mie2gination

H.M.I (Hidup Mahasiswa Indonesia)

In B.R.A.N.K.A.S T.U.L.I.S on March 12, 2012 at 8:31 am

H.M.I (Hidup Mahasiswa Indonesia) Coba teriakkan sekali lagi wahai pejuang!

Tidak peduli apa pilihan gerakanmu, teriakkan H.M.I! pekikan semangat itu tidak hanya dengan kepalan tangan, tetapi kumpulan prestasi. Begini kawan, ini sebenarnya persoalan zaman. Dia tidak lagi mau mendengarkan siapa bicara apa. Tetapi siapa menghasilkan kerya apa. Boleh jadi dahulu, kepalan tangan ke atasmu itu masih mungkin didengar, tetapi sekarang, jangan harap. Mungkin kita lupa bahwa pemimpin sudah lama tuli. Tapi jangan menghakimi begitu juga. Masih ada beberapa pemimpin yang sejatinya mendengar, tetapi masih berpikir bagaimana menjawab tuntutan-tuntutan yang kawan-kawan suarakan. Meneriakkan Hidup Mahasiswa Indonesia memang menciptakan kebanggaan tersendiri. Seperti berada pada puncak spirit dan manifestasi eksistensi. Tetapi teriakan itu juga yang sekarang ini kawan-kawan gemari sebagai kamuflase jati diri. Lupa pada esensi siapa itu mahasiswa sembari meneriakkan panggilan-panggilan ‘unik’ pada pemimpin negara. Ya, mungkin sudah zamannya mahasiswa lupa diri (?). Masih banyak harapan bagi kita untuk tidak terjebak dalam kerumunan emosi. Tidak apa kawan-kawan turun ke jalan, tampil di bundaran-bundaran, hingga persimpangan. Tetapi ingat bahwa rakyat menunggu kabarmu di TV-TV lokal dan nasional, menyelakan waktu mendengarkan kabar dari radio-radio disela kesibukan. Tentunya mereka kecewa jika calon pemimpin yang meneriakkan ‘Hidup Mahasiswa Indonesia’ pulang dengan suara habis namun semu hasilnya, tampak egois. Tetaplah bertanggungjawab dengan bangku kuliahmu yang menyaratkan orang tua memikul pikiran lahir batin. Ini adalah pertaruhan masa yang turut menentukan masa akan datang. Ini sebuah renungan untuk kawan seperjuangan, tidak ingin aku berdiri sendiri di masa depan tanpa teriakan kalian sekali dua kali bahkan berkali-kali dengan luapan kemenangan: Hidup Mahasiswa Indonesia! Hidup Manusia Indonesia!

Momen Ahad, 11 Maret 2012, jam 13.37

Emmy Yuniarti Rusadi

Rakyat Teriak: Tanah Untuk Rakyat!

In Uncategorized on March 12, 2012 at 8:28 am

FAKTA ANAK JALANAN DAN SENIMAN JALANAN YOGYAKARTA (POTRET KEMISKINAN DI KOTA PENDIDIKAN)

In Uncategorized on March 8, 2012 at 2:51 am

*) Mari kita hormati karya cipta orang lain dengan mencantumkan sumber data.Semoga bermanfaat

 

 

 

 

FAKTA ANAK JALANAN DAN SENIMAN JALANAN YOGYAKARTA (POTRET KEMISKINAN DI KOTA PENDIDIKAN)

 

 

Image

 

Emmy Yuniarti Rusadi

08/269141/TK/34290

Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota

Fakultas Teknik

 

 

Universitas Gadjah Mada

2011

 
   

 

 

FAKTA ANAK JALANAN DAN SENIMAN JALANAN YOGYAKARTA (POTRET KEMISKINAN DI KOTA PENDIDIKAN)

 

            Topik ini merupakan topik kuliah pertemuan mata kuliah Etika Perencanaan, kedua sebelum pertemuan terakhir Desember 2011. Topik yang disampaikan salah satu tim presentator. Paper ini dimaksudkan menjelaskan apa saja yang dapat saya ambil pelajaran dari materi yang disampaiakan sekaligus pandangan saya mengenai persoalan kemiskinan yang berdampaka pada munculnya anak jalanan dan seniman jalanan.

            Akan lebih memperjelas, saya coba mengingat kembali definisis kemiskinan sebagai berikut:

 

Kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. (Wikipedia).

 

Kemudian terdapat hal yang menyinggung hubungan pertanian di daerah rural dengan kemiskinan di Indonesia. Menurut BPS, kantong penyebab kemiskinan desa umumnya bersumber dari sektor pertanian yang disebabkan ketimpangan kepemilikan lahan pertanian. Kepemilikan lahan pertanian sampai dengan tahun 1993 mengalami penurunan 3,8% dari 18,3 juta ha. Di sisi lain, kesenjangan di sektor pertanian juga disebabkan ketidakmerataan investasi. Alokasi anggaran kredit yang terbatas juga menjadi penyebab daya injeksi sektor pertanian di pedesaan melempem. Tahun 1985 alokasi kredit untuk sektor pertanian mencapai 8% dari seluruh kredit perbankan, dan hanya naik 2% di tahun 2000 menjadi 19%. (http://www.analisadaily.com/news/read/2011/08/21/9512/ekosistem_agraris_memerangi_kemiskinan_kota/#.TwzZ7qXt89o, oleh Ir. Tauhid Ichyar, MT,  diakses 20 Desember 2011)

 

1)     Sebutan oleh penulis, istilah marjinal dipakai karena kaum jalanan sejatinya masih memiliki potensi dan dapat diarahkan dengan solusi yang tepat

 

 

            Saya kira benar adanya jika kaum marjinal 1) merupakan efek rantai dari kemiskinan kota. Kemiskinan ini disebabkan karena ketidakmerataan peluang kerja bagi penduduk desa. Ikon kota sebagai pusat segalanya belum tergeser oleh peran desa yang notabene peran ekonomis agrikulturnya lebih besar. Pola pikir untuk menggarap lahan pertanian menjadi semakin rendah karena dianggap tidak berintelek dan kurang menjanjikan.

            Titik-titik persimpangan di kota Yogyakarta memang masih menampakkan fakta-fakta seperti anak jalanan dan seniman jalanan. Secara hukum, tentunya mereka tidak melanggar apapun kecuali jika terdapat perbuatan kriminal yang dilakukan. Secara etika lah yang menjadi soal. Berikut hubungan antar elemen dalam hal etika:

  1. Secara etika, pekerjaan jalanan seperti meminta-minta dan mengamen ala kadarnya merupakan pekerjaan yang tidak meninggikan derajat seseorang. Pelaku akan menjadi korban sosial pada dasarnya, karena pekerjaan tersebut dinilai merendahkan diri.
  2. Secara etika, pemilik finansial lebih besar semestinya dapat menjadi pemecah masalah dengan program filantropi atau sejenisnya. Membangunkan dan mengusulkan swa-kelola bagi kaum marjinal tersebut.
  3. Secara kelembagaan, dinas sosial kota Yogyakarta memiliki peran paling besar bertanggungjawab mengurusi kaum marjinal tersebut sebagaimana UUD mengamanahkan anak terlantar dipelihara negara.

 

Lalu bagaimana masalah dan solusi bertemu? Apa hubungannya dengan etika dalam perencanaan?

 

  1. Etika perencanaan menekankan pada cara-cara menyelesaikan masalah yang tidak hanya berkutat pada logika/rasio, tetapi pada hal “apa yang seharusnya terjadi”. Dengan begitu perencana kota mampu menempatkan akar masalah dari tinjauan-tinjauan obyektif, misalnya masalah kemiskinan kota ini terjadi karena hubungan ekonomi desa-kota yang tidak beres. Terdapat ekspansi terlalu besar oleh populasi kaum marjinal ke kota tanpa tingkat edukasi yang cukup.
  2. Aturan pengentasan kaum marjinal dengan pembangunan hunian sementara atau rumah singgah sudah ada dan dilakukan, tetapi jika hal ini dipahami hanya pada batasan penyediaan infrstruktur, tidak akan bertahan lama. Etika perencanaan menempatkan dirinya pada pemahaman bahwa masalah kemanusiaan jauh lebih utama daripada sekedar penyanggupan pelaksanaan fisik suatu aturan negara. Tidak dijalankan akan mendatangkan hukuman, tetapi etika menempatkan penyelesaian yang jauh lebih berkesinambung dan berkelanjutan.
  3. Apakah dengan menjalankan etika pelaku etis tidak mendapatkan apa-apa?

Tidak. Letak keberhasilan perencanaan kota ada pada tingkat-tingkat kesadaran yang tinggi. Sebagai contoh, adanya koran untuk kaum tunawisma di USA, menjadi salah satu contoh bahwa gerakan moral seseorang menyelamatkan kaum marjinal melalui ide kongret. Profit bagi hasil di dapat, kaum tunawisma pada 2 tahun pertama bebas menjadi warga normal dengan kerja keras (cerita berdasar Washington Post 2008).

 

Jadi, apa kesimpulan dari paper ini?

  1. Rasional memang menjadi kendali utama dalam menjalankan perencanaan kota dan mengurusi hal sosial kemiskinan, tetapi etika jauh lebih bernilai dan berkelanjutan. Moral menjadi bagian penting dalam pengatasan masalah.
  2. Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan yang seyogyanya mampu melahirkan ide-ide etis penyelesaian masalah kemiskinan. Hadirkan ide kongret, tidak hanya penyanggupan pelaksanaan aturan negara.
  3. Ide-ide yang sesuai dengan etika perencanaan memang belum memiliki parameter keberhasilan tertentu. Tetapi cara ini efektif untuk menyelesaikan masalah sosial. Sentuhan moral jauh lebih mudah diingat dibanding sentuhan fisik semata.

            Demikian paper ini ditulis. Semoga terdapat tindak lanjut diskusi ataupun pemunculan ide berikutnya yang terkait. Terimakasih

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.