?” tanya saya sok kepo
“Weh ya Line, IG, Facebook, banyak mbak. Wah mbak punya IG ga? “ *miris sekaligus bulu kuduk makin berdiri karena selain saya tak punya IG, ternyata filter berita kepada mereka juga minim*
Well, jadi mengapa seorang peneliti seperti saya sok-sok an mencampuri urusan pelakor sih sebenarnya hahaha. Dan karena amat dekat dengan pengembangan pemuda, penting kiranya pemuda masa ini menjadikan banyak kisah itu sebagai pelajaran sehingga bisa dihindari di kemudian hari. Serta bijak menyikapi bacaan di media sosial. Karena saya prihatin! Dan penelitian random saya cukup membuktikan bahwa sisa tragis dari pengkhianatan berlangsung seumur hidup! Bayangkan! Seumur hidup. Apapun levelnya. Mau mereka yang diselingkuhi sewaktu pacaran, partneran, taaruf, hampir menikah, pernikahan baru, apalagi pernikahan lama. Semua pengkhianatan sifatnya sama, hanya menciptakan luka yang bisa meradang kapan saja. Itulah mengapa pengkhianat akan susah sekali mendapat ampun. Menyesal ia seumur hidup. Dan tidak tahu juga apakah akan memperoleh cinta sejati atau tidak. Semoga hanya pintu tobat yang mampu menyembuhkan. Itu pun pasti hukum sebab akibat berjalan terus.
Orang yang disakiti, jika ia mampu mempertebal imannya, akan memaafkan dan menjalani hidupnya dengan terus menjaga semangat menatap masa depan. Walau tentu ia tak akan pernah melupakan sepenuhnya pelajaran dari perselingkuhan atau pengkhianatan apapun jenisnya. Lucunya, banyak pelaku selingkuh (baik itu pelakor dan prianya) tak tahu diri atau semakin ngelunjak. Sadar jika orang baik yang mereka selingkuhi mampu memaafkan, seolah membuat mereka semakin bebas saja. Harusnya tidak demikian. Dimaafkan harusnya semakin tahu diri bahwa ia tak akan pernah mampu mengembalikan gelas kaca yang pecah! Bertanggung jawab penuh tanpa disuruh! Dan meminta maaf tanpa diminta!
Saya jadi tahu betapa nestapa itu ada. Banyak pelakor bangga-bangga dan seenaknya bilang bahwa sesama wanita tak boleh saling menyakiti. Hei! Anda sudah lebih dahulu menyakiti pasangan sah pria yang Anda terima sebagai sleingkuhan Anda!
Logika-logika yang terpaksa dibawa-bawa oleh pelakor dan sialnya, pria yang berselingkuh dengannya akan membelanya. Lupa arah! Lupa daratan!
Oke, kesalahan fiks ada di dua manusia ini. Tidak hanya pelakor.

Lalu apa solusinya dan bagaimana sebenarnya keluar dari masalah ini?

 

1. Tuhan Maha Benar.

Jangan pernah lari dari-Nya saat ujian hadir. Menjadi gentle dan ajarkan kedua orang yang menyakiti Anda itu (pelakor dan pria Anda) bahwa Anda melakukan hal esensial dalam hidup. Tugas Anda memaafkan, ikhlaskan, dan lihat apa yang akan terjadi. Karena Tuhan tidak tidur! Dan itu sungguh-sungguh terbukti. Bahkan sangat cepat hukum sebab akibat itu terjadi.

 

2. Koreksi diri.

Namun jangan menyalahkan apalagi merendahkan diri sendiri. Berselingkuh itu SALAH! Menerima PESELINGKUH saat ia dalam hubungan dengan orang lain juga KELIRU! Jadi angkat kepala Anda karena mahkota Anda hampir jatuh. Menangislah sepuasnya, setelah itu mengaumlah dengan karya lebih baik.

 

3. Fokus pada hal positif.

Anda tidak sendiri. Keluarga, kawan, kenalan, komunitas, selalu ada untuk Anda. Mereka akan ada untuk Anda. Bersibuklah dengan hal positif.
4. Tuhan selalu punya rencana baik.

Tuhan tidak pernah buruk. Manusia hanya butuh mengerti. Mungkin orang yang menyalahi Anda itu memang ditakdirkan tersingkir dari hidup Anda dengan tegas. Nyeri, agar Anda tidak kembali lagi kepada kesalahan atau oenderitaan terlampau lama. Karena Anda berhak mendapat hal yang lebih baik. Jika kasusnya untuk Anda yang belum menikah, berarti orang itu bukanlah terbaik untuk Anda. Jadi jangan tangisi orang yang bahkan tidak menangis untuk Anda!

5. Memaafkan bukanlah kekalahan.

Itu keanggunan pribadi. Jika perlu minta maaflah yang paling awal. Karena bisa jadi itu jalan dakwah Anda (apapun agama Anda). Ini akan memberikan kelunakan agar setidaknya dua orang yang menyalahi Anda tetap dapat menjadi manusia di kemudian hari walau tanpa Anda tentunya. Jangan membalas keburukan dengan keburukan. Derajat Anda jauh lebih baik. Mereka akan kesakitan dengan penyesalan tanpa akhir. Anda justru setelahnya dapat bahagia tanpa akhir. Semoga.

6. Hidup selalu seimbang.

Baik dan buruk berdampingan. Tetaplah menjadi baik walaupun Anda dihadang oleh keburukan. Jangan menyesal pernah berbuat baik, setia, tulus, namun jangan bodoh.

7. Ada lagi? Bisa isi sendiri ya hikmahnya.
Semoga tulisan ini bisa menjadi penghibur untuk korban-korban pelakor atau pria yang mau membukakan pintu bagi pelakor (karena mereka berdua keliru, bukan hanya pelakornya) dan menjadi pelajaran agar kejadian serupa tidak terjadi terus menerus. Kedua, semoga ke depan kita generasi muda bisa menjaga atau setidaknya mengedukasi jenis-jenis bacaan yang layak dikonsumsi anak dalam masa pertumbuhan sekolah agar mengerti apakah suatu istilah itu patut atau tidak didiskusikan di usianya. Ketiga, yuk ciptakan berita-berita yang lebih inovatif dan memberikan wawasan baru. Boleh kasus ini diangkat, namun tolong cantumkan juga solusi riil agar keluarga Indonesia hususnya bisa menghindari dan menyikapi hal ini dengan lebih solutif. Keempat, hehe diisi sendiri ya barangkali masih banyak lagi manfaatnya. Semoga.

NB:
Tulisan ini juga salah satu bentuk kepedulian saya terhadap kawan-kawan yang telah sudi mempercayai saya dalam hidup mereka. Kisah mereka membuat saya belajar. Bangkitlah! Buatlah garis lebih panjang dengan karya tanpa harus menghapus garis orang lain agar mereka terlihat rendah. Tuhan tidak pernah tidur. You are beautifully born by meaning! Do not be a loser. The cheater indeed the loser! And person who takes care the cheater is so much hard. She takes the hardest job in the world! You do not deserve to get a cheater!