Mie2gination's Blog

DSCN3107.JPG

Hari-hari berjalan begitu cepat. Kata orangtua saya, tampaknya baru kemarin saja saya lahir, SD, bertumbuh, lalu tiba-tiba sekarang sudah sebesar ini saja. Rasa cinta membuat mereka melampaui waktu dengan cepat dan terkesima dengan peubahan waktu itu sendiri. Tanpa menghiraukan masalah apa  yang setiap waktu dapat teradi. Mrreka laluui.

Baru kemarinn tampaknya pencalonan walikota Kota Yogyakarta itu dilalui. Bersama tim JOINT (Jogja Independent) yang saya sendiri belum pernah bermimpi dapat menemuinya, ternyata takdir berkata lain. Hingga detik ini. Semua berjalan begitu cepatnya seperti tanpa beban dirasakan. Saya semakin yakin bahwa sesuatu yang kita kerjakan dengan hati akan selalu dapat dijalani dengan baik walaupun tampak sangat sulit bahkan tidak mungkin di awal. Terlampau banyak peristiwa pembelajaran hidup yang saya terima dalam setidaknya Maret hingga Mei ini. Dari peristiwa-peristiwa itulah saya dapat temui bahwa berani mencoba hal untuk kemajuan adalah kewajiban yang harus manusia lakukan demi perubahan yang lebih baik. Banyak alasan untuk kita dapat saja menerima segala sesuatu dengan apa adanya dan menjadikan banyak alasan juga untuk menerah pada keadaan, namun keberanian itulah hal yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Nyali.

Saya juga merangkum bagaimana hentakan perjuangan itu juga bisa kembali ada di titik terbawah dalam hidup. Oh ya, bayangkan saja ketika harus melakukan banyak perjalanan dengan niat kebaikan, namun dihadang dengan banyak sekali hal klise yang kadang saya merasa “harus menyerah secepat mungkin’. No money. No temporary shelter to sleep. No enough safety to speak up. No other choice to choose. Tetapi saya percaya bahwa Allah swt lah yang selalu memiliki ‘sinar’ terbaik. Ia benar-benar tahu seperti apa harus memperlakukan hamba-Nya yang sudah kepayahan bergerak sementara gagasan besar di depan mata. Ia tidaklah diam. Ia lah yang menggerakkan hati banyak dukungan anak muda dari segala penjuru hadir melalui Facebook dan apapun media komunikasi saya dan kawan seperjuangan. Hingga kini, tidak ada sejengkal karyapun yang saya bisa tasbihkan sebagai karya 100% saya. Ada banyak sekali campur tangan Tuhan dalam tiap jengkalnya. Mempertemukan banyak puzzle-puzzle kehidupan, teman, institusi, ide, dan banyak hal lain yang entah saya harus sebut apa lagi. Speechless.

Kini komunitas yang saya bentuk pun semakin bertambah usia. Semakin banyak beban moral yang dipikulnya untuk pemuda. Nanti, 29 September 2016 adalah usianya yang genap 5 tahun. “Balita” pembangunan dan “motor perubahan” yang semoga dapat jadi tumpuan harapan. Disitulah banyak gagasan terwujud. Dimulai dari satu-dua orang yang hadir dalam kegiatan, hingga kini merambahn ke jejaring internasional sekelas PBB. Sungguh diluar dugaaan.

Kadang saya sering “bertengkar” dengan batin dan pikiran saya sendiri tentang pemikiran akankah hal-hal yang saya lakukan ini akan membuat saya kaya? Saya “bertengkar’ dengan hiruk-pikuk perkembangan zaman yang sekarang melihat kesuksesan orang dari berapa dan apa merk apapaun yang dikenakannya. “Uang memang tidak dibawa hingga mati, tapi tanpa uang pusingnya setengah mati”. Salah satu kutipan penting yang cukup menyentil. Hidup dengan proporsional sekiranya adalah jalan damai itu. Biarkan uang lewat dan bermanfaat untuk hal yang lebih hakiki. Saya mempersilakannya, namun tidak akan terlalu menahannya.

Saya mencintai perjalanan, seberapa panjang pun itu. Tetapi saya selalu ingat tempat pemberhentian. Sedikit demi sedikit menciptakan kemajuan adalah perjalanan yang mungkin memiliki pergolakan. Tetapi kemenangan tokoh-tokoh besar dunia untuk menaklukkan rintangan itu, akan selalu menjadi “bara api” bagi siapapun. Termasuk saya.

Siapapun kamu yang ada di pojok kebimbangan, jangan berlama-lama. Dunia menanti kita. Dunia menanti karya kita!

Emmy Yuniarti Rusadi

10 Mei 2016

4 hari menjelang ASEC Seminar and Workshop di Magelang

(Foto: sebuah senja di Nglanggeran, dok.pribadi)

JZw85iPg6n

Bulan- bulan ke depan akan menjadi bulan menakjubkan karena bulan dimana mahasiswa UGM akan melalui setidaknya dua kali periode wisuda. pascasarjana pada Januari 2016 dan sarjana pada Februari 2016. Tampaknya, statistik IPK akan menjadi sorotan utama. Lagi- lagi saya tergelitik untuk menuangkan tulisan tentang hal ini. Tidak jemu rasanya saya turut membuat pesan bagi diri sendiri dan kawan- kawan pembaca. Rasanya ada saja yang selalu keliru dimaknai soal IPK ini.

Dalam pengamatan dan penyelidikan akadmeik saya selama ini menempuh sarjana dan pascasarjana, IPK haruslah mencerminkan tingkat intelektualitas seseorang. Hanya saja, IPK juga memiliki sifat temporer dimana pengetahuan yang dinilai boleh jadi menurun ketika ia lulus. Masalahnya, jika IPK tinggi,ekspektasi orang pastilah ia memiliki kualitas tak diragukan dalam studinya. Itu sudah hal tentu betul, namun tidak selamanya betul. Mengapa? karena masa ini kita dihadapkan pada tuntutan zaman dimana IPK bukanlah mata uang sempurna. Banyak sudah kisah mereka yang IPK-nya berjaya namun secara emosional dan karir tidak menunjukkan prestasi signifikan. Orang cenderung menyepelekan pengalaman dalam memasuki dunia kerja. Atau alih-alih konsentrasi pada studinya, pengalaman penunjang hidup dilupakan. Taruhlah misalnya bagaimana pengalaman seseorang dalam berkomunikasi, mengatur tim, menghadapi konflik, mengatasi tekanan, setia terhadap target, menghadapi kegagalan, dan hal sejenis tidak diajarkan dalam kurikulum secara langsung. Kemampuan lulusan yang diharapkan ke depan bukanlah lulusan yang pandai “menerima”, tetapi pandai “mencari” atau “menciptakan” ilmu. Agaknya, kita akan menemukan fenomena yang mungkin juga saya hadapi (berdasarkan pengamatan setidaknya 5 tahun ini) bahwa banyak kawan- kawan saya ber-IPK tinggi namun menghadapi kebingungan luar biasa mengisi hidup dan karir.

Lalu bagaimana caranya? kalau metode “ceramah” seperti “ayo berorganisasi”, “ayo ikutlah komunitas”, sudah jenuh rasanya. Tetapi apa daya, itulah realita.Ikutlah. Para pemenang di negeri juga harus mengalami susah payah dengan riset yang tidak dibuat sekedar syarat kelulusan. Aada nyawa dalam risetnya yang menarik orang untuk menjadikannya figur. Jika riset dibuat dengan ketakutan IPK rendah maka ini adalah sumber kekeliruan yang besar. Perguruan tinggi tidak dibentuk untuk menumpuk lembaran kertas riset itu, tetapi menjadikan kita sebagai aktor- aktor inovasi. Ketakutan kita pada IPK rendah dapat berujung pada pemilihan topik riset yang  mudah ditebak (kemudian banyak orang mempertanyakan apa sebenarnya dampak risetnya?) atau jawaban penelitian yang sudah ada (kemudian si pembuat sendiri berpikir apa gunanya meriset? karena meriset haikatnya untuk menyelidiki suatu gejala kemudian menemukan jawaban, bukan jawaban yang dideskripsikan dalam karya riset). Sayang sekali.

Disinilah sekarang kita harus merenung, apa makna studi kita? apakah puas hanya pada selembar ijazah dengan IPK lebih dari 3,5 itu? ataukah kita sedari awal dapat terus menyebarkan inspirasi untuk membantu orang agar bisa ber-IPK tinggi namun jagoan dalam hidup. Saya lebih memilih yang terakhir ini. Anda?

Tags: ,

Boleh jadi ini bukan hal aneh lagi di era internet. Seringkali kita mendapati beberapa email untuk karya tulis kita dimasukkkan dalam publikasi jurnal atau buku akademik di level internasional. Tampak menggiurkan, tetapi berhati- hatilah. Saya sudah sekurang-kurangnya mendapatkan 10 email dari alamat berbeda dan dengan domain email yang tampak meyakinkan (padahal spam). Berikut salah satu contohnya:

academic spam

Secara visual, amat meyakinkan karena dilengkapi dengan logo bahkan alamat kantor. Tetapi jika diamati, beberapa keganjilan terdapat didalamnya:

  1. Paket gratis dalam publikasi internasional meragukan. Memang beberapa jurnal terbuka menawarkan hal tersebut namun hanya berkala. Gratis dapat menimbulkan keraguan apakah publikasi melewati proses review atau tidak. Jangan- jangan begitu diterbitkan nama kita justru tidak ada. Bisa saja terjadi.
  2. Pencatutan nama. Jika di selidiki pada LAP LAMBERT, maka tidak didapati nama Steven Frazier pada posisi tersebut, dan badan usaha ini tampak seperti firma percetakan dan bukannya pemroses jurnal.
  3. Dapatkah Anda menemukan keganjilan lainnya? mari berbagi dan berhati- hati.

Riset Tata Ruang International Conference CITIES

Apakah itu CITIES 2015?

CITIES 2015 adalah forum peneliti maupun praktisi internasional yang fokus pada tata ruang sejak 2005. Forum ini telah bekerjasama dengan berbagai pihak dan akan diselenggarakan di ITS (Surabaya) pada 3-4 November 2015. Hasil karya- karya riset akan dipublikasi melalui jurnal internasional yang diindeks oleh Google Scholar, Science Direct, dll di Elsevier (Open Access). Penelitian tim adalah pemodelan tata ruang berkelanjutan di kota Malang dan Jogja dengan perbandingan terhadap kota- kota lain di Jepang dan Taiwan. Kredibilitas inilah yang akan turut membangun citra positif riset tata ruang Indonesia secara internasional. Pembicara utama dalam konferensi internasional ini antara lain:

1. Dr.(h.c.) Tri Rismaharini, Mayor of Surabaya City, Indonesia

Expertise in Urban and Policy Management (Surabaya Smart City)

2. Associate Prof. Sarah Bekessy, RMIT University

Leader – CEED (Center of Excellence for Environmental Decisions)

Expertise in Environmental Modeling

3. Andreas Sevtsuk Ph.D., Singapore University of Technology Design

Leader – CityFormLab, MIT-SUTD

Expertise in Urban and Spatial Analytic

4. Prof. Budisantoso Wirjodirdjo, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Indonesia

Computing and Dynamic Laboratory, Faculty Industry – ITS

Expertise in Dynamic Models

Proyek keikutsertaan ini menjadi bagian penting promosi riset pemuda Indonesia sehingga ke depan diharapkan akan membangkitkan minat riset kita ke level lebih tinggi lagi. Forum ini akan menjadi media berlatih dan bukti bahwa pendanaan bukanlah hambatan bagi pengembangan riset karena masyarakat turut serta dalam menyukseskannya.

Hallo. Inilah tim riset tata ruang yang akan mengikuti forum peneliti Internasional Conference CITIES 2015: Intelligence Planning Towards Smart City . Tahun ini kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Institut Teknologi Sepuluh November dari tanggal 3-4 November, 2015.

Siapakah kami?

Tim ini terdiri atas periset-periset muda yang akan mewakili keberangkatan tim yaitu Emmy Yuniarti Rusadi dan Pebri Nurhayati.

1. Emmy Yuniarti Rusadi

Mahasiswi Pejalan Kaki

Atas: Emmy berjilbab dalam forum riset internasional tahun 2012; Bawah: Emmy bersama rekan periset di Taiwan tahun 2013

Seorang mahasiswa yang setia menggunakan transportasi umum sejak usia sekolah hingga kuliah. Menjadi penglaju dan harus berjuang menngahadapi hari- hari pengamatan transportasi umum, teknologi, dan lingkungan. Emmy adalah mahasiswa akhir program master perencanaan kota dan daerah Universitas Gadjah Mada, sementara Pebri atau Ebi adalah periset dari Fakultas Geografi Universitas Negeri Yogyakarta. Keduanya merupakan aktifis lingkungan dan konsen pada riset tata ruang. Emmy pernah mengikuti APSA tahun 2013 dan memiliki pengalaman bagaimana tantangan mengumpulkan sumber dana dalam keberangkatannya ke Taiwan bersama tim. Tidak jarang uang pribadi dikelluarkan. Beberapa hasil risetnya juga sudah dipublikasikan dalam prosiding, jurnal, serta paparan ilmiah.

2. Pebri Nurhayati

Mahasiswi Pejuang Mimpi

Atas: Ebi saat di Jepang; Bawah: Ebi saat di Istanbul, Turki

Ebi asli Lampung dan berani mendobrak mimpi menjadi kenyataan. Ebi berani mengambil resiko ketidakpastian tantangan riset dan berhasil menyelesaikan studinya dengan gemilang. Ebi adalah MAPRES atau Mahasiswa Berprestasi di kampusnya UNY. Ebi sudah pernah menjelajah ke benua lain nyaris tanpa biaya pribadi. Ebi juga aktif pada komunitas lingkungan hidup internasional dan telah mendedikasikan diri pada dunia riset dan komunitas. Ebi pernah mengikuti forum internasional seperti The 8th ICAST (International Conference on Adnace Science and Technology) di Kumamto University, menjelajah Inggris dalam pertukaran pelajar, serta mengunjungi Istanbul, Turki.

Dari berbagai pengalaman yang kami rasakan, terdapat hal yang terasa kurang yaitu kurangnya rasa memiliki atau atensi publik terhadap kegunaan riset yang dipublikasikan tersebut sehingga tertarik untuk mengajak publik berpartisipasi langsung dalam pendanaan efektif riset anak muda sepertinya. Jarang kegiatan riset didukung oleh crowdfunding. Keikutsertaan ini menjadi jembatan komunikasi dan saling apresiasi yang diharapkan mampu mewujudkan Indonesia yang lebih “melek riset”. Riset haruslah didengar, dirasakan, dan diapresiasi seluas-luasnya oleh publik. Jika cara lama telah pernah dilalui, inilah inovasi yang dihadapi. Keberhasilan akan keikutsertaan dan publikasi karya kami akan membuktikan bahwa kerja kolaborasi di Indonesia menemukan gaungnya. Publikasi dalam CITIES 2015 ini akan diterbitkan dalam jurnal internasional Elsevier Open Access yang terindeks dalam Science Direct, Google Scholars, dll.

Besar harapan kami akan kerjasama ini. Besar pula harapan kami untuk bisa menjadi bagian dari kemajuan bangsa melalui publikasi karya kami. Terimakasih Indonesia.

Rencana Penggunaan Dana

Berapa dana yang tim butuhkan?

Dana yang dibutuhkan tim adalah dana murni yang diperlukan tanpa ada penambahan apapun didalamnya. Tim berdedikasi penuh menggunakan fasilitas kelas-kelas standar dan lebih berfokus kepada kualitas riset.

Sebuah Surat untuk Orang Tua

emmy little

Sebagai anak, berterimakasih kepada orang tua adalah kewajiban. Hal itu pula yang saya rasakan. Tidak ada sedikitpun terbersit untuk melawan hal- hal baik dari orang tua yang mengajarkan hal positif. Jika pun mereka melabeli kita dengan label “khusus”seperti anak kaku, anak kurang bisa sosialisasi, anak kurang adaptif atau apapun, terimalah. Jika sudah berusaha untuk menjelaskan duduk sejatinya diri kita. Kejadian kecil yang selalu menyulut emosi orang tua selalu lahir dari kesalahpahaman mereka mengetahui situasi dan kondisi. Kita tumbuh sangat cepat dari perkiraan mereka dan kita juga yang menghadapi dimensi berbeda dengan mereka. Berbeda zaman, berbeda informasi, serta teknologi tetapi bukan berarti kita mengerti semua esensi hidup. Tidak, kita hanya mengetahui permukaannya saja sehingga kitalah anak muda yang harus tahu diri belajar.

Tipikal anak macam- macam. Seperti saya misalnya. Saya tipikal pekerja keras yang tidak suka disuruh. Saya lebih senang mendengarkan sekali instruksi dan konsisten menjalankannya bahkan walau diri ini capai sekalipun karena merasa itu panggilan hati. Saya juga mengalami “labeling” dimana ketika itu saya berusaha menjelaskan bahwa saya bukanlah orang yang dilabeli itu. Tetapi justru situasi menjadi seperti perdebatan tak kunjung usai. Jadi diam adalah solusi. Tetapi saya merasa sudah saatnya saya menjelaskan bahwa saya memang berbeda. Saya tidak bisa memendam kesalahan terlalu lama. Kebenaran memang sudah sunatullahnya diungkap. Proses ini justru mengajarkan saya juga untuk jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Berani mengambil sikap sekalipun itu bukan sikap populer.

Suatu saat saya dilabeli anak yang kurang bisa menerima kritik orang lain. Saya bilang bukan itu maksud saya. Orang tua menceritakan kegetrannya berjuang saat masih muda. Saat harus merelakan sebagian usia mereka untuk memulai bekerja di usia yang masih dini. Saya menjawabnya dengan mengatakan bahwa saya sudah menyimpannya dan menjadikannya semangat jadi tidak perlu diulang terus karena bagi saya seperti menciptakan kemunduran dan rasa trenyuh mendalam. Saya tidak suka terlalu lama bersedih. Saya dilabeli susulan dengan cengeng karena gampang sedih. Saya berusaha menjelaskan bukan demikian, seharusnya mereka bersyukur bahwa anak yang sedang berdiskusi ini adalah anak yang punya empati tinggi. Tetapi pada akhirnya saya merasakan sakitnya dilabeli bertubi- tubi. Perkataan adalah doa. Saya tidak ingin memasukkan sama sekali label- label yang saya rasa tidak membangun atau label yang destruktif dalam pembentukan perilaku. Saya selalu ingat, jangan katakan anak nakal pada anak yang susah diatur, tapi katakan apa yang seharusnya dilakukan. Detik itu saya putuskan untuk merenung dan berdiam diri di masjid di dekat rumah. Hanya dzikir, QS At Taubah, dan Yaasiin yang menemani saya. Saat ada orang lain bertanya kenapa kok nangis, saya jawaban saya flu. Saya sedang pilek hahaha. Saya yang harus mengalah sebagai anak muda. Jika pun orang tua kurang tepat, maafkan dan mulai dengan semangat baru. Setiap generasi punya kelemahan. Kelemahan anak muda ada pada pengaturan emosi. Kelemahan orang tua adalah ingin selalu diakui. Jadikan ini sebuah refleksi.

Pagi hari saya selalu membereskan pekerjaan rumah. Apapun yang terjadi saya selalu bertekad untuk membereskan rumah selengkap- lengkapnya walaupun disaat waktu yang amat sempit. Orang tua saya baik, jika terlihat itu merepotkan maka dibantulah untuk tidak mengerjakannya. Tapi saya tidak mau. Saya sudah dewasa dan sejak kecil itu melekat erat. Saya mau jadi orang bertanggung jawab tanpa disuruh. Saya sadar diri. Terjadilah diskusi soal wisuda. Orang tua berpndapat saya terlalu kaku tidak mau membawa telepon genggam saat wisuda berlangsung dan menjadikan mereka bingung saat acara usai. Padahal sebenarnya sederhana saja, cukup kalem dan tunggu di titik pintu yang sudah kita sepakati di awal. Tidak apa- apa, kelak ketika saya sudah tua juga pasti akan mengeluhkan hal yang sama. Pikiran orang tua sudah terisi berbagai hal yang jauh lebih kompleks. Namun kali ini label itu dating lagi. Orang tua menilai mahasiswa lain saja bisa kok pakai telepon genggam di saat acara, kok saya tidak mau. Saya sangat menghargai aturan. Tertulis tidak diperkenankan membawa telepon genggam apalagi dalam keadaan hidup karena pasti akan mengurangi kesakralan, konsentrasi, serta kemungkinan kebutuhan komunikasi dalam gedung yang sudah diatur sedemikian rupa. Tidak lucu jika pengamanan komunikasi gedung yang dipadati 2000 orang (mungkin lebih) bocor hanya karena kesalahan peraturan teknologi. Jadilah saya makan sambil mendapatkan label itu lagi. Adapun tulisan ini akhirnya lahir sebagai bentuk refleksi diri tentang cara kreatif menjelaskan sesuatu hal prinsipil dalam diri kita kepada orang tua bahwa mengajaknya ke dalam pikiran kita yang berniat dalam kemajuan dan membiasakan diri menjalankan peraturan sebaik- baiknya adalah baik. Biarkan orang tua saya membaca ini dan juga melakukan refleksi diri. Sesungguhnya saya tidak bermaksud membantah atau apapun itu. Saya hanya tipikal anak yang tidak betah lama- lama memendam hal yang perlu dikoreksi. Saya merasa sekescil apapun dalam pembentukan karakter saya akan berimbas pada masa depan saya. Saya jadi turut belajar tentang apa yang harus saya lakukan kepada anak saya kelak. Pesan orang tua selalu saya jalankan. Ada nada minor dan mayor (baca: marah) tetapi esensi pesan mereka adalah kasih sayang. Maklumilah ketidakpahaman yang mereka mungkin miliki. Saya hanya ingin bahwa saya tidak dilabeli sebagai pembantah atau apapun itu. Ini adalah cara saya mendiskusikan sesuatu dengan transparan kepada orang tua. Saya percaya ada bagian yang bisa ditiru ataupun tidak, tetapi saran saya, jangan jadi anak pendiam yang sekedar menurut. Kita harus tahu kita melakukan apa. Dan orang tua saya memberikan ruang ini. Mereka selalu member humor, marah, dan hal lain yang terkadang bikin salah tingkah agar kita tidak asal bertingkah polah. Hiduphanya sekali, jadilah terbaik yang kita bisa.

Jika kita merasa berbeda dengan orang kebanyakan, renungkanlah terlebih dahulu dengan diri sendiri. Diri sendiri adalah sebenar- benarnya pemberi semangat dan motivator paling ulung yang pernah ada. Sesuatu terjadi pasti juga karena andil perilaku kita. Tetaplah santun, tetaplah cintai orang tua kita apapun adanya. Sikap tegas saya memang terbentuk karena saya ingin kehidupan saya ke dean lebih baik. Saya tidak suka bermain waktu. Saya memang “terlambat” (setidaknya dari target awal saya) saat saya menyelesaikan studi lanjut saya, namun saya sadar bahwa investasi terbesar yang saya lakukan dengan beasiswa rakyat adalah saya berguna untuk rakyat. Jadi setiap inchi perilaku saya dirumah adalah apa yang memengaruhi saya di lapangan. Sehingga saya pun tidak ingin salah paham terjadi di dalam rumah. Sekiranya tulisan ini bisa menjadi pelajaran dan motivasi bahwa kita juga harus promosi diri (promosi tidak hanya untuk ujian doctoral saja loh hehehe) bahwa modal kepercayaan yang orang tua tanamkan akan kitagunakan sebaik- baiknya. Jika kita terlihat “kurang sosialisasi” saat di rumah mungkin orang tua sedang melihat kita dalam fase “ingin sebentar menimati istirahat dan suasana rumah” atau “saya sedang dalam misi pengerjaan suatu tugas yang tidak bisa mengambil banyak waktu bermain”. Tampaknya peristiwa yang saya alami ini hanya kumpulan dari berbagai tekanan yang sedang kami rasakan. Satu hal yang saya percaya, tekanan kehidupan itulah yang kelak kita syukuri untuk dikatakan bahwa kita pernah punya waktu merasakan. Kita punya waktu lebihcepat dari orang kebanyakan untuk menyelesaikan. Selamat dating di zaman kreatif dimana komunikasi dengan orang tua pun harus lebih kreatif. Semangat berkarya! Jangan putus asa!

NB: Saya memnta orang tua saya “mengoreksi tugas saya ini”, dan ketika membaca surat ini orang tua hanya bisa tersenyum.Saya berhasil “menyindir” mereka dengan cara “gila” saya. Indahnya saling bermaaf- maafan walau ini bukan hari lebaran. Dalam hati saya berbisik, wah bekerja juga cara kreatif ini ya hehehe 🙂

–Emmy Y.R , Ahad, 30 Agustus 2015–

Sebuah pengingat bagi para periset🙂

The Thesis Whisperer

Presentations  for a faculty or disciplinary audience are subtly different to those you give at a conference, but not talked about as frequently. These ‘internal’ presentations are important because they tell your colleagues what kind of researcher you are; it helps you socially and academically to perform well to your peers.

This topic occurred to me as I sat in on a couple of examinations (vivas), completion seminars and a confirmation or two in recent weeks. I have sat through literally hundreds of assessment presentations if you count my years in purgatoryarchitecture school. So here’s my top five classic research presentation mistakes, but I’m going to stick with the verbal problems here because there are many great presentations about graphics, such as ‘how not to suck at powerpoint’ and ‘how to make you presentation boring’.

1) TMI

Too much information (TMI) is the most common mistake I…

View original post 876 more words

sewa rumahtempat usahatempat usahajual tanahSebelum membaca artikel ini, lagi saya sarankan cobalah membaca salah satu, dua, atau tiga dari beberapa tipe iklan yang sudah tak asing lagi coba saja cari informasi mengenai jual tanah ,tempat usaha, sewa rumah, serta beberapa lainnya seperti “disewakan apartemen Bali”, “apartemen murah di bali”, dan sejenisnya. Perkembangan dinamis ini menjadi bagian dari roda ekonomi khas perkotaan yang terus melebar. Jika takjub dengan harganya, mungkin tidaklah seberapa. Hal yang harus dihadapi adalah disaat logika kebutuhan dan persediaan itu berhadapan, itulah yang selalu menjadi bahan pemikiran. Namun iseng begini ternyata membawa pengetahuan baru. Tak ada salahnya mengamati jenis- jenis properti ini untuk pertimbangan kita tahu kondisi suatu kota, meramalkan masa depan kita jika berumah tangga (jika sudah punya jodoh *eh), dan mungkin pahala karena ikut promosikan situs. Tapi tak apalah, situs ditaruh agar kita sama- sama bisa menunjuk hal yang riil dan tidak ngawang.

Andaikan saya ingin menyewa tanah untuk usaha, dengan mengetahui informasi- informasi tersebut, hal mendasar untuk dilakukan adalah kroscek kebenaran dan validitas produk. Jika memang membutuhkan, penting untuk mempelajari situs dengan cermat dan membandingkan lokasi. Semoga saja situs seperti memberikan kita “daya jelajah” yang baik tentang memilih dan memilah properti. Catatan yang pasti, janganlah menumpuk properti atau akan merosot nilainya karena harus banyak merawat. Ingatlah pada orang- orang di luar sana yang masih membuthkan ruang untuk rumahnya. In short, again the main message is learning to be wise. Human is an economical craft. 

 

jual rumah jakartajual rumahBanyak cara diakukan dalam menghadapi masalah “kelangkaan” kesediaan lahan. Sebut saja misalnya yang terjadi di kawasan JABODETABEK. Beberapa riset properti menunjukkan makin melambungnya harga properti sejalan dengan meroketnya harga tanah dan kebutuhan masyarakat akan properti. Definisi properti semakin hari semakin manjadi pergulatan diantara istilah- istilah lainnya yang juga kian tersosialisasi dengan sendirinya. Misalnya jika ingin jual rumah dan mungkin juga penyedia jual beli setipe ini (perlu kajian lagi) menawarkan harga khas daerah aglomerasi. Fasilitas yang ditawarkan tentunya juga tidak main- main seperti ruang, lingkungan strategis, tampilan taman, dll. Esensi rumah menjadi hal yang ramai dibicarakan mengingat jamak dimaknai bahwa semakin melambungnya harga adalah logis adanya. Sebagai orang yang terus juga mengamati perkembangan kota Jogja, fenomena yang sama mungkin saja akan terjadi mengingat jual rumah jakarta dan promo setipe memberikan kita gambaran kondisi perkotaan dewasa ini. Jika Jogja pernah diguncang dengan ide soal orang menjual rumah plus sekalian mendapat istri, kelak kita akan menemui suasana aglomerasi akan menimbulkan ide- ide “logis” lainnya tentang “kelangkaan” ruang. Agaknya patut direnungkan bahwa harga mahal pada properti juga lebih pada “kelangkaan’ akses masyarakat pada jenis properti itu sehinga muncul prestige tersendiri dalam memaknai perkembangannya.

Contoh lain jika kita ingin ke Bali, hal berbeda ditemukan. Bukan jual rumah yang populer disana namun properti kelas wow lainnya yaitu villa atau sewa hotel. Misalnya cukuplah googling via penyedia jasa travel atau situs resmi lainnya. Ini adalah contoh situs rumah123.com dan sejenisnya. (Haha ini kok seperti iklan lama- lama, tapi marilah pelajari saja). Contoh riil yang tak terbantahkan kemudian yang perlu diantisipasi. Jika rumah dijual itu masih logis, tapi jika suatu wilayah memiliki berbagai jenis properti dengan pemilik yang itu- itu saja kelasnya, ada penumpukan properti dan kemudian ruang yang tersedia harus bagaimana? Buy wisely, learn wisely, use space wisely too. It is a homework!

*) silahkan coba pelajari dan saya nanti responnya

Hah? Memangnya kita bukan orang? Kok belajar menjadi orang?

Bukan begitu. Kita ini sudah orang, tapi apakah hati nurani kita juga sudah semestinya hati nurani orang? Saya belajar tentang bagaimana manusia menghadapi silaunya dunia dan terkadang lupa bahwa ada khasanah yang lebih penting dari sekedar materi, khasanah tentang bagaimana menjadi sebenar- benarnya “orang”.

Ketika ada sebagain orang menghabiskan makannanya, kita juga bisa mendapati ada sebagian orang merasakan kelaparan sejati. Pesannya sederhana, mengetuk hati nurani. Misalnya juga bagaimana kita bertoleransi, mengecilkan volume saat sedang asyik nonton film di gadget sendiri. Dan salah satu yang juga mengena adalah

“Jangan biarkan amarahmu terlihat di ruang publik. Temukan tempat lain untuk kamu bisa berdebat dengan seseorang tanpa perlu membuat yang lain merasa tidak nyaman.”

Sumber: Bisa juga cek ya di http://Hello-green-world.sharethisstory.net/id-331112-2346?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign=

Untitled1Well, dunia backpacking ternyata menjadi dunia yang mengasyikkan sampai kapanpun. Dunia semakin terasa “mudah” karena akses teknologi informasi yang ada. Pengetahuan baru, kuliner baru, tantangan baru, kawan baru, siapa yang tidak ingin itu semua. Saya belum mencapai Eropa dan Amerika, tapi ada banyak tips yang bisa dipelajari terlebih dahulu. Ini link- link yang semoga bermanfaat buat kamu yang muda saatnya hadapi dunia!

1. http://Hello-green-world.sharethisstory.net/id-331112-2352?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign=

2. http://www.hostelworld.com/blog/what-nobody-tells-you-about-backpacking-in-europe-/158638

Hoho, ternyata kebiasaan tidak menyentuh lawan jenis juga terjadi di India, jangan memberikan tip saat menggunakan jasa restoran atau taksi di Jepang, tidak melingkarkan telunjuk dan jempol untuk bilang OK saat di Turki. What a fun world we have. So unique!

Jadi kapan mau keliling dunia? Sekarang harus dimulai!

C.A.L.E.N.D.A.R

August 2016
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

C.A.T.E.G.O.R.I.E.S.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,843 other followers

Follow Mie2gination's Blog on WordPress.com

Follow The Author

Follow My Youth Movement :ASEC (Actual Smile English Club)

Kumpulan Penelitian Emmy Yuniarti Rusadi

RSS BBC News-Technology

Mie2gination Accessors

MyLibraryThing

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,843 other followers